atas1

Para Penyair Membaca Puisi Gunung Api

Senin, 17 Jun 2019 | 20:43:42 WIB, Dilihat 644 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Para Penyair Membaca Puisi Gunung Api Daladi Ahmad. (istimewa)

Baca Juga : Sudah Bayar Lunas Air Belum Mengalir


KORANBERNAS.ID -- Iman Budhi Santosa, seorang penyair dari Yogyakarta yang aktif menulis puisi sejak awal 1970 semasa Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, sampai sekarang masih terus menulis puisi.

Dia dijadwalkan tampil membacakan puisi karyanya bersama sejumlah penyair lain dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa pada acara Sastra Bulan Purnama edisi 93, Rabu (26/5/2019) pukul 19:30 di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Tembi Timbulharjo Sewon Bantul.

Bertajuk Membaca Puisi Membaca Gunung Api, acara ini  diisi peluncurkan antologi puisi berjudul Cincin Api yang ditulis 34 penyair dari berbagai kota di Indonesia.

Daladi Ahmad, seorang penyair dari Magelang yang sehari-harinya guru SMP di Ngluwar akan membawakan dua lagu puisi karyanya. Daladi memang sering tampil di Sastra Bulan Purnama.

Penyair dari Riau, Panggung Toktan, juga akan menampilkan musikalisasi puisi dan seorang penampil dari Sumatra barat menyajikan satu nomor pantomin.

Para pembaca lainnnya adalah Dheni Kurnia, Aris Abeba, Tien Marni (Riau), Syarifuddin Arifin, Moh Ibrahim Ilyas, Endut Ahadiat, Hermawan (Sumbar), Amrizal (Bengkulu), Anther Panther Olii (Manado), Umi Risa (Jawa Barat), Suharmono (Jawa Timur).

Ada juga Tjahjo Widarmanto (Ngawi), Nia Samsihono (Jakarta) dan Choen Supriyatmi (Yogyakarta) yang akan membacakan puisi karya Bambang Widiatmoko. Dua penyair tamu, Jassinsalleh serta AC Jeffry (Malaysia).

Iman Budhi Santosa selaku kurator buku puisi Cincin Api mengatakan, melalui antologi puisi bertemakan Erupsi dan Mitos Gunung Berapi ini sejumlah penyair mengangkat tema berkaitan dengan Gunung Merapi. Dengan adanya perhatian seperti itu Merapi jadi terkesan memperoleh posisi istimewa.

Iman Budhi Santosa. (istimewa)

“Padahal, keistimewaan Merapi dimungkinkan juga terdapat pada gunung berapi lain yang masih aktif di Indonesia dalam bentuk berbeda. Seperti Gunung Kelud, Semeru, Bromo, Galunggung, Pangrango, Tangkubanprahu, anak Krakatau, Kerinci, Sinabung, Soputan, Rinjani, Tambora dan lain-lain,” ujar Iman.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, Sastra Bulan Purnama sepanjang tahun 2019 diisi peluncuran antologi puisi, baik antologi tunggal karya seorang penyair maupun antologi puisi bersama.

“Juga akan diluncurkan kumpulan cerpen karya beberapa cerpenis perempuan dari Yogyakarta,” ujar Ons.

Pada Sastra Bulan Purnama memang tidak hanya ditampilkan puisi yang ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi juga puisi bahasa Jawa atau geguritan.

“Sastra Bulan Purnama juga membuka kemungkinan puisi yang ditulis dalam bahasa lokal lainnya untuk dibacakan,” jelas Ons.

Sastra Bulan Purnama terbuka juga meluncurkan karya novel, seperti Februari 2019 tiga novel karya Yudhistira Adinugara, Noorca Massardi, dan Ryani Massardi diluncurkan bersam.

Khusus novel karya Rayni Massardi diluncurkan secara surprise karena penulisnya tidak diberitahu novelnya akan diluncurkan bersama, sebab Rayni tahunya novelnya belum selesai. (sol)



Senin, 17 Jun 2019, 20:43:42 WIB Oleh : Masal Gurusinga 508 View
Sudah Bayar Lunas Air Belum Mengalir
Senin, 17 Jun 2019, 20:43:42 WIB Oleh : Sholihul Hadi 460 View
Kenapa Track Record Sosmed Calon KID DIY Harus Diteliti
Senin, 17 Jun 2019, 20:43:42 WIB Oleh : Prasetiyo 544 View
Pecahkan Rekor MURI, Lima Tokoh Baca Berita Bahasa Banyumasan

Tuliskan Komentar