atas1

Mahasiswa Asal Bantul Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Rabu, 31 Jul 2019 | 21:06:42 WIB, Dilihat 214 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Mahasiswa Asal Bantul Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Yanditya Affan Almanda memperlihatkan bahan bakar hasil pirolisis dari alat ciptaannya, Rabu (30/7/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Kementerian PPPA Pilih Sleman untuk Studi Banding


KORANBERNAS.ID -- Plastik merupakan produk serbaguna, ringan, fleksibel, tahan kelembaban, kuat dan murah. Dengan berbagai kemampuan tersebut plastik mampu membuat seluruh dunia bernafsu menghasilkan lebih banyak produk berbahan baku plastik.

Namun tanpa disadari, karakter dasar plastik ditambah cara penggunaan yang tidak benar justru merusak lingkungan. Sampah plastik menyisakan permasalahan lingkungan hidup yang serius bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

Dampak negatif sampah berbahan plastik tidak hanya mengancam kesehatan manusia dan menjadi masalah di darat, plastik yang terbawa hingga ke laut mengancam biota laut dan hewan yang dilindungi.

Resah dengan masalah sampah plastik, seorang mahasiswa asal Bantul mengembangkan alat yang mampu mengubah limbah anorganik seperti sampah plastik menjadi bahan bakar berupa bio oil dan biogas.

Yanditya Affan Almanda, mahasiswa semester lima Teknik Mesin Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekuni hobinya sejak masih belajar di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). tepatnya tahun 2015.

Saat itu dia mengikuti lomba karya tulis ilmiah tentang penelitian pirolisis. Lomba itu menjadi awal ketertarikannya mengeksplorasi lebih dalam terkait proses mengkonversi sampah menjadi bahan bakar.

Kini alat yang berupa furnace atau pemanas itu dinamai AL-Production telah terjual 6 unit. Rata-rata pembeli dari kalangan akademisi guna menunjang laboratorium dan praktik. Affan mengembangkan alat itu dibantu oleh Refandy Dwi Darmawan dari Fakultas Kehutanan.

“Kami mengembangkan teknologi yang mampu mengubah sampah anorganik seperti plastik menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis,” jelas Affan, Rabu (31/7/2019), saat konferensi pers di Gedung Pusat UGM.

Affan menggunakan mekanisme pirolisis yaitu proses memanaskan plastik tanpa oksigen dalam temperatur tertentu serta teknik destilasi.

Aliran listrik

Peralatan yang dikembangkan berupa pipa yang terhubung dengan tabung kedap udara bertekanan tinggi berbahan stainless steel. Sementara untuk sumber energi yang berfungsi sebagai pemanas menggunakan aliran listrik.

“Awalnya kami mencoba dengan menggunakan sumber energi api, tapi hasilnya kurang bagus karena suhu yang dihasilkan tidak bisa dikontrol. Lalu kita ubah dengan energi listrik dan hasilnya lebih optimal,” papar pria asal Dusun Beran Desa Canden Kecamatan Jetis Bantul ini.

Cara kerja alat dimulai dengan memasukkan sampah plastik ke dalam tabung vakum. Berikutnya tabung dipanaskan hingga mencapai 450-550 derajat Celcius. 40 menit kemudian keluar tetes-tetesan minyak dari pipa setelah melewati jalur pendinginan.

"Satu liter sampah bisa menghasilkan 900 ml minyak, ada penyusutan 10 persen. Itu pun tergantung sampah plastik yang akan diolah. Sampah seperti botol air mineral dan sejenisnya cukup bagus hasilnya," terangnya.

Affan mengklaim minyak dari olahan sampah plastik ini bisa dipakai untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Perlu sedikit proses katalisasi lagi hingga benar-benar layak pakai pada mesin kendaraan.

Produksi alat pertama dibuat tahun 2017 berukuran kecil dengan kapasitas 2 hingga 3 liter yang dijual seharga Rp 20 juta. Selain itu Affan juga pernah membuat alat ukuran sedang dengan kapasitas 10 liter dengan harga Rp 35 juta.

Affan menyebutkan alat yang dikembangkan ini memiliki sejumlah keunggulan dibanding produk sejenis di pasaran. Salah satunya menggunakan listrik untuk proses pemanasan sementara kebanyakan produk yang sudah ada di dalam negeri menggunakan sumber energi berupa api untuk proses pemanasan sehingga suhu kurang terkontrol.

“Di luar negeri juga sudah ada alat pemanas, tapi hanya untuk memanaskan saja atau uji material. Alat kami ini dilengkapi destilator sehingga bisa digunakan untuk proses pirolisis yang mengubah sampah plastik jadi bahan bakar,” kata dia.

Saat ini Affan terus melakukan pengembangan alat dan mendapatkan dana pengembangan dari Program Mahasiswa Wirausaha UGM. Selain itu juga mentoring dalam pengembangan bisnis ke depannya. (sol)



Rabu, 31 Jul 2019, 21:06:42 WIB Oleh : Nila Jalasutra 144 View
Kementerian PPPA Pilih Sleman untuk Studi Banding
Rabu, 31 Jul 2019, 21:06:42 WIB Oleh : Nila Jalasutra 143 View
Pegiat Seni dan Budayawan Peroleh Penghargaan
Rabu, 31 Jul 2019, 21:06:42 WIB Oleh : Nanang WH 187 View
Pencuri Nafkahi Keluarganya dengan Uang Receh

Tuliskan Komentar