atas1

Nir Konsepsi

Sabtu, 22 Des 2018 | 01:48:30 WIB, Dilihat 512 Kali - Oleh Putut Wiryawan

SHARE


Nir Konsepsi

Baca Juga : Penyalahgunaan Obat, Tantangan Kita Semua


BULAN-bulan terakhir ini, jagat politik tanah air dipenuhi aroma tak sedap. Sumber aroma tak sedap itu adalah dua kubu yang akan saling berhadapan untuk merebut jabatan presiden. Sudah barang tentu rakyat ingin menyaksikan penampilan elegan masing-masing pasangan kandidat, menyampaikan rencana kerja mereka lima tahun ke depan yang dapat menumbuhkan harapan baru kehidupan mendatang, alih-alih yang didapat rakyat sebatas hanya ajaran cemoohan; saling ejek dengan kata-kata yang tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang pemimpin.

Kosa kata binatang seperti kecebong dan kampret mengawali kegiatan saling sindir antar-dua kelompok. Situasi tambah memanas ketika Jokowi kemudian melontarkan istilah sontoloyo dan genderuwo. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, sontoloyo bermakna tidak beres, konyol atau bodoh. Bila merujuk pada pengertian bahasa Jawa, sontoloyo adalah sebutan bagi penggembala itik. Merujuk pada pengertian mana pun, Presiden Jokowi ketika mengucapkan “sontoloyo” banyak dimaknai masyarakat sebagai ungkapan kejengkelan atau bahkan kemarahan atas perbuatan orang lain, yang dikonotasikan sebagai kubu lawan politik.

Demikian halnya ketika terungkap istilah “politikus genderuwo“. Istilah yang juga dilontarkan Jokowi dipakai untuk menuduh kubu Prabowo yang ia anggap menebar ketakutan bagi rakyat. Menurut Wikipedia, genderuwo adalah makhluk halus sebangsa jin yang dalam khasanah budaya Jawa dimaknai makhluk yang gemar menggoda perempuan dan anak-anak. Bertubuh besar, berbulu lebat, menakutkan. Dalam kalimat sederhana, dapat dikatakan genderuwo termasuk makhluk jahat.

Politikus sontoloyo atau politikus genderuwo terucap sebagai reaksi terhadap apa yang dilakukan kubu lawan politik Jokowi. Prabowo, sebagai lawan politik Jokowi, antara lain melontarkan istilah “tampang Boyolali” ketika meresmikan kantor tim pemenangan Prabowo-Sandi di Kabupaten Boyolali, pada 30 Oktober 2018. Pertanyaannya kemudian, pantaskah istilah “sontoloyo” dan “genderuwo” itu dilontarkan oleh seorang kandidat capres yang saat ini juga berkapasitas sebagai Presiden RI? Wakil Presiden Jusuf Kalla, menilai apa yang diungkapkan Jokowi tersebut sebagai kampanye negatif.

***

REAKSI kurang patut itu, tidak hanya dilontarkan Jokowi. Calon wakil presiden Ma’ruf Amin, yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia melontarkan pernyataan yang juga bernada marah. Ma’ruf melontarkan istilah buta dan budeg bagi mereka yang tidak dapat mengapresiasi kerja pemerintah selama empat tahun terakhir. Realitas ini semakin meneguhkan para pengamat untuk berpendapat, bahwa rakyat Indonesia telah disuguhi oleh isu-isu dengan kualitas rendah.

Kontestasi untuk menentukan siapa Presiden RI lima tahun mendatang, semestinya memang dipenuhi narasi yang mencerdaskan. Narasi yang juga seharusnya membangkitkan semangat nasionalisme setiap anak bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus menuju negara yang maju dan sejahtera. Jangankan menjadi bahan diskusi yang menarik bagi masyarakat, narasi itu hingga kini bahkan tidak juga muncul ke permukaan. Bahan diskusi yang ada sebatas kosakata rendahan.

Dalam masyarakat paternalistik, apa yang diucapkan pemimpinnya, secara cepat akan ditirukan oleh para pengikutnya, masyarakat pendukungnya. Mereka merasa sah mengumpat “sontoloyo” atau “genderuwo” untuk mengungkapkan kejengkelan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Sudah pasti, yang menerima umpatan pun tidak akan menerima begitu saja. Umpatan balik yang kadang lebih kasar pun terlontar. Situasi semakin bertambah panas. Setidaknya, hal itu yang dapat ditangkap melalui jagat media sosial dewasa ini.

Fakta sosial itu, sama sekali menghilangkan jejak bahwa bangsa ini sejatinya adalah bangsa yang relegius, atau setidaknya bercita-cita menjadi bangsa yang religius. Kalau menggunakan pendekatan konsepsi bahwa “bahasa menunjukkan bangsa”, tentu banyak orang sangat tidak rela bila diskursus yang berkembang sekarang melalui ‘umpatan’ sontoloyo atau genderuwo digunakan untuk menilai bangsa besar bernama Indonesia.

Politik, sejatinya erat kaitannya dengan kebijakan yang disusun untuk mencapai tujuan baik dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan bersama yang sejahtera, berkeadilan dan bermartabat. Sudah barang tentu, dalam pengertian politik kekuasaan, beradu pengaruh untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan, sah adanya.

Di situlah agaknya, konsepsi politik yang santun dan beretika perlu terus disemai, agar bangsa ini tidak makin terjerumus ke dalam kesengsaraan. Sebab, bagaimana pun pertikaian selalu menjatuhkan korban. Dan itu adalah rakyat! ***

 

 



Sabtu, 22 Des 2018, 01:48:30 WIB Oleh : Awan Pratama, SIP 770 View
Penyalahgunaan Obat, Tantangan Kita Semua
Jumat, 21 Des 2018, 01:48:30 WIB Oleh : Despan Heryansyah 753 View
Dualisme tanpa Dasar
Jumat, 21 Des 2018, 01:48:30 WIB Oleh : Nila Jalasutra 566 View
Ratusan PNS Pemkab Sleman Pensiun

Tuliskan Komentar