atas1

Menang Kalah Itu Biasa

Kamis, 18 Apr 2019 | 00:05:17 WIB, Dilihat 422 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Menang Kalah Itu Biasa Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019 di TPS 15 Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Lokasi TPS 15 sendiri berada di Ndalem Cokronegaran, Rabu (17/4/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Pemilih Sepuh Semringah, Bisa Nyoblos di Rumah


KORANBERNAS.ID -- Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan dalam Pemilihan Umum (pemilu) ini agar berjalan dengan damai untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik. Menang atau kalah tidak masalah.

"Siapapun pemimpin Indonesia selanjutnya diharapkan bisa membawa Indonesia lebih baik. Kalau ada yang menggugat usai pemilu ya sah saja karena ada undang-undang yang memungkinkan untuk itu," ungkap Sultan usai menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019 di TPS 15 Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Lokasi TPS 15 sendiri berada di Ndalem Cokronegaran, Rabu (17/4/2019). Sultan hadir bersama istri, GKR Hemas, anak-anak, menantu, dan cucu, Sri Sultan datang ke TPS Sekitar pukul 07.00 WIB.

Sultan dalam kesempatan itu berharap seluruh warga masyarakat menggunakan hak pilihnya. Sebab merekalah yang punya hak pilih dan menentukan pilihan.

"Saya kira menang kalah itu sesuatu yang wajar karena pilihan publik yang menentukan pasangan (presiden dan wakil presiden-red) dipilih atau tidak, ikhlas saja. Hanya mungkin kita perlu jujur. Dalam arti, kalau selisih suaranya besar, ya sudah. Tidak perlu untuk dikatakan kenapa saya harus kalah. Saya kira ya jujur saja," tandasnya.

Dalam Pemilu kali ini, nama Sri Sultan ada di urutan nomor 91 dan diikuti GKR Hemas di nomor 92. Saat mengambil surat suara, Sri Sultan tampak mengecek terlebih dahulu surat suara yang akan digunakannya.

Setelah memastikan tidak ada kerusakan, Sultan menuju bilik suara selama kurang lebih 10 menit dalam bilik suara. Sultan mengatakan, untuk pencoblosan surat suara presiden-wakil presiden dan DPD tidak membutuhkan waktu lama. Sebab selain jumlah calonnya sedikit, ukuran kertas juga tidak besar. Hal ini berbeda dengan kertas suara DPR RI, DPRD DIY, dan DPRD Kota Yogyakarta.

"Apalagi tidak ada gambar orangnya. Psikologi orang itu kan lebih mengenal wajah daripada nama. Kalau warga pemilih yang dari rumah belum memiliki pilihan, tentu agak susah mencari yang kira-kira dia pahami. Kalau saya, lebih cenderung menampilkan gambar orangnya daripada nama saja," paparnya.

Selain surat suara, lanjutnya, bilik suara juga tidak terlalu besar. Sehingga membuat proses membuka dan menutup surat suara yang berukuran besar membuatnya kesusahan.

"Kalau lebar bilik suara cukuplah, tapi panjangnya tidak sesuai dengan panjang kertas suara. Dengan biliknya seperti itu jadi kertasnya ketekuk-tekuk. Tidak ada kerusakan surat suara. Rusak, setelah saya coblos," imbuhnya.(yve)



Rabu, 17 Apr 2019, 00:05:17 WIB Oleh : W Asmani 405 View
Pemilih Sepuh Semringah, Bisa Nyoblos di Rumah
Rabu, 17 Apr 2019, 00:05:17 WIB Oleh : Nila Jalasutra 597 View
Ini Alasan Pangdam Pantau Pemilu di Sleman
Rabu, 17 Apr 2019, 00:05:17 WIB Oleh : Sari Wijaya 619 View
Masuk TPS Rutan Bantul Layaknya Resepsi

Tuliskan Komentar