atas1

Memajukan Museum Sepahit Rasa Kopi..

Jumat, 19 Apr 2019 | 20:01:23 WIB, Dilihat 781 Kali - Oleh Putut Wiryawan

SHARE


Memajukan Museum Sepahit Rasa Kopi.. Seorang pemuda menyiapkan kopi pesanan pengunjung yang datang di acara Ngopi di Museum Pendapa Agung Tamansiswa. (putut wiryawan/koranbernas.id)

Baca Juga : Bangunan Tak Bersertitikat Siap Dibongkar


KORANBERNAS.ID -- Beberapa lelaki muda tampak terampil menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi kopi. Ada yang mendekatkan moncong cerek ke bibir cangkir. Ada pula yang mengangkat agak tinggi hingga cerek sejajar dengan dada.

Sembari menunggu kopi bereaksi dengan air panas, si pembuat kopi menyiapkan bejana-bejana penampung. Di mulut bejana itu dilipatkan kertas penyaring dan dimasukkan ke dalam corong.

Sesaat kemudian, cairan kopi panas dituangkan ke corong yang menutup bejana. Aliran kecil air kopi yang cenderung menetes masuk ke dalam bejana. Air kopi saring itulah yang kemudian dituang ke dalam gelas kertas dan disajikan kepada pembeli. Tanpa gula!

Ada beberapa kedai kopi yang berjajar di Pendapa Agung Tamansiswa, Sabtu (23/3/2019) silam. Belasan penjual kopi dari Yogyakarta dan Klaten ikut berpartisipasi dalam kegiatan bertajuk Ngopi di Museum yang diselenggarakan Klinik Kopi dan Cornellia & Co- PR & Marketing Agency.

Setiap penjual kopi, membawa alat pemanggang kopi, sekaligus berbagai jenis kopi yang sudah dipanggang maupun yang masih berupa biji kopi mentah.

Sepanjang hari, sejak jam delapan pagi hingga kegiatan berakhir pukul 17:00, kompleks Museum Dewantara Kirti Griya atau juga dikenal sebagai Museum Ki Hadjar Dewantara, banyak dikunjungi kaum milenia.

Sambil menunggu pesanan kopi di depan lapak, jari-jemari mereka sibuk memainkan smartphone. Aroma kopi sesekali menyeruak di antara sesaknya udara panas siang itu.

Ada tiga jenis racikan seduhan kopi yang umumnya ditawarkan. Light, medium atau hard. Light, adalah seduhan dari kopi yang dipanggang tidak terlalu lama. Warna seduhan air kopi hampir mirip seduhan teh bening.

Medium, adalah seduhan dari kopi yang lebih lama dipanggang dengan suhu lebih tinggi dan hard, seduhan dari kopi hitam. Warna kopi menjadi cenderung hitam karena dipanggang lama dengan suhu tinggi. Biasanya, dalam seduhan kopi hard, ada rasa karamel yang muncul.

Direktur dan pendiri Cornellia & Co-PR & Marketing Agency, Ayu Helena Cornellia, kepada Koran Bernas menjelaskan kegiatan Ngopi di Museum ke-4 mengangkat tema Janji Roastery.

Tema ini diangkat, kata Ayu, karena industri kopi di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan signifikan. Selain banyaknya kedai kopi yang tumbuh dan tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, coffee roastery dalam berbagai skala bisnis juga semakin bertambah.

Coffee roastery lokal Yogyakarta terbukti bisa bersaing dalam laju industri kopi Indonesia yang semakin pesat.  Pasar semakin terbentuk secara organik, penikmat kopi secara sadar mengalami elevasi dalam segi pengetahuan dan selera, yang mendorong pelaku industri kopi menyikapinya dengan produksi dan marketing yang lebih kreatif dan berkualitas.

Menurut Ayu, kegiatan Ngopi di Museum bukan sekadar acara minum kopi. Ada agenda untuk meningkatkan pemahaman tentang kopi dan seluk-beluknya.

Itulah sebabnya, kegiatan ini juga melibatkan industri mesin roaster kopi, industri pengepakan kopi dan pemasok biji kopi. Pembelajaran tentang kopi, selain disediakan bagi pemilik usaha kopi, juga disediakan untuk para penikmat kopi.

                                      * **

APA hubungan minum kopi dengan museum? Ketika ditanya soal ini, Ayu terkekeh ringan sambil berujar, “Ya tidak ada....”

Namun, perempuan yang juga dosen di perguruan tinggi perhotelan di Yogyakarta ini buru-buru menjelaskan, hubungan langsung antara minum kopi dengan museum memang tidak ada. Sekalipun demikian, dua kutub itu bisa saja dikaitkan dan disinergikan.

Menurut Ayu Cornellia, dewasa ini minum kopi bukan lagi sekadar melepas kepenatan sore-sore sambil menyeruput kopi ditemani kudapan dan batang rokok.

Minum kopi juga bukan untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyengat. Minum kopi sudah menjadi “gaya hidup”. Anak-anak muda yang dua atau tiga dekade lalu tidak memiliki kebiasaan minum kopi, sekarang menjadi pemburu kopi. Setiap ada warung kopi baru, selalu ada keinginan untuk datang mencicipi.

Bagi Ayu, yang beberapa waktu lalu berhasil mempertahankan disertasi berjudul Model Pemasaran Museum di Yogyakarta: Tantangan dan Kesempatan Berkembang di Era Digital di UGM untuk memperoleh gelar doktor, realitas maraknya gaya hidup “ngopi” tentu menumbuhkan bisnis warung kopi.

Dalam bisnis warung kopi, tentu terdapat cara pemasaran untuk mendatangkan konsumen atau penikmat kopi. Simpul ini, ia coba gunakan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke museum.

“Saya kan harus mengimplementasikan temuan dalam disertasi saya. Ini wujud komitmen saya untuk ikut membangun museum dengan meningkatkan jumlah pengunjung ke museum. Sedih lho, kalau mengetahui museum-museum yang kita miliki miskin pengunjung,” tutur Ayu serius.

Data di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, pada kurun tahun 2013-2015, Museum Dewantara Kirti Griya mengalami penurunan kunjungan wisatawan yang sangat tajam.

Pada 2013, Museum Dewantara Kirti Griya dikunjungi 11.375 wisatawan. Tahun 2014 meningkat sedikit menjadi 12.514 kunjungan. Dan tahun 2015, jatuh ke angka 3.504 kunjungan saja.

Bila dilakukan pengurutan jumlah kunjungan dari 15 museum yang ada di Kota Yogyakarta, Museum Dewantara Kirti Griya berada di urutan ke-13. Di urutan ke-14 adalah Museum Batik dengan jumlah pengunjung 3.281 wisatawan dan di urutan ke-15, Museum Pangeran Diponegoro Tegalrejo dengan jumlah pengunjung 2.233 wisatawan.

Bedanya, dalam kurun 2013-2015, Museum Batik dan Museum Diponegoro mengalami kenaikan jumlah pengunjung; sedangkan Museum Dewantara Kirti Griya turun drastis.

Menurut Ayu, kalau kegiatan ngopi diselenggarakan di museum, otomatis pengunjung museum meningkat. Ia juga berharap, model kegiatan yang ia lakukan dapat dicontoh oleh pengelola museum agar kunjungan ke museum meningkat.

Dalam konteks ini, Ayu Cornellia mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah untuk ikut mendorong masyarakat berkunjung ke museum. “Itulah hubungan minum kopi dengan museum,” tutup Ayu.

Agaknya, harapan Ayu agar jumlah pengunjung ke museum akan terus meningkat, masih memerlukan proses panjang. Setidaknya ini tercermin dari acara Ngopi di Museum yang ke empat kali dilaksanakan.

Banyak anak-anak muda penikmat kopi yang melongok pun tidak ke Museum Dewantara Kirti Griya. Apalagi berkunjung ke dalam museum! Memajukan museum, masih sepahit rasa kopi. (iry)

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas Edisi Cetak 8 April 2019.



Jumat, 19 Apr 2019, 20:01:23 WIB Oleh : Masal Gurusinga 647 View
Bangunan Tak Bersertitikat Siap Dibongkar
Jumat, 19 Apr 2019, 20:01:23 WIB Oleh : Redaktur 536 View
Epson Hadirkan Produk Terbarunya
Kamis, 18 Apr 2019, 20:01:23 WIB Oleh : Sholihul Hadi 823 View
Beri Kesempatan KPU Bekerja Lebih Jujur

Tuliskan Komentar