atas1

Master Seni Tari dari Tujuh Negara Tampil di Yogyakarta, Gratis

Kamis, 07 Nov 2019 | 16:47:22 WIB, Dilihat 167 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Master Seni Tari dari Tujuh Negara Tampil di Yogyakarta, Gratis Konferensi pers International Collaboration 2019 "In Search of a Dream” di ISI Yogyakarta, Kamis (7/11/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Ini Alasannya Kenapa Sekolah Harus Ramah Anak


KORANBERNAS.ID – Selama dua hari Kamis dan Jumat (15-16/11/2019) event seni pertunjukan berkelas internasional berlangsung di Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Jalan Parangtritis Sewon Bantul.

Acara bertajuk International Collaboration The Interrupted Dream Series "Journey to a Dream" and "In Search of a Dream" Southeast Asia Touring kali ini melibatkan seniman dari tujuh negara.

Selain Indonesia sebagai tuan rumah, hadir pula seniman tari dari Hongkong, Taiwan, Singapura, Jepang, Thailand dan Cambodia. Dijadwalkan, pergelaran tersebut dibuka Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dari Yogyakarta, event itu digelar di ISI Denpasar Bali pada 19 November 2019 serta di Salihara Jakarta 22 November 2019.

Bambang Pujasworo selaku koordinator acara di Yogyakarta pada konferensi pers di Rektorat Kampus ISI Yogyakarta, Kamis (7/11/2019), menyampaikan acara ini merupakan kolaborasi internasional antarnegara.

“ISI Yogyakarta lebih bersifat memberikan fasilitasi. Pertunjukan ini gratis,” ujarnya didampingi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Siswadi maupun Mahendra Bhiwara selaku project manager.

Bagi Kota Budaya, lanjut Bambang, event tersebut memiliki benefit tersendiri. Tak hanya pementasan, digelar pula workshop internasional sebagai ajang bertukar pengalaman.

Workshop bisa diikuti oleh seniman dari sanggar-sanggar di provinsi ini, koreografer maupun kalangan akademisi.

Secara kbetulan event itu bersamaan waktunya dengan rangkaian kegiatan Dies ke-35 ISI Yogyakarta yang berlangsung selama setahun.

“Kerja sama internasional seperti ini bagi kami sangat penting. Kita berharap rangking universitas naik. Tahun 2018, ISI Yogyakarta berada pada posisi 17 besar dunia,” paparnya.

Melalui teleconference, Didik Nini Thowok yang sedang berada di Singapura menegaskan, khusus di Yogyakarta pertunjukan yang berdurasi 1,5 jam ini gratis. Sedangkan pertunjukan serupa di Jakarta kemungkinan penonton dikenai tiket masuk.

“Proyek ini merupakan hasil kerja sama dengan Zuni Ecosahidron Hongkong, Dinas Kebudayaan DIY, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar Bali, Salihara Jakarta dan sponsor maupun donatur,” kata dia.

Teleconference dengan Didik Nini Thowok dan Danny Yung. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Kilas balik Didik menyampaikan, pementasan ini diawali kolaborasi pada 2016 di Nanjing dengan Sun Yijun seorang artist Kunqu Opera dari China. “Danny Yung dari Zuni Icosahedron Hongkong mengundang saya dalam acara itu,” kata dia.

Danny bersama Makoto Sato membuat proyek yang disebut TOKI Proyek bertema pertunjukan kolaborasi mengangkat cerita Peony Pavillion sebuah opera China yang sangat terkenal.

“Saya menyampaikan ketertarikan mempelajari Opera China yang akhirnya terlaksana pada tahun 2018. Saya belajar di Taiwan atas bantuan Danny dari Zuni Icosahedro Hongkong,” jelasnya.

Proyek ini pun akhirnya berkembang sampai sekarang dengan tema Interrupted Dream dan masih bersumber dari Peony Pavillion Opera China.

Pertunjukan berlangsung di beberapa kota antara lain Nanjing Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Singapura, Jepang.

Beberapa artis yang terlibat kolaborasi antara lain dari Nanjing, Shanghai, Hongkong, Taipei, Jepang, Singapura, Thailand, Cambodia. Sedangkan dari Indonesia selain Didik Nini Thowok ada juga Bagus Matsasupa dan Liswati.

Bagi Yogyakarta, kata Didik, pertunjukan ini sangat bermanfaat sekaligus sebagai sarana belajar para seniman di kota ini.

Danny Nt Yung dari Hongkong selaku Artistic, Director & Designer menambahkan, dirinya ingin bertemu langsung serta berbagi ilmu dengan seniman-seniman Yogyakarta.

Menurut dia, proyek kolaborasi ini fokus pada pertukaran budaya antara Indonesia dan China yang menekankan dua hal yaitu pertukaran budaya lewat bahasa dan melalui gerak tubuh.

Tujuannya adalah mengikat budaya Indonesia dan China. Meski ada perbedaan akan dicari kesamaannya di antaranya melalui seting panggung, iringan musik dan lainnya.

Sejumlah master seni pertunjukan yang ikut ambil bagian pada gelaran International Collaboration The Interrupted Dream Series "Journey to a Dream" and "In Search of a Dream" Southeast Asia Touring, rata-rata memiliki nama besar.

Selain Danny Yung dan Didik Nini Thowok, juga  ada penari kontemporer tradisional Phnom Penh, Nget Rady, penari kontemporer sekaligus koreografer dan pemain teater terkenal dari Tokyo, Makoto Matsushima.

Kemudian, Soultari Amin Farid dan Sabrina keduanya dari Singapura, Nattapon Wannaun/Guide dari Bangkok, Khong Chun Kit/Jason Kong dari Hongkong serta Chao Hsin dari Taiwan.

Saat ini mereka berada di Singapura untuk berpartisipasi memeriahkan event Southernmost: Proyek Satu Kursi Dua Meja 2019 yang dipresentasikan oleh Zuni dan Emergency Stairs.

Adapun pementasan Journey to a Dream berlangsung di Black Box, Centre 42, 42 Waterloo Street, dilanjutkan dialog dengan seniman lokal, akademisi dan praktisi budaya di forum terbuka untuk bertukar ide dan belajar satu sama lain. (sol)



Kamis, 07 Nov 2019, 16:47:22 WIB Oleh : Sholihul Hadi 152 View
Ini Alasannya Kenapa Sekolah Harus Ramah Anak
Rabu, 06 Nov 2019, 16:47:22 WIB Oleh : Arie Giyarto 1067 View
Tak Ingin Punya Anak Lagi, Mereka Sukarela Jalani MOW
Rabu, 06 Nov 2019, 16:47:22 WIB Oleh : Sari Wijaya 373 View
Berbagi Kebahagiaan, Mahasiswa Ajak Lansia Karaoke

Tuliskan Komentar