atas1

Pamerkan Ribuan Karya Seniwati Ini Tak Mau Unjuk Diri

Kamis, 20 Jun 2019 | 20:13:16 WIB, Dilihat 483 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Pamerkan Ribuan Karya Seniwati Ini Tak Mau Unjuk Diri Konferensi pers menjelang Pameran Tunggal Serat Holistik Kehidupan di Jogja Gallery Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, Jumat (20/6/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : 115 Bintara Resmi Sandang Predikat Prajurit Infanteri


KORANBERNAS.ID – Umumnya sebuah pameran seni rupa apalagi pameran tunggal, seniman atau seniwati yang bersangkutan hadir di arena pameran untuk memberikan sambutan atau mendampingi seremonial pembukaan pameran. Sosoknya juga dinantikan oleh para pengunjung.

Tapi ada yang fenomenal saat digelar Pameran Tunggal bertajuk Serat Holistik Kehidupan di Jogja Gallery Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta yang dijadwalkan dibuka Sabtu (22/6/2019) dan berlangsung hingga 3 Juli 2019.

Sosok seniwati misterius, dalam tanda kutip, yang satu ini adalah Susilawati Susmono. Kali ini dia memamerkan ribuan karyanya, lebih tepatnya 3.682 karya seni antara lain terdiri dari 100 buku, Karya Ilmiah, Karya Sastra, Karya Seni Lukis, Karya Batik, Lagu serta Seni Tari & Rupa.

Dalam konferensi pers di Jogja Gallery, Kamis (20/6/2019), hampir semua pihak yang terlibat dalam pameran itu mengaku terkejut dan heran. Ini karena sang seniwati sama sekali tidak bersedia unjuk diri kecuali hanya lewat karyanya.

Baik itu penyelenggara Ir Sandra Rina Sahelangi MBA yang juga Ketua Yayasan Riyadhatul Ihsan, penanggung jawab acara Dr Ellisa Anggraeni STP MSc yang juga Direktur Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Tauhid Tunas Sejati, kurator Dr Mikke Susanto MA, humas dan publikasi Bima Himawan Ramantika ST MM maupun Mahendra Handoko SHI MH CIA CM SHEL, menyatakan benar seniwati itu tidak ingin unjuk diri.

“Ibu Susilawati hanya ingin dikenal melalui karya. Kami yang berada di depan ini hanya menjadi penghubung saja, untuk mengenalkan biografi maupun background,” ungkap Sandra Rina Sahelangi.

Sejumlah awak media rupanya belum berhasil mencaritahu sosok yang satu ini termasuk fotonya melalui mesin pencari google. Sulit menemukan sosok yang dimaksud.

Belum dapat dipastikan apakah saat pembukaan pameran yang diselenggarakan ISAQ Center & Yayasan Riyadhatul Ihsan itu seniman multitalenta tersebut bersedia hadir di tengah publik ataukah tidak.

Sandra pun mengakui dirinya sangat terpana saat dipercaya sebagai penyelenggara pameran. “Terpana itu yang kami rasakan saat diberikan kesempatan menjadi penyelenggara pameran karya Ibu Susilawati Susmono. Betapa mencengangkan saat melihat kualitas, kuantitas, bentuk, jenis dan tampilan karya,” ujarnya.

Hal ini karena pameran tunggal ini sangat fenomenal selain disajikan ribuan karya juga memiliki keragaman dan kedalaman makna. “Patut kami katakan yang disuguhkan adalah mahakarya yang hanya bisa diselesaikan dengan dengan kecermatan dan ketelitian yang presisi serta memerlukan kesabaran sangat tinggi,” tambahnya.

Selain menghasilkan karya sastra, Susilawati juga menghasilkan kajian Al Quran. Masih ada lagi jejak penulisan 100 buku karyanya yang dipublikasikan dalam waktu 17 tahun, bahkan ada karya yang ditulis dalam kurun waktu 24 tahun.

Suasana ruang pameran sebelum dibuka untuk pengunjung 22 Juni 2019. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Sejumlah tokoh terkemuka seperti psikolog Prof Djamaludin Ancok PhD dan Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberikan pujian melalui sambutan tertulis pada buku katalog pameran.

Dr Mikke Susanto MA menuliskan, Susilawati  meninggalkan profesinya di perbankan sejak 1999. Selain menulis seratusan buku tauhid dia juga menggagas banyak seminar nasional.

Dari pameran ini terlihat seni menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseluruhan dimensi kehidupan masyarakat muslim. Seni dan agama bertemu dalam satu jiwa.

Pameran ini digelar sebagai sumbangsih dan karya nyata Susilawati Susmono, untuk semua kalangan dan komponen bangsa, pelajar, mahasiswa, masyarakat, profesi, lintas lembaga, lintas agama bahkan dunia.

Karya-karya tersebut merupakan hasil perenungan yang mendalam, sejak 2001 sampai 2019 telah melahirkan total sebanyak 3.680 karya yang terdiri dari 100 Buku, 588 Karya Sastra, 43 Lagu, 15 Tari, 2,479 Serat Al Quran, 285 Manuskrip Serat, 130 Lukisan, 24 Guci, 12 Teko Kaca, 1 Tugu Serat dan 3 desain motif Batik.

Selain itu, sudah lebih dari 90 event yang digagas dan dilaksanakan baik berupa forum ilmiah seperti seminar, workshop, simposium, lokakarya maupun art performance.

Semua karya memiliki makna dan merupakan jembatan bagi orang-orang yang ingin mencari jati dirinya yang sejati serta menjadi warisan yang sangat tinggi nilainya bagi anak cucu, bangsa serta dunia.

Menurut Mikke, pesan-pesan yang disampaikan melalui pameran dapat mengedukasi para pengunjung terutama bagi yang berminat untuk menempa pribadinya dan membangun karakter yang unggul agar bangunan karakter tersebut dapat selesai.

“Baik yang sudah selesai maupun yang belum terbangun kedua-duanya dapat hadir dan memanfaatkan ruang dan waktu yang sangat singkat selama sepuluh hari,” kata dia.

Mikke Susanto mengakui pameran ini agak lain karena yang berpameran unik, mulai berkarya seni rupa tahun 2018, sebelumnya berkaya di seni tari dan musik.

“Saya terkejut dan bimbang sejak awal. Karyanya lebih banyak bicara esensi ketauhidan. Perupa yang baru belajar, biasanya menggambar pemandangan atau sosok orang. Ini nggak. Beda ini. Karyanya tidak ada sosok bentuk manusia dan binatang kecuali yang paling dekat gunung dan bunga. Bukan persoalan goresan yang bagus tapi dari sisi bentuk memiliki ciri khusus tersendiri, tidak meniru orang lain,” paparnya.

Dia menegaskan pameran ini sejatinya bukan seni rupa tetapi seni visual. Tidak semua pelukis bisa melakukan itu, betapa besar energinya di sela-sela menulis buku.

“Dengan media apapun bisa. Warna apa saja bisa. Perasaan saya campur aduk pada pameran ini maka saya putuskan wajjb membantu setelah pergulatan panjang sejak dua bulan lalu,” kata dia.

Buku karya Susilawati Susmono dipamerkan di Jogja Gallery. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Bima Himawan Ramantika menambahkan saat acara pembukaan ditampilkan beberapa karya dalam bentuk art performance dengan menampilkan Saskia Tasnim Utami, ISAQ Talent serta didukung oleh Tim Budaya Pathok Negoro Plosokuning.

Pameran pertama ini diadakan di Yogyakarta karena ada keterkaitan dan kedekatan dengan nenek moyang sang pelukis kelahiran Sungailiat Bangka 6 Agustus 1966 yang bergelar Raden Nganten (R Ng) itu.

Sedangkan sebagai acara harian selama pameran berlangsung diselenggarakan sesi-sesi yang menarik antara lain Tur Berpemandu, mini art performance dan Bedah Serat Holistik.

Khusus pada 22 dan 29 Juni 2019 berlangsung outdoor art performance di pelataran Jogja Gallery. “Kami mengajak Bapak,Ibu, Saudara sekalian untuk menikmati pameran ini serta Mengenal Bongkahan Emas dan Permata Diri, Bangsa dan Dunia,” sambung Sandra Rina Sahelangi.

Dia berharap pesan-pesan yang sangat dalam di setiap karya dapat tersampaikan, gaungnya mampu menggetarkan pelosok negeri dan mengingatkan semua pihak agar selalu menyadari eksistensi manusia yang hakiki sehingga dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa dan dunia. (sol)



Kamis, 20 Jun 2019, 20:13:16 WIB Oleh : Redaktur 479 View
115 Bintara Resmi Sandang Predikat Prajurit Infanteri
Kamis, 20 Jun 2019, 20:13:16 WIB Oleh : Redaktur 291 View
Satgas Pamtas Siap Berangkat ke Merauke
Rabu, 19 Jun 2019, 20:13:16 WIB Oleh : Redaktur 1059 View
Pakai Pupuk Ini Tanah Lebih Gembur

Tuliskan Komentar