TNI-stipram

Masih Ada Kos-kosan Seharga Rp 50 Ribu di Rusia
Dubes RI untuk Rusia Beri Kuliah Umum di Stipram Yogyakarta

Senin, 05 Nov 2018 | 14:48:02 WIB, Dilihat 87 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Masih Ada Kos-kosan Seharga Rp 50 Ribu di Rusia Ketua Stipram Yogyakarta, Suhendroyono (kiri) bersama Dubes RI untuk Rusia, Wahid Supriyadi, usai mengisi kuliah umum, Senin (05/11/2018). (yvesta putu sastrosoenjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Kebun Sekolah Ini Ditata Serupa Goa Pindul


KORANBERNAS.ID –  Dibanding negara-negara Eropa lainnya, biaya pendidikan maupun biaya hidup di negara Rusia jauh lebih murah. Bahkan di negara itu masih ada kos-kosan seharga Rp 50 ribu, jika di-kurs dengan mata uang rupiah.

“Kos-kosan di sana ada yang Rp 50 ribu. Ada juga Rp 150 ribu,” ungkap Drs H Wahid Supriyadi, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Rusia kepada wartawan usai mengisi Kuliah Umum di Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta, Senin (05/11/2018).

Sebagai perbandingan, saat ini biaya kos di Kota Pelajar Yogyakarta paling murah rata-rata berada pada kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per bulan.

Kuliah umum bertema Komparasi Pola Pikir Pengembangan Pariwisata Nasional ke Depan itu juga dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY, Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA, Staf Ahli Kemenpar Dr Anang Sutono CHE serta Ketua Lembaga Profesional Pariwisata Indonesia Drs I Gusti Putu Laksaguna Dipl AHMA CFBE CHA MSc CMTA TQ.

Menurut Wahid Supriyadi, murahnya biaya pendidikan di sana tidak berarti kualitasnya rendah, justru sebaliknya berkualitas sangat bagus lebih-lebih bidang teknik, teknologi informasi, pariwisata dan bidang lainnya.

Dia meyakinkan hampir pasti tidak ada kendala apabila Indonesia menjalin kerja sama pendidikan dengan negara itu.

Mengenai kendala cuaca saat musim dingin dengan suhu di bawah titik beku, lama-lama mereka akan terbiasa. “Saya dulu membayangkan suhu minus 30 derajat, ternyata bisa,” kata dia.

Demikian pula soal bahasa Rusia, bisa diselesaikan melalui pelatihan selama satu tahun. “Belajar di Rusia  itu sangat murah biayanya,” ungkapnya seraya menyebutkan biaya itu lebih murah dibanding salah satu universitas di Jakarta.

Persoalannya, lanjut dia, kampus-kampus di Rusia memang masih kurang promosi. Karena itu, dia menyambut baik keinginan Stipram Yogyakarta untuk menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Rusia.

Khusus pariwisata, Wahid menjelaskan sudah saatnya potensi negara itu ditengok dan Indonesia harus sering berpromosi ke sana.

Hal ini mengingat tidak sedikit wisatawan Rusia hanya mengenal Bali. Rata-rata wisatawan Rusia lama tinggalnya lebih panjang, nomor dua setelah Prancis.

Yogyakarta yang memiliki banyak potensi pariwisata termasuk keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan, sudah merupakan nilai plus dan menjadi daya tarik luar biasa bagi turis Rusia.

Bahkan ada salah majalah dari luar negeri mencatat keindahan pulau Jawa berada di peringkat satu, baru kemudian Bali.

Wahid Supriyadi menambahkan pada Agustus 2019 Kedubes RI di Rusia siap memfasilitasi promosi pariwisata melalui event Festival Indonesia di Rusia. Rencananya, DIY memperoleh tempat tersendiri pada ajang tersebut.

Pihaknya pun sudah mengadakan pembicaraan dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan juga kirim surat resmi ke Bupati Sleman.

Ketua Stipram Yogyakarta, Suhendroyono SH MM Mpar CHE mengakui, fenomena pariwisata dunia saat ini sudah berubah total.

Negara-negara yang dulu dikenal dengan sebutan tirai bambu atau tirai besi kini sudah membuka sektor pariwisata seluas-luasnya.

“Pariwisata Rusia ternyata tidak kalah dengan negara-negara Eropa. Rusia banyak memiliki peninggalan spektakuler,” kata dia.

Dua tahun belakangan ini, Stipram Yogyakarta bersama dengan Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata (Hildiktipari) sudah melakukan kajian, survei serta lobi-lobi ke Rusia, Spanyol, Turki maupun Belanda.

Semula, Stipram sempat ragu-ragu untuk mengadakan kerja sama dengan Rusia. Ternyata, setelah mengetahui potensi negara itu pihaknya makin bertambah yakin.

Rusia yang dulu sempat diragukan ternyata saat ini menjadi motor pariwisata era milenial. “Masyararakat Rusia sedang gila pariwisata,” ujarnya.

Menurut Suhendroyono, rencana kerja sama dengan Rusia meliputi beberapa pola. Misalnya pertukaran mahasiswa dan dosen atau berupa program joint degree.

Dengan program tersebut, mahasiswa cukup mendapatkan tambahan kuliah dua semester kemudian memperoleh sertifikat dari dua universitas sekaligus, di Rusia dan Indonesia. (sol)



Sabtu, 03 Nov 2018, 14:48:02 WIB Oleh : Nila Jalasutra 242 View
Kebun Sekolah Ini Ditata Serupa Goa Pindul
Sabtu, 03 Nov 2018, 14:48:02 WIB Oleh : Sholihul Hadi 111 View
Jogja Tempat Paling Ideal Dirikan Startup
Jumat, 02 Nov 2018, 14:48:02 WIB Oleh : Sholihul Hadi 162 View
Penampilan Ki Seno Nugroho Puncaki Dies Natalis ke-17 Stipram Yogyakarta

Tuliskan Komentar