atas

Memupuk Empati dari Festival Film Dokumenter

Kamis, 29 Nov 2018 | 23:29:19 WIB, Dilihat 267 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Memupuk Empati dari Festival Film Dokumenter Direktur Festival Film Dokumenter 2018 Ukky Satya, memaparkan garis besar pelaksanaan Festival Film Dokumenter 2018 mendatang, dalam acara temu media dan special screening film "Dream Away" di IFI-LIP jalan Sagan no 3 Yogyakarta. Rabu (28/11) Siang. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Ingin Berburu Nila, Datang Saja ke Dusun Ini


KORANBERNAS.ID-- Ada yang berbeda di gelaran Festival Film Dokumenter (FFD) tahun ini. Di tahun ke 17 penyelenggaraan, FFD menggandeng Voice Global untuk meluncurkan program jangka panjang bernamaThe Feeling of Reality. Program ini akan membicarakan fenomena “disabilitas” melalui medium virtual reality (VR). FFD berusaha mengajak penonton untuk mengalami disabilitas, diharapkan dengan mengalami disabilitas walau sebatas virtual mampu memunculkan empati dan kepedulian terhadap akses dan problematika yang dialami oleh teman-teman difabel. 

Festival Film Dokumenter (FFD) digelar pada 5-12 Desember 2018 di Taman Budaya Yogyakarta dan IFI-LIP Yogyakarta. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, FFD kali ini justru tidak memakai tema spesifik dalam festivalnya.

Ukky Satya, selaku direktur FFD 2018 menegaskan pemilihan tidak menggunakan tema merupakan upaya menghidupkan kembali semangat awal FFD dalam mengamati perkembangan dokumenter sebagai refleksi sosial dan media edukasi.

"Kami ingin mengembalikan tiga ruh awal dalam membuat film dokumenter yang justru kadang kita sudah lupa  yaitu; merekam yang tersisa, mencari yang tak terlihat, dan menemukan pengetahuan," terang Ukky.

Di tempat terpisah, Henricus Pria selaku Koordinator Program Kompetisi FFD 2018 kepada koranbernas.id menambahkan, ada keinginan membawa Film Dokumenter ini kepada khalayak, lebih dekat dengan masyarakat awam. 

"Tidak bisa dipungkiri bahwa anggapan masyarakat terhadap film dokumenter saat ini masih sebatas film buat anak sekolah, film untuk komunitas dan film yang gak menghibur," imbuh Pria.

Pria juga mengungkapkan dinegara lain, film dokumenter sudah bisa menjadi bahan untuk pembelajaran di sekolah-sekolah sementara di Indonesia belum.

"Sineas film dokumenter sekarang sudah berkembang jauh, gak cuma cerita hal-hal berat, kritis dan susah dipahami. ada banyak film dokumenter yang ringan dan menghibur, bahkan kita gak sadar ternyata ini film dokumenter," pungkas Pria.

FFD 2018 dibagi ke dalam empat agenda utama, yakni: Kompetisi, Pemutaran, Diskusi, dan Edukasi.

Kompetisi yang sudah dibuka sejak Maret lalu sudah menjaring ratusan peserta dari berbagai kategori. Ada 118 film kategori Dokumenter Panjang Internasional, 100 film kategori Dokumenter Pendek, dan 23 film kategori Dokumenter Pelajar. Semua film yang terpilih sebagai pemenang dari masing- masing kategori akan menerima penghargaan di puncak acara FFD 12 Desember 2018 di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta.

Kategori kompetisi Dokumenter Panjang dibuka dalam rentang internasional. Sedangkan, kategori Dokumenter Pendek dan Dokumenter Pelajar diselenggarakan dalam skala nasional, dengan harapan mampu menumbuhkan gairah membuat film dokumenter pada sineas-sineas Indonesia. Tahun ini, FFD menerima 118 film kategori Dokumenter Panjang Internasional, 100 film kategori Dokumenter Pendek, dan 23 film kategori Dokumenter Pelajar.

Juri yang terlibat dalam kompetisi dokumenter panjang tahun ini antara lain: Wakai Makiko (Programmer Yamagata Internasional Film Festival), Nicolas Boone (Filmaker Perancis), dan Bonnie Triyana (Sejarawan Indonesia). 

Dari kategori dokumenter pendek melibatkan tiga orang juri, Mandy Marahimin (Produser Tanakhir Films), Aryo Danusiri (Filmaker Indonesia), dan Fan Wu (Programer Taiwan Internasional Documentary Festival).

Sedangkan kategori dokumenter pelajar, Jason Iskandar (Filmaker Indonesia), Alexander Matius (Programmer Kinosaurus), dan Vivian Idris (Filmaker Indonesia). 

Meneruskan semangat tahun lalu, FFD kembali memilih lokakarya kritik film sebagai agenda edukasi. Program hasil kerja sama FFD dengan Cinema Poetica ini berharap dapat meramaikan ranah kritik film serta mengembangkan iklim dokumenter yang sehat. Lokakarya ini akan diadakan secara intensif pada 6 sampai 11 Desember 2018. 

Lewat berbagai tema dan agenda yang dipilih, FFD percaya jika dokumenter memiliki posisi signifikan dalam yang mencerdaskan masyarakat dan menghadirkan ruang munculnya sudut pandang alternatif yang jarang disentuh media mainstream. 

Sebagai sebuah medium, film dokumenter dapat dimanfaatkan sebagai media aspirasi yang mandiri, menghadirkan pesan- pesan reflektif, serta dapat melewati batas-batas ruang dan waktu.(yve)



Kamis, 29 Nov 2018, 23:29:19 WIB Oleh : Nila Jalasutra 100 View
Ingin Berburu Nila, Datang Saja ke Dusun Ini
Kamis, 29 Nov 2018, 23:29:19 WIB Oleh : Sari Wijaya 58 View
Jumlah Orang Asing Terus Bertambah
Kamis, 29 Nov 2018, 23:29:19 WIB Oleh : Nila Jalasutra 72 View
Pembatasan Gawai Kurangi Pornografi

Tuliskan Komentar