malioboro-sangat-cepat-berubahHendro Purwoko memperlihatkan salah satu lukisannya di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan Yogyakarta. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


ronnee

Malioboro Sangat Cepat Berubah


SHARE

KORANBERNAS.ID -- Malioboro adalah ruang hidup yang selalu berubah bahkan sangat cepat berubah seiring dengan  perjalanan sejarah Yogyakarta.

Seorang seniman cat air sekaligus pengajar Ergonomi Desain Interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Hendro Purwoko berhasil menggambarkan perubahan Malioboro melalui lembar demi lembar karyanya.


Baca Lainnya :

Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan serta kawasan budaya yang sangat mewarnai keragaman Yogyakarta.

Setidaknya 42 karya sketsa yang dibuat Hendro Purwoko sejak tahun 2009 hingga 2015 akan dipamerkan pada Pameran Tunggal Sambang Sambung Malioboro di Bentara Budaya Yogyakarta, 10-18 Desember 2019.


Baca Lainnya :

Sketsa-sketsa tersebut mengabadikan suasana Yogyakarta pada tahun-tahun itu. Proyek revitalisasi Malioboro sepanjang tahun 2018-2019, misalnya, cukup banyak merubah bentang lanskap Malioboro dari sisi pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana.

Hendro Purwoko dengan cukup detail menangkap “jiwa-jiwa” Malioboro dalam sketsa-sketsanya termasuk sosok-sosok penghuninya seperti kusir andong, tukang becak, penjaja kopi instan dan pedagang cenderamata.

Selain itu, juga landmark Malioboro seperti Stasiun Tugu, Kantor Gubernur, Pasar Beringharjo, Ngejaman, Museum Benteng Vredeburg, Ketandan, Kawasan Sosrowijayan, maupun gedung-gedung di kawasan Titik Nol Kilometer. Semua itu terekam dengan apik dan artistik di tangan Hendro Purwoko.

Suasana seperti demo buruh, angkringan, dan pasar klithikan juga tak luput dari pengamatannya.

Dwi Marianto selaku kurator pameran menyampaikan pada sisi inilah ragam sketsa tangan Hendro Purwoko mengenai bentang kawasan Malioboro menjadi bagian catatan historis sekaligus rekaman peristiwa sosial yang perlu ditakar dan dibaca sebagai peristiwa sosial budaya.

Arah rekaman visual yang dibuat oleh Hendro Purwoko tidak hanya berdimensi heritage atau kecagarbudayaan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk membaca sikap dan perilaku masyarakatnya.

"Dari balik bangunan yang terekam, tercatat dan terunggah dalam gambar sejatinya sebuah teks yang menemukan konteks sosial budayanya dari waktu ke waktu. Sadar atau tidak, Hendro juga menyampaikan kritik dalam setiap gambar yang Ia buat," papar Dwi Marianto kepada wartawan di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan Yogyakarta, Sabtu (7/12/2019) petang.

Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya.

Selain itu, juga dapat digunakan untuk menemu-tunjuk problem sosial budaya kawasan Malioboro yang kompleks.

Catatan spontan

Sketsa-sketsa Malioboro karya Hendro Purwoko adalah cuitan catatan spontan, sekaligus seruan moral memelihara dan mengembangkan Malioboro sebagai kawasan budaya terpenting Yogyakarta.

Ketua panitia pameran, Godod Sutejo, menambahkan pameran ini bisa disebut bentuk tanggung jawab Hendro Purwoko sebagai seorang seniman yang selalu berproses kreatif dan menunjukkan idealisme serta eksistensinya.

Pameran ini juga menandai masa purnatugas Hendro Purwoko sebagai staf pengajar di Program Studi Disain Interior Fakultas Seni Rupa Intitut Seni Indonesia Yogyakarta per 1 Oktober 2019.

"Pameran ini juga bisa dikatakan sebagai sebuah perayaan atas pencapaian Hendro Purwoko sebagai seorang seniman maupun sebagai pengajar seni. Hendro  ingin merayakannya bersama keluarga, komunitas, dan teman-teman seniman dalam sejumlah rangkaian kegiatan," lanjut Godod.

Rangkaian acara tersebut antara lain Pameran Karya Meditasi Anak Milenium yang menampilkan puluhan karya anak-anak yang rutin mengikuti kegiatan menggambar di Posnya Seni Godod.

Pameran yang diikuti 23 anak-anak usia TK hingga SD juga menjadi penanda peringatan 1000 hari berpulangnya Puspitasari Darsono, seorang sahabat yang menginspirasi kehidupan Hendro Purwoko untuk belajar meditasi dan segala variasinya.

Pameran berlangsung 1-8 Desember 2019 di Posnya Seni Godod, Suryodiningratan Yogyakarta.

Untuk mendukung pameran Tunggal Hendro Purwoko yang bertepatan juga dengan peringatan Selasa Wagen, puluhan perupa menggelar acara Sket Malioboro pada Selasa (10/12/2019) sejak pukul 08:00 hingga 12:00.

Selain Sket Malioboro pada media sketchbook ukuran 14 x 14 cm, pada saat yang sama diselenggarakan pula acara Melukis Bersama Ratusan Perupa di Kawasan Malioboro.

Acara ini diikuti lebih dari 100 pelukis yang berasal dari penjuru Nusantara bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, komunitas pelukis cat air (Kolcai), Sanggar Bambu, Sanggar Sejati dan kelompok seniman lainnya. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini