atas1

Lebaran

Rabu, 24 Okt 2018 | 16:31:53 WIB, Dilihat 874 Kali - Oleh Putut Wiryawan

SHARE


Lebaran Putut Wiryawan

Baca Juga : Hati-hati, Jangan Asal Permak Wajah


LEBARAN adalah ritual tahunan yang menyimpan banyak cerita. Lebaran bukan sebatas bermakna datangnya kemenangan bagi umat Islam yang berhasil memerangi segala hawa nafsu dengan menjalani kewajiban berpuasa sesuai tuntunan. Lebaran memiliki multi makna.

Bagi mereka yang merantau dan memburu karir di luar kampung halaman, Lebaran adalah saatnya kembali ke kampung. Sukses atau belum sukses dalam berkarya, bukan menjadi ukuran mudik atau tidaknya seseorang. Apalagi, bila orang tua masih ada. Saudara-saudara masih banyak. Harta warisan masih ada.

Mereka yang mudik menggunakan kendaraan darat, Lebaran berarti harus bersiap diri menempuh perjalanan dalam waktu yang belum menentu. Waktu tempuh normal sudah tidak ada lagi. Jarak 500 kilometer, yang biasa ditempuh dalam waktu 10-11 jam, bisa berubah menjadi dua atau tiga kali lipat.

Pemerintah memang memacu pembangunan jalan tol yang sebagian sudah akan difungsikan menjelang Lebaran guna mengurangi kemacetan. Benarkah?

Lebaran juga bermakna berburu tiket angkutan umum. Harga normal sudah menghilang. Berapa pun harga yang ditawarkan para calo bus antarkota misalnya, terpaksa harus dibeli. Angkutan umum murah yang disediakan pemerintah seperti kereta api, sudah jauh sebelum Lebaran datang ludes. PT KAI sampai saat ini tetap belum mampu menyediakan sarana angkutan yang mencukupi kebutuhan. Di satu sisi, berbagi rezeki dengan perusahaan angkutan penumpang swasta, memang sebuah keniscayaan; namun, pemerintah tetap harus bertanggung jawab terhadap standar layanan minimal angkutan mudik bagi masyarakat luas.

Lebaran juga dapat bermakna waktu menonjolkan jiwa sosial bagi tetangga atau kerabat dan bawahan. Banyak orang seperti baru menyadari, perlunya kesalehan sosial dalam hidup bermasyarakat dan bertetangga.

Lebaran, adalah waktu rehat bagi sebagian orang yang sehari-hari lelah bersitegang berebut rezeki. Atau waktu untuk melupakan sejenak beban pikiran kehilangan pekerjaan akibat kesulitan ekonomi yang melanda.

***

LEBARAN pada tahun politik, agaknya juga membawa berkah bagi banyak orang. Aparatur negara, baik aparat militer, polisi maupun sipil, termasuk para pensiunan, adalah kelompok yang menikmati buah manis pada Lebaran 1439 H ini. Mereka pada awal Juni bukan hanya menerima gaji reguler, tetapi ada THR dan gaji ke 13 yang diberikan sekaligus. Bahkan, THR diberikan bukan sebesar gaji pokok, tetapi diberikan sebesar apa yang mereka terima, gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan.

Situasi perekonomian nasional tahun ini, agaknya tidak cukup baik dan menjanjikan bagi perbaikan taraf hidup rakyat. Pemerintah memang selalu menyampaikan sikap optimis dalam menjelaskan keadaan perekonomian nasional, namun Asian Development Bank (ADB) mengemukakan, Indonesia pada tahun 2018 dan 2019 akan mengalami perlambatan. Ekspor Indonesia melambat. Dan defisit transaksi berjalan tahun 2018 dan 2019 akan meningkat.

Ekonom Faisal Basri berpendapat, pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini terus melemah. Ekonomi Indonesia yang pernah tumbuh 8% per tahun, berturut-turut terus melemah menjadi 7, 6 dan sekarang pada kisaran 5%. Dibanding negara maju, memang pertumbuhan itu lebih besar. Namun catatannya, Indonesia adalah negara berpenduduk besar, sehingga angka pertumbuhan 5% itu bukan ukuran kebaikan kondisi perekonomian. Di lingkungan ASEAN, peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam dan negara lainnya. Indonesia berada pada urutan 6 dilihat dari pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan Faisal Basri senada dengan ADB yang memperkirakan ekonomi Indonesia tahun 2018 bertumbuh sebesar 5,3%.

Sulitnya situasi ekonomi Indonesia, juga dirasakan kalangan dunia usaha. Terutama sektor properti dan industri makanan dan minuman.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, bagi pengusaha adalah sinyal tidak baik. Bank Indonesia memang terus mengintervensi untuk menstabilkan nilai tukar. Dampak dari melemahnya rupiah, sangat dirasakan oleh industri makanan termasuk industri skala rumah tangga. Impor kedelai, gula dan garam misalnya, tentu berpengaruh pada harga-harga pangan di dalam negeri.

Lepas dari persoalan pencitraan, dana segar yang dimiliki para aparat pemerintah saat ini, yang masing-masing berarti tiga kali gaji, tentu diharapkan dapat menolong dunia usaha sektor riil.

Sekalipun sekejap, setidaknya nikmat Lebaran dapat lebih menyebar.

Selamat Lebaran. Mohon maaf lahir dan batin! ***

 

Tulisan ini juga dimuat Koran Bernas versi cetak edisi 11 Juni 2018



Rabu, 24 Okt 2018, 16:31:53 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 806 View
Hati-hati, Jangan Asal Permak Wajah
Rabu, 24 Okt 2018, 16:31:53 WIB Oleh : Surya Mega 546 View
Ketika Borobudur Disebut, Empat Menteri di ASEAN Langsung Setuju
Selasa, 23 Okt 2018, 16:31:53 WIB Oleh : Arie Giyarto 520 View
Tersedia 17 Lowongan CPNS Diperebutkan 815 Pelamar

Tuliskan Komentar