TNI-stipram

Masih Transaksi Pakai Uang Tunai? Tak Perlu Khawatir

Kamis, 06 Sep 2018 | 23:04:56 WIB, Dilihat 158 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Masih Transaksi Pakai Uang Tunai? Tak Perlu Khawatir Strategy and Business Develompent Director G4S, Paul van deer Knap (kiri) menyampaikan paparan hasil riset penggunaan uang tunai di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis (06/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Contohlah Jack Ma, Bukan Ma Jack


KORANBERNAS.ID -- Ditengah beragamnya pembayaran non tunai, transaksi menggunakan cash money atau tunai ternyata masing jadi salah satu alternatif terbaik saat ini di berbagai negara, termasuk Indonesia. Masyarakat tak khawatir melakukan pembayaran secara tunai laiknya secara online.

Bahkan berdasarkan penelitian dari “The G4S World Cash Report”, penggunaan uang tunai di Indonesia masih cukup tiggi. G4S mencatat, sebanyak 50-55 persen transaksi di Indonesia masih menggunakan uang tunai alih-ali non tunai.

Di Indonesia, selama kurun waktu 2012-2016, Peredaran Uang Tunai (CIC) tumbuh 53,1 persen menjadi Rp 528,53 triliun. Sementara jumlah total penarikan uang tunai di ATM dalam periode yang sama meningkat sebesar 65,5 persen menjadi Rp 2.353 triliun. Jumlah ATM di seluruh Indonesia pun mengalami peningkatan sebesar 54,3 persen dalam periode 2012-2016 menjadi 104.419 ATM.

Di tingkat global, pertumbuhan jumlah ATM mencapai 11,2 persen setiap tahunnya. Negara-negara
Asia mencatatkan pertumbuhan rata-rata per tahun tertinggi yang mencapai 16,3 persen dengan Tiongkok, Indonesia, dan Thailand sebagai tiga negara teratas dengan pertumbuhan jumlah ATM terbanyak.

"Pembayaran uang tunai masih menjadi tulang punggung transaksi keuangan di Indonesia," ujar Strategy and Business Develompent Director G4S, Paul van deer Knap saat memaparkan hasil risetnya di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis (06/09/2018).

Menurut Paul, tingginya angka penggunaan uang tunai ditemukan di 18 negara dari 24 negara yang disurvei seperti India dan Thailand dan Indonesia. Apalagi belum semua orang memiliki rekening di bank, termasuk di negara ini. Dari 24 negara yang disurvei, sekitar 2 miliar orang ditemukan belum punya rekening.

Namun tak hanya di negara berkembang yang angka penggunaan uang tunai tinggi. Paul menyebutkan, Jerman sebagai negara maju pun masih dominan dalam pengggunaan uang tunai. Sekitar 80 persen transaksi di negara itu masih menggunakan uang tunai karena alasan privasi.

"Pembayaran tunai di Jerman lebih dominan karena sudah melekat di akar masyarakat hal ini masalah privasi dan pemerintah tidak boleh mengintervensi. Beda dengan Swedia yang justru tinggi penggunaan non tunai karena alasan kenyamanan," jelasnya.

Meski pembayaran tunai masih cukup tinggi, lanjut Paul, hal itu tidak berpengaruh pada perekonomian negara. Masing-masing transaksi pembayaran memiliki keuntungan, tergantung analisis dan instrumen.

Karenanya pemegang kebijakan tak perlu khawatir bila pergerakan transaksi tunai masih tinggi di Indonesia. Kedua metode pembayaran tersebut justru saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat.

Paul mengusulkan pemerintah tetap menyediakan kebutuhan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat. Pembayaran semacam itu lebih aman karena tidak bisa diretas. 

"Beda dengan pembayaran menggunakan QR code yang masih cukup tinggi terhadap kemungkinan diretas. Kami menemukan sekitar 23 persen pembayaran dengan QR code itu ternyata rawan terhadap hacking," tandasnya.(yve)



Senin, 03 Sep 2018, 23:04:56 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 224 View
Contohlah Jack Ma, Bukan Ma Jack
Tuliskan Komentar