atas1

Manifestasi dari Jiwa yang Rapuh
Urgensi Asupan Gizi Spiritual

Rabu, 29 Jan 2020 | 22:08:50 WIB, Dilihat 189 Kali
Penulis : Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.
Redaktur

SHARE


Manifestasi dari Jiwa yang Rapuh Sudjito Atmoredjo

Baca Juga : PKK Punya Peran Vital Bangun Bangsa


PERHATIAN bangsa-bangsa terhadap masalah gizi ternyata cukup tinggi. Terbukti dalam kalender hari-hari besar nasional, ditemukan dua momentum, yakni: hari Gizi dan Makanan (25 Januari) dan hari gizi nasional Indonesia (28 Februari). Pada keduanya sarat dengan pesan moral, agar makna gizi perlu diaktualisasikan sesuai perkembangan kehidupan.

Disadari bersama, bahwa kecukupan gizi dan makanan itu penting. Kurang pada keduanya, bisa menjadi musibah. Bila bangsa ini ingin tumbuh-berkembang dengan baik, asupan gizi dan makan berkualitas amat diperlukan. Itulah maka makanan bukanlah sekadar materi saja, melainkan juga santapan rohani.

Layak diingat - bahwa sesuai dengah fitrahnya - setiap manusia terdiri dari jiwa dan raga. Keduanya perlu diasupi gizi dan makanan yang cukup dan berkualitas. Gizi dimaksud meliputi: gizi materiil (makanan, minuman, sandang, papan), dan gizi spiritual (akhlak, agama, ilmu, dan seni). Keduanya sama-sama penting demi tumbuh-kembangnya bangsa secara utuh.

Perihal gizi materiil, kiranya mudah dipenuhi. Begitu banyak makanan tersaji di sekitar. Harganya relatif terjangkau. Seiring dengan perkembangan zaman, berburu kuliner telah menjadi gaya kehidupan masa kini. Untuk apa masak sendiri?! Tinggal keluar rumah atau ketuk tombol handphone, makanan segera tiba.

Satu hal perlu diingat - pada orang-orang tertentu - berburu kuliner kadang berubah kiblat. Bukan sebagai kebutuhan, melainkan sebagai prestige. Para pensiunan, dan orang-orang berumur senja, semestinya, pola dan kualitas makan disesuaikan, yakni kurangi porsinya dan selektif. Jauhi alkohol, lombok, lemak, rentan tensi tinggi, asam urat, dan semacamnya. Itulah pola makan proprosional yang bagus. Celakanya, godaan sering hadir ketika harus menghadiri kondangan atau kumpul-kumpul group WhatsApp. Di situlah, gizi spiritual - yang dalam banyak hal sering dilupakan - mesti dihadirkan sebagai pengendali.

Dalam perspektif transcendental order, bangsa ini butuh asupan gizi spiritual. Apalah artinya gizi materiil, bila gizi spiritual bermasalah, tak terpenuhi. Pada hal, gizi (spiritual dan materiil) amat penting sebagai prasyarat tumbuh-kembangnya jiwa dan raga kebangsaan. Hanya pada bangsa yang sehat dan normal pertumbuhannya, maka kemuliaan, kemakmuran, keadilan, dapat disemai, ditebarkan, dan dipanen seluruh rakyat.

Gizi spiritual paling ampuh, manjur, berkhasiat, dan mujarab adalah akhlak. Agama diturunkan kepada para nabi dan diajarkan kepada umatnya, sebagian besar berisi ajaran tentang akhlak. Kehidupan jahiliah dapat diubah menjadi zaman keemasan, berkeindahan, dan berkemajuan. Kata kuncinya: akhlak. Direntang lebih jauh, kehidupan bangsa inipun akan sampai zaman keemasan bila akhlak bangsa dibenahi.

Akhlak sebagai gizi spiritual, letaknya di hati (qalbu). Wujudnya berupa karakter, mentalitas, atau jati diri. Gizi spiritual - sebagai akhlak mulia (terpuji) - tercermin pada beberapa indikator.

Pertama, senantiasa sadar kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas. Bukankah kita memiliki Pancasila?! Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kesadaran spiritual-teologis demikian, akan berimbas positif, berupa: perilaku jujur, adil, optimis memandang masa depan. Apa yang dilakukannya diyakini berbuah manis, selaras dengan janji-janji Tuhan. Lebih dari itu, kebersatuan dengan Tuhannya akan menjadikan langkah-langkahnya ringan, terhindar dari kesesatan, kekotoran, dan kenistaan. Bila sikap demikian dapat dilakukan secara otonom, maka fungsi lembaga-lembaga pengawas formal bisa diminimalkan. Inilah pengawasan melekat dalam arti sebenarnya.

Kedua, manusia bergizi spiritual tebal, pasti bersemangat menjalankan kewajiban-kewajibannya secara total. Inilah ciri manusia beradab sebagaimana tersirat dalam Sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dirinya sadar, tiadalah diciptakan manusia kecuali untuk beribadah. Dalam ranah sosial-kebangsaan, siapapun warga negara atau penyelenggara negara mesti bersemangat membangun negerinya. Sudahkah hal demikian kita lakukan? Maaf. Dalam pencermatan, masih banyak orang-orang menengadahkan tangan, bahkan mengambil secara haram uang rakyat, uang negara, barang milik orang lain. Dengan kata lain, akhlak bermasyarakat dan bernegara masih rendah, buruk, tercela. Sadar atas kenyataan ini, maka perlu ada program nasional asupan gizi spiritual kepada semua komponen bangsa.

Ketiga, beraktivitas dengan ikhlas, demi ridha Tuhan, demi kebahagiaan orang lain. Artinya, hasil dari kerja keras – walaupun kadarnya kecil – tidak perlu disesali, melainkan diterima dengan sabar dan syukur. Pengalaman spiritual-religius mengajarkan sering realitas negatif (Jawa: apes) kita hadapi. Ternyata di balik realitas negatif itu ada kebaikan amat tinggi maknanya. Begitulah realitas transendental. Kadang hadir di luar nalar. Hal demikian hanya dapat diterima dengan syukur bila ada ketebalan gizi spiritual. Secara lahiriah akan terlihat sikap empati dan simpati terhadap orang lain. Dia senang ketika melihat orang lain senang, sebaliknya dia susah bila orang lain susah.

Dulu, asupan gizi spiritual dilakukan melalui pendidikan dalam keluarga dan masyarakat secara intens. Secara nasional, dilakukan melalui penanaman nilai-nilai Pancasila. Kursus-kurus Pancasila oleh Bung Karno, atau penataran P4 pada masa Orde Baru, atau pendidikan moral Pancasila di sekolah-sekolah. Sayang, kini semuanya tinggal kenangan. Tidak tertanam, tidak tegak berdiri, tidak tumbuh-berkembang di jiwa bangsa Indonesia. Akibatnya, bukan sikap syukur melainkan kufur terhadap nikmat-nikmat dan karuniaNya. Berbagai masalah kebangsaan pun bermunculan, semakin meluas, kompleks, dan parah.

Ambil contoh: maraknya anomali kehidupan sosial. Pada awal tahun 2020, dijumpai fenomena aneh, menggelikan, sulit dinalar. Beberapa orang mendeklarasikan sebagai Raja-Ratu ataupun pengikutnya. Di Purworedjo, ada Raja-Ratu Keraton Agung Sejagat. Tak berselang lama, muncul Sunda Empire di Bandung. Muncul pula kerajaan baru bernama Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu, di Tasikmalaya. Di Blora, ada Kerajaan Jipang. Konon kerajaan Jipang berada di bawah naungan Yayasan. Didirikan tahun 2014. Sudah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM tahun 2016. Munculnya Raja-Ratu aneh itu boleh jadi merupakan manifestasi dari jiwa yang rapuh atau frustasi.  Mereka butuh asupan gizi spiritual.

Di Yogyakarta, marak kejahatan remaja. Disebut: klithih. Inilah geng-geng remaja gemar berantem, bikin onar, hingga tega membunuh. Menurut penuturan beberapa pelaku dan eks anggotanya, geng-geng remaja sudah ada sejak tahun 1970-an. Akhir-akhir ini jumlahnya semakin banyak. Kejahatannya semakin nekat dan ngawur. Bukan hanya musuh geng yang diincar, tetapi sembarang orang bisa dijadikan sasaran. Sungguh meresahkan masyarakat. Tak kurang dari Gubernur DIY – Sultan HB X – memberi perhatian seksama. Diduga akar permasalahan dari keluarga. Bila sinyalemen ini benar, artinya keluarga-keluarga pelaku klithih, butuh asupan gizi spiritual.

Celaka pula, sumber daya alam pun rusak akibat ulah orang-orang terjangkiti krisis gizi spiritual. Rakyat jelata, penduduk asli, indigenous people, melakukan penambangan liar, tanpa izin, tanpa peduli akibat-akibat negatifnya. Dalihnya: demi perut. Katanya, kebiasaan itu sudah turun-temurun. Apa mau dikata?!. Di tingkat elite, penambangan dilakukan besar-besaran. Walaupun ada izin, tetapi aspek lingkungan, sosial, keadilan, dan tanggung jawab antargenerasi diabaikan. Banjir, tanah longsor, ataupun musibah alam (misal: di DKI dan sekitarnya), diduga terkait dengan penambangan liar dan berbagai perusakan alam lainnya. Semua pelakunya rakus. Demi keharmonisan dan keseimbangan lingkungan, perilaku mereka perlu diperbaiki. Kepada mereka perlu diberikan asupan gizi materiil-spiritual.

Pada ranah pemilikan dan penguasaan lahan, terjadi ketimpangan. Lahan pertanian, perkebunan, tanah adat, dicaplok elit-elit pengusaha melalui pat gulipat perizinan dengan oknum birokrat. Oknum-oknum elit tega terhadap nasib buruk orang lain. Petani, masyarakat adat, digencet dengan berbagai regulasi agar tanahnya dapat diambil-alih pengusaha untuk perkebunan sawit, pembangunan infrastruktur, atau alasan investasi. Pemilik lahan menjerit, menagis, menggugat atas perlakuan dzalim penguasa dan pengusaha. Tetapi mereka tak berdaya. Sering, kepadanya disangkakan sebagai pelaku kejahatan, tindak pidana, dan sebagainya. Ketimpangan kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya semakin akut. Keterpurukan demikian tidak perlu terjadi bila para stakeholders kecukupan gizi spiritualnya.

Filofos Abu Nashr Muhammad al-Farabi (W.950 M), menyorot persoalan keterpurukan akhlak atau krisis gizi spiritual sebagai masa di mana banyak orang sudah kehilangan harapan dan kiblat masa depan. Implikasinya serius, antara lain: (1) tidak ada lagi regulasi (syariat ataupun produk politik) visioner demi bangsa dan generasi penerus; (2) rakyat tidak lagi percaya dan patuh kepada penguasa, demikian pula sebaliknya; (3) kehidupan semakin sekuler, ateis, materialis, hedonis.  

Bangsa ini berkepentingan untuk keluar dari krisis kejiwaan dan permasalahan sosial-kebangsaan. Selaras dengan program Pemerintah tentang peningkatan sumberdaya manusia, maka asupan-asupan gizi spiritual perlu menjadi prioritas. Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya. Untuk Indonesia raya. Bagaimanakah strategi dan bentuk konkritnya? Mari kita rembug bersama. Wallahu’alam. ***

 

* Penulis adalah Guru Besar Ilmu Hukum UGM



Rabu, 29 Jan 2020, 22:08:50 WIB Oleh : W Asmani 189 View
PKK Punya Peran Vital Bangun Bangsa
Rabu, 29 Jan 2020, 22:08:50 WIB Oleh : Rosihan Anwar 208 View
Tegaskan Tak Ada Suspect Corona di DIY
Rabu, 29 Jan 2020, 22:08:50 WIB Oleh : Rosihan Anwar 199 View
Sempat Diduga Suspect, Bayi Asal Tiongkok Batal Jadi Pasien Corona

Tuliskan Komentar