atas1

Ngotot Tolak Zonasi, Orang Tua Kirim Surat Cinta

Senin, 24 Jun 2019 | 01:48:01 WIB, Dilihat 349 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Ngotot Tolak Zonasi, Orang Tua Kirim Surat Cinta Para anggota Farmayo membubuhkan tandatangan di kain putih dalam aksi damai "Surat Cinta untuk Pak Menteri" di Perempatan Tugu Pal Putih Yogyakarta; Minggu (23/6/2019).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Kiai Jazir Ingatkan Pentingnya Lestarikan Pertemuan Trah


KORANBERNAS.ID -- Puluhan orang tua yang menamakan diri Forum Masyarakat Yogya Istimewa Peduli Pendidikan (Formayo) menggelqr aksi damai "Surat Cinta untuk Pak Menteri" di Perempatan Tugu Pal Putih Yogyakarta; Minggu (23/6/2019). 

Mereka membentangkan kain putih dan membubuhkan tandatangan sekaligus menuliskan keluh kesah akan kebijakan sistem zonasi yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (keme dikbud) RI dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari protes-protes sebelumnya. Mereka menolak penerapan sistem zonasi yang dirasa merugikan peserta didik di sekolah negeri.

Koordinator aksi, M Najib Saleh disela aksi mengungkapkan proses PPDB sekolah negeri tahun 2019 masih menyisakan banyak masalah. 

Diantaranya mendadaknya sosialisasi petunjuk teknis, kurangnya penghargaan terhadap prestasi calon siswa serta ketidakadilan dalam pembagian zonasi.

Karenanya mereka meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY untuk segera memperbaiki petunjuk teknis pelaksanaan PPDB SMA/SMK DIY tahun 2019. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran (SE) Mendikbud No. 3 Tahun 2019 sebagai revisi Permendikbud No. 51 Tahun2018 berupa penambahan kuota Jalur Prestasi sebesar 15 persen.

"Kami juga meminta Disdikpora DIY untuk memperbaiki pembagian zonasi agar lebih berkeadilan bagi semua pihak terutama masyarakat dan sekolah," paparnya. 

Perbaikan pembagian zonasi seyogyanya berbasis pada radius yang ditentukan secara adil dan transparan atau dikembalikan sesuai dengan pembagian zona pada Petunjuk Teknis tahun 2018 dengan perbaikan-perbaikan terutama pada daerah yang mengalami blankspot.

Dengan banyaknya masalah yang muncul, mereka meminta Disdikpora DIY untuk menunda proses pendaftaran PPDB SMA/SMK DIY 2019 sampai paling cepat 1 Juli 2019. Dengan demikian cukup waktu untuk sosialisasi petunjuk teknis yang baru.

Para orang tua juga meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk meninjau kembali pelaksanaan Sistem Zonasi dalam PPDB sekolah. Hal itu diperlukan agar sistem tidak merugikan masyarakat dan menurunkan kualitas pendidikan secara umum.

"Kami memohon Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk secara radikal melakukan perbaikan kualitas sekolah-sekolah di Indonesia, baik dari segi infrastruktur maupun SDM, sebelum menerapkan sistem zonasi PPDB," tandasnya.

Secara terpisah Kadisdikpora DIY, Baskara Aji mengungkapkan Pergub yang dikeluarkan Pemda DIY tidak menyalahi Permendikbud 51 maupun surat edaran Mendikbud RI.

"Surat edaran dikeluarkan hanya bagi daerah yang membutuhkan. Sebagian besar propinsi melaksanakan permendikbud 51 karena merasa sudah cukup ideal, dan bahkan sudah bisa menyelesaikan tahapan PPDB, wajar ada sebagian yang kepentingannya belum terwadahi, namun saya yakin siswa berprestasi di diy akan mendapatkan sekolah yang baik di diy," ungkapnya.

Tahapan PPDB, lanjut Aji sudah berjalan di DIY. Karenanya dia menghimbau semuanya untuk berkonsentrasi memberikan bantuan bimbingan dan menyemangati  anak-anak untuk memilih sekolah yang paling sesuai dengan pilihannya di zonasi yg sudah dibtentukan dalam juknis.(yve)



Minggu, 23 Jun 2019, 01:48:01 WIB Oleh : Arie Giyarto 452 View
Kiai Jazir Ingatkan Pentingnya Lestarikan Pertemuan Trah
Minggu, 23 Jun 2019, 01:48:01 WIB Oleh : Arie Giyarto 435 View
Pakai Kursi Roda, Lansia 83 Tahun Ini Rajin Pengajian
Sabtu, 22 Jun 2019, 01:48:01 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 2539 View
Siap-siap, Indonesia Bakal Produksi Massal Mobil Listrik

Tuliskan Komentar