pabrik-minyak-kayu-putih-tetap-esksis-saat-pandemiKunjungan Komisi B DPRD DIY di pabrik minyak kayu putih. (istimewa)


sholihul

Pabrik Minyak Kayu Putih Tetap Esksis Saat Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL – Tidak sedikit pabrik dan perusahaan di Provinsi DIY kelimpungan menghadapi guncangan pandemi virus Corona atau Covid-19 kurun waktu empat bulan terakhir. Namun pabrik minyak kayu putih Sendang Mole di area hutan Gading Playen Gunungkidul ini tetap eksis berproduksi hingga kini.

Bahkan pabrik yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY ini mampu berproduksi 18 ton per hari. “Setahun ini kami bisa produksi minyak kayu putih 21 ribu liter,” ungkap Sutarto, Kepala DLHK DIY, saat menerima kunjungan kerja Komisi B DPRD DIY, Jumat (3/7/2020).


Baca Lainnya :

Bahan baku bukan lagi jadi persoalan karena cukup dipasok dari kawasan hutan sekeliling lokasi pabrik seluas 1.500 hektar di wilayah Kecamatan Playen, sebagian Nglipar serta sebagian kecil Panggang.

Menurut Sutarto, keberadaan pabrik penyulingan minyak kayu putih menguntungkan masyarakat setempat. Selain bekerja menjadi pemungut daun mereka juga dipersilakan memanfaatkan limbahnya untuk kayu bakar serta usaha industri rumah tangga pabrik tahu.


Baca Lainnya :

Pabrik ini Selain itu, juga memberikan pemasukan cukup fantastis ke Pemda DIY sebesar Rp 10-11 miliar setahun. Hanya saja pandemi Covid-19 sedikit mempengaruhi produksi disebabkan agak terlambat memulai memasak daun kayu putih sehubungan adanya redesain APBD DIY 2020 untuk penanganan pandemi.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, RB Dwi Wahyu B menyatakan menaikkan PAD bukan perkara gampang. Persoalannya, upaya menambah luas lahan hutan kayu putih terkendala aturan yakni hanya boleh menggunakan 20-30 persen dari lahan hutan jati.

Kendala lain, pohon bernama Latin Melalauca leucadendron Linn itu tidak bisa tumbuh terhalang pohon lain. “Perlakukannya beda, harus terbuka tidak tertutupi rimbun daun lain. Ketika nabrak pohon jati, tidak bisa,” ungkapnya.

Ketua Komisi B DPRD DIY Danang Wahyu Broto menambahkan komisi yang bertanggung jawab mengurusi pendapatan, keuangan, aset, pariwisata, pertanian, UKM, koperasi dan kelautan ini sepenuhnya mendukung rencana perluasan pabrik yang terkesan sumpeg itu.

Apalagi DLHK DIY termasuk salah satu instansi Pemda DIY penyumbang PAD lumayan besar. “Bicara Covid-19 minyak kayu putihnya harusnya laris,” kata dia.

Ke depan, perlu ada sinkronisasi program dan kegiatan dengan instansi lain sehingga aset tersebut bermanfaat bagi masyarakat.

Turut serta dalam kunjungan kerja kali ini Sekretaris Komisi B, Atmaji, beserta anggotanya yaitu Tustiyani, Sudarto, Yuni Satia Rahayu, Agus Sumartono, Muh Ajudin Akbar, Hanum Salsabiela, RM Sinarbiyatnujanat, Aslam Ridlo, Nurcholis Suharman dan Widi Sutikno. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini