atas1

Nasib PTS Pasca Pandemi Covid-19

Sabtu, 23 Mei 2020 | 00:59:17 WIB, Dilihat 1396 Kali
Penulis : Dr. Mochammad Syamsiro
Redaktur

SHARE


Nasib PTS Pasca Pandemi Covid-19 Mochammad Syamsiro (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).

Baca Juga : Relawan Dilatih Cara Merawat Jenazah Covid-19


SUDAH dua bulan lebih pandemi Covid-19 melanda negara kita sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret silam. Sampai detik ini, kita pun tidak tahu pandemi ini akan berakhir kapan. Ada banyak prediksi, kapan berakhirnya pandemi ini, tetapi kita semua tidak tahu prediksi mana yang tepat karena ada banyak faktor penentu, salah satunya kedisiplinan masyarakat dalam mengikuti anjuran dan kebijakan dari pemerintah, untuk menjaga jarak dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat.

Dampak pandemi sangat terasa sekali di berbagai sektor kehidupan. Apalagi wabah ini telah memaksa seluruh masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah, baik itu bekerja dari rumah maupun belajar di rumah. Sektor ekonomi menjadi yang sangat terasa dampaknya, karena banyak aktivitas ekonomi yang lumpuh akibat pandemi ini. Begitu pun terhadap kehidupan akademik kampus di Jogja. Ada lebih dari seratus perguruan tinggi yang beroperasi dan saat ini dalam kondisi was-was menghadapi badai pandemi ini.

Dengan keharusan untuk tetap di rumah, akhirnya memaksa seluruh kampus mengubah model perkuliahan, dari awalnya di kelas menjadi perkuliahan daring. Walaupun awalnya agak sedikit terbata-bata menghadapi situasi baru ini, para dosen dan mahasiswa perlahan-lahan dapat mengikuti ritme dan orkestrasi perkuliahan daring, tentunya dengan berbagai catatan. Dan ini nampaknya akan terus berlanjut pasca pandemi menjadi apa yang disebut dengan “the new normal” dalam kegiatan akademik kampus.

Namun tidak demikian yang menjadi permasalahan pokok yang dihadapi perguruan tinggi saat ini. Pandemi mengakibatkan sebagian orang tua mahasiswa terkena dampak secara ekonomi, sehingga kemungkinan ada sebagian mahasiswa yang tidak bisa melanjutkan perkuliahan atau mengambil cuti untuk beberapa saat sampai keadaan normal kembali. Dari survei beberapa perguruan tinggi, menunjukkan ada sebagian mahasiswa yang akan mengajukan keringanan biaya pendidikan selama kondisi wabah ini.

Yang kedua adalah, untuk calon mahasiswa baru yang akan melanjutkan studinya ke kota Jogja menjadi gamang melihat pandemi ini. Pilihan mereka adalah kuliah di kampung halamannya atau menunda kuliah sampai kondisi membaik. Ini sangat berdampak terhadap jumlah mahasiswa baru yang akan kuliah di Jogja. Bagi perguruan tinggi negeri (PTN) mungkin tidak begitu masalah karena secara finansial disokong oleh negara. Tetapi bagi perguruan tinggi swasta (PTS), ini menjadi masalah yang sangat besar, mengingat hidup matinya PTS ditentukan oleh ada tidaknya mahasiswa yang kuliah. Dan itu sudah dirasakan oleh PTS di negara lain seperti Australia dan Malaysia, yang sangat mengandalkan mahasiswa asing untuk menghidupi kampusnya. Begitu juga dengan PTS di Jogja yang sangat mengandalkan mahasiswa dari luar daerah atau kota, akan mengalami kesulitan yang sama. Dalam hal ini, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten harus juga memberikan kontribusinya dalam bentuk bantuan ke mahasiswa dan PTS, karena bagaimanapun juga hidupnya perekonomian di Jogja ini sangat tergantung dari kehadiran mahasiswa yang kuliah dan tinggal beberapa tahun di kota ini.

Tantangan PTS

Ada satu hal lagi yang belum banyak disadari oleh para pengelola perguruan tinggi maupun stakeholder terkait dengan perubahan pola pikir masyarakat akibat dari pandemi. Wabah ini telah memaksa seluruh pelajar dan mahasiswa untuk belajar secara daring, sehingga mereka semakin akrab dengan pembelajaran daring, baik melalui youtube maupun melalui aplikasi belajar daring. Saat ini, mereka sudah tahu bahwa mau belajar apapun sudah tersedia di internet, baik yang gratis maupun berbayar. Hal ini sesungguhnya menjadi ancaman baru bagi dunia perguruan tinggi, khususnya PTS. Hal ini akan mengubah pola pikir masyarakat secara umum bahwa untuk belajar apapun tidak harus kuliah di perguruan tinggi, tetapi cukup belajar secara daring karena semuanya tersedia.

Dan hal tersebut sudah diprediksi beberapa waktu lalu ketika era industry 4.0 datang dan mendisrupsi semua sektor, termasuk nantinya sektor pendidikan. Kondisi ini didukung oleh dunia industri. Beberapa perusahaan sudah tidak lagi mempersyaratkan gelar tertentu, tetapi cukup skill atau kompetensi yang dibutuhkan di perusahaan tersebut. Masyarakat merasa tidak perlu menghabiskan waktu 4 tahun kuliah untuk kemudian dapat bekerja di perusahaan.

Untuk itulah, PTS harus mempersiapkan dengan baik kondisi ini. Ada dua hal yang harus dilakukan oleh PTS. Pertama, kualitas konten-konten perkuliahan harus diperbaiki menjadi lebih baik daripada konten yang ada di internet saat ini. Perlu upaya besar dari para dosen untuk mengubah ini, tetapi ini bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Yang kedua, PTS harus mulai memikirkan menginisiasi model-model pembelajaran seperti di internet, dalam jangka waktu yang lebih pendek, seperti training dan workshop yang lebih mengarahkan pada penguasaan skill dan kompetensi praktis di industri. PTS harus melihat dengan jeli, apa yang menjadi kebutuhan dunia industri untuk tenaga kerjanya, sehingga akan lebih mudah terserap di dunia kerja. Hal ini tentunya harus didukung dengan regulasi dari pemerintah agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Epilog

Sebagai penutup, badai besar pandemi covid-19 ini harus dihadapi dengan melakukan adaptasi-adaptasi sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Hanya dengan itulah PTS akan tetap eksis dan bahkan ke depan menjadi semakin berkibar menghadapi tantangan zaman yang semakin tidak menentu dan penuh kejutan. ***

Dr. Mochamad Syamsiro

Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Janabadra, Yogyakarta.



Sabtu, 23 Mei 2020, 00:59:17 WIB Oleh : Sholihul Hadi 100 View
Relawan Dilatih Cara Merawat Jenazah Covid-19
Jumat, 22 Mei 2020, 00:59:17 WIB Oleh : Sholihul Hadi 614 View
Wanita Naik Mobil Hummer Bagi-bagi Uang Lagi, Kali Ini untuk Tenaga Medis
Jumat, 22 Mei 2020, 00:59:17 WIB Oleh : Nila Jalasutra 129 View
Dispar Sleman Ajukan Bansos untuk Pelaku Wisata Terdampak Covid-19

Tuliskan Komentar