atas1

Menikmati Karya Para Prajurit Muda Daga Palidh

Minggu, 16 Feb 2020 | 11:26:33 WIB, Dilihat 1053 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Menikmati Karya Para Prajurit Muda Daga Palidh Pengunjung menikmati karya-karya siswa SMSR Yogyakarta yang dipamerkan dalam Thayamadhi di Jogja National Museum. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Gowes Sambil Kenalkan Teknologi Nenek Moyang Bangsa


KORANBERNAS.ID, JOGJA -- Lebih dari 250 karya seni rupa memenuhi dua lantai ruang pamer Jogja National Museum (JNM) di Jalan Prof DR Ki Amri Yahya No1, Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. Lukisan dari berbagai media dan ukuran karya Desain Komunikasi Visual (DKV), fotografi, seni kriya kayu, kriya logam, tanah liat, batik hingga animasi itu layak untuk dinikmati.

Materi yang dipamerkan tersebut adalah karya siswa-siswi kelas XI yang tergabung dalam kelompok Daga Palidh Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Pameran bertajuk Thayamadhi ini berlangsung tiga hari, 14-16 Februari 2020.

Thayamadhi adalah bahasa walikan khas Jogja dari waradani yang merupakan penggabungan antara kata waragang dan dandani. Waragang artinya prajurit muda, sedangkan dandani berarti bersiap-siap. Sehingga Thayamadhi dapat diartikan prajurit muda yang sedang bersiap-siap.

Menurut Girindra Elang selaku ketua pameran, prajurit muda itu mereka umpamakan sebagai siswa-siswi SMSR Yogyakarta angkatan 2018-2021yang tergabung dalam kelompok Daga Palidh. Ia mengibaratkan setiap anggotanya adalah seorang prajurit muda yang berbekal ilmu seni rupa untuk berperang ke dunia luar.

"Maksud dari berperang ke dunia luar yaitu mampu bersaing dalam dunia kerja dengan tetap menempatkan diri kami sebagai praktisi seni yang terefleksi melalui karya dan kemampuan berseni rupa yang sudah kami pelajari selama dua tahun di sekolah," kata Elang di sela-sela pameran, Sabtu (15/2/2020) malam.

"Jadi pameran Thayamadhi ini adalah persiapan kami untuk bersaing di dunia kerja, yang merepresentasikan hasil belajar kami selama dua tahun di SMSR Yogyakarta," imbuhnya.

Beberapa karya Kriya siswa SMSR Yogyakarta yang dipamerkan dalam Thayamadhi di Jogja National Museum. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Sementara Iqbal Febriansyah, siswa jurusan lukis sekaligus wakil ketua pameran, mengakui belum semua angkatan 2018-2021 mau ikut serta berkontribusi untuk pameran ini. Masih ada saja yang beranggapan bahwa pameran tidak begitu penting. Meski demikian Ia dan tim tak henti-henti mengajak untuk membuat karya dan berpartisipasi dalam pameran.

"Dengan mediasi dan obrolan ringan, beberapa teman akhirnya mau membuat karya untuk dipamerkan kali ini, tapi memang tidak mudah. Padahal untuk ikut serta dalam pameran ini cukup dengan biaya yang relatif murah, yaitu Rp 50 ribu," kata Iqbal.

Persiapan selama empat bulan dirasakan Iqbal dan tim sangat mendesak. Terlebih mereka yang rerata siswa sekolah belum terlalu berpengalaman menyelenggarakan sebuah acara pameran besar. Publikasi pamflet yang sering ditimpa oleh pamflet acara lain yang lebih besar, menjadi persoalan tersendiri. Etika publikasi pada ruang publik memang semrawut.

"Biasa kami harus menempel ulang, atau mengiklaskan beberapa pamflet publikasi di tempat-tempat strategis yang sengaja ditimpa oleh acara lain. Hal lain yang tak terduga adalah hujan lebat dan angin kencang yang melanda Yogyakarta pada hari pertama pameran. Otomatis pengunjung pun sepi," akunya.

"Namun kami cukup senang. Beberapa seniman besar seperti Jumaldi Alfi dan Erizal As sudah menyempatkan diri untuk melihat pameran ini," lanjutnya.

"Dengan diadakannya pameran Thayamadhi ini, kami berharap supaya masyarakat tergugah semangatnya untuk berkarya dibidangnya masing-masing. Selain itu, kami harap masyarakat dapat menikmati beragam karya yang telah kami buat," tandasnya.

Tentang Daga Palidh

Daga Palidh adalah judul pameran perdana yang diciptakan oleh siswa-siswi SMSR Yogyakarta angkatan 2018-202. Sebelumnya pameran Daga Palidh ini diselenggarakan di Galeri Sasana Rupa pada tanggal 21 April 2019.

Kata Daga Palidh merupaka kreasi kreatif bahasa aksara walikan yang memiliki arti mata angin. Daga yang berarti mata, memiliki arti melihat berbagai macam pandangan mereka sebagai sebuah kelompok dan menjadi satu pandangan untuk menentukan tujuan. Kemudian palidh yang berarti angin, mereka artikan sebagai tekad yang kuat. Karena angin dapat menghembus segala hal tanpa batas dan pantang menyerah.

Jadi secara sederhana Daga Palidh berarti semangat pantang menyerah untuk menyatukan berbagai pandangan individu untuk satu tujuan. (eru)

 



Sabtu, 15 Feb 2020, 11:26:33 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 1942 View
Gowes Sambil Kenalkan Teknologi Nenek Moyang Bangsa
Sabtu, 15 Feb 2020, 11:26:33 WIB Oleh : Sari Wijaya 532 View
Kolam Renang Ini Lahirkan Atlet
Sabtu, 15 Feb 2020, 11:26:33 WIB Oleh : Sari Wijaya 389 View
Di Kabupaten Bantul Ada 3.725 Balita Stunting

Tuliskan Komentar