atas1

Para Santri Tak Perlu Diragukan Lagi
Menag Sampaikan Orasi Kebudayaan di Ponpes Al Munawwir Krapyak

Rabu, 10 Okt 2018 | 18:58:12 WIB, Dilihat 763 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Para Santri Tak Perlu Diragukan Lagi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, Rabu (10/10/2018). Usai memukul bedug, Menag naik andong menuju lokasi festival santri. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Pulang Haji Iman Harus Meningkat


KORANBERNAS.ID – Pengalaman maupun wawasan para santri tidak perlu diragukan lagi, sebab mereka selalu digembleng melalui tradisi pesantren dengan disiplin keilmuan sangat ketat.

Demikian pula soal Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pemilu Presiden (Pilpres), pasti mereka memiliki wawasan yang cukup.

“Santri sudah cukup punya pengalaman untuk bagaimana menggunakan hak pilih, baik untuk memilih wakil-wakil rakyat di pemilu legislatif maupun memilih presiden di pemilu presiden,” ungkap Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama (Menag) RI menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (10/10/2018).

Usai membuka Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, Menag menegaskan berbekal pengalaman  dan wawasannya  para santri pasti bisa menentukan pilihan yang tepat.

“Para santri bisa membedakan mana yang terbaik serta mana yang paling memberikan harapan sehingga aspirasi kaum santri itu bisa dipenuhi oleh para calon,” kata Lukman Hakim Saifuddin.

Yang pasti, dia berharap jalannya Pemilu 2019 yang berlangsung serentak aman dan berjalan baik. “Mudah-mudahan pemilu legislatif maupun pemilu presiden berlangsung dengan  baik. Semoga tidak ada hal-hal yang kita khawatirkan, meski berbeda pilihan jangan sampai mengganggu persaudaraan kita,” tandasnya.

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara bertema Islam, Kearifan Lokal dan Tantangan Kontemporer kali ini merupakan kegiatan dalam rangka Road to Hari Santri 2018 yang diadakan oleh Kementerian Agama.

“Semoga muktamar ini dapat menjadi ajang para pemikir pesantren untuk menuangkan gagasan ilmunya dalam beberapa bidang,” kata Menag.

Muktamar berlangsung tiga hari 10-12 Oktober 2018 di kompleks Ponpes Krapyak Yogyakarta. Tema tersebut diangkat sebagai wujud tantangan pesantren dalam merespons persoalan kebangsaan dan keagamaan yang sedemikian kompleks.

Apalagi, lanjut dia, medan pergulatan wacana sudah semakin meluas seiring dengan menguatnya gerakan radikalisme, ekstremisme hingga ideologi Islam Transnasional yang semakin mendistorsi pemahaman keagamaan muslim Indonesia yang lekat dengan nilai serta kearifan lokal.

Dalam konteks inilah pengarusutamaan pesantren sebagai subkultur perlu ditingkatkan, dengan mendayagunakan kaum santri untuk turut serta mengukuhkan identitasnya sebagai agen perubahan sosial, alih-alih sebagai medium transfer pengetahuan.

Berangkat dari tradisi keberagamaan yang moderat sesuai dengan dogma Sunni yang selama ini dianut kalangan pesantren, kaum santri memperkenalkan suatu pemahaman keagamaan yang segar, dinamis, tak terjebak dalam dualisme ifrath dan tafrith, serta mampu mendamaikan kutub tekstualisme di satu sisi dan liberalisme di sisi lain.

Pada Presentasi Paper Pemikiran Santri Nusantara di Komplek Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum ini, terdapat 170 presentator yang terdiri dari perwakilan pengurus pesantren, mahasiswa, akademisi, peneliti.

Dua bulan sebelumnya, dalam Call for Paper ada lebih dari 1.000 abstrak paper yang masuk ke meja panitia, namun yang terseleksi hanya sekitar 170 saja.

Usai orasi kebudayaan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku keynote speaker, muktamar dilanjutkan tiga panel yang terdiri dari Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof Phil Kamaruddin Amin, Duta Besar Inggris Muazzam Malik, Directur Official Leiden University Marrio Ballen, ulama dari Universitas Al Azhar Syekh Bilal Mahmud Ghanim serta ulama Ma'had Ali Ibrahimy KH Afifuddin Muhadjir.

Rangkaian acara tersebut juga dimeriahkan Malam Kebudayaan Pesantren yang digelar Rabu (10/10/2018) malam di Panggung Krapyak Yogyakarta.

Acara ini diisi Orasi Kebudayaan oleh Menteri Agama, pembacaan puisi oleh para budayawan seperti Gus Hilmy, Romahurmuzy, Abidah El Khaliqie, Sosiawan Leak, Helvy Tiana Rosa, Candra Malik, Inayah Wahid, Habiburrahman El-Shirazy.

Tampil pula penyanyi musik religi Veve Zulfikar, Komika Dzawin, rapper santri Ikhsan & Danang. Paduan suara theme song Hari Santri unjuk gigi menampilkan aksinya di acara Malam Kebudayaan Pesantren itu yang diikuti oleh ribuan santri dan masyarakat umum.

Selain itu digelar juga Festival Serban & Pegon Kiai di Lapangan Ali Maksum Krapyak. Ditampilkan beraneka benda bersejarah yang biasa dipakai oleh orang-orang pesantren, dan kitab-kitab karya kiai pesantren yang berbahasa pegon atau lokal. (sol)



Senin, 08 Okt 2018, 18:58:12 WIB Oleh : Endri Yarsana 773 View
Pulang Haji Iman Harus Meningkat
Kamis, 04 Okt 2018, 18:58:12 WIB Oleh : warjono 727 View
Mendikbud Sebut Batik Itu Unik
Kamis, 04 Okt 2018, 18:58:12 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 1096 View
Lansia Dianggap Coro Mlumah

Tuliskan Komentar