atas1

Lampor, Kisah Mengerikan yang Terlupakan

Jumat, 02 Agu 2019 | 14:16:25 WIB, Dilihat 1524 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Lampor, Kisah Mengerikan yang Terlupakan Visual lampor melewati bangunan heritage Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis (1/8/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas id)

Baca Juga : Ngopi 24 Jam Nonstop Selama Seminggu di JEC


KORANBERNAS.ID – Anjing-anjing menggonggong, burung-burung gagak ikut mengepak seraya bersuara nyaring. Air sungai bergejolak, menandakan akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan.

Bagi mereka yang peka, suara alat musik pukul terdengar diiringi derap telapak kaki kuda yang tergesa-gesa melakukan perjalanan. Rombongan rupa-rupa makhluk tak biasa dari arah laut selatan beramai-ramai menuju utara, sebuah keadaan yang mencekam bagi siapa pun.

Jendela, pintu ditutup segera, orang-orang yang masih di luar kediamannya dengan sergap mengunci diri. Mereka tak ingin menyaksikan kejadian mengerikan itu tertangkap mata telanjang.

Karena kata orang, jika sampai manusia menyaksikannya, mereka tak akan kembali lagi. Jika pun kembali, mereka akan kehilangan akal sehat dalam dirinya.

Legenda itu coba kembali dikisahkan oleh Anung Srihadi, Ruly “Kawit” Prasetya dan Dani Argi dalam sebuah karya video mapping berjudul Lampor.

Lampor mereka tampilkan pada Kamis, (1/8/2019) malam pada festival video mapping SUMONAR 2019. Selain karya dari kolaborasi tersebut, dalam penyelenggaraan SUMONAR 2019 yang bertajuk My Place, My Time hari ke tujuh ini juga ditampilkan karya video mapping dari Lepaskendali x Bazzier x Sasi berjudul Moon & Sun, Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk berjudul Bias Kota serta Raymond Nogueira/Rampages, MoDAR berjudul Timeless Dream dan juga karya dari Ismoyo Adhi x THMD x Wasis Tanata berjudul Temu.

Ruly “Kawit” Prasetya menjelaskan, dalam karya kolaborasinya bersama Anung dan Dani, mereka ingin menyampaikan salah satu kisah mitos legendaris masyarakat Yogyakarta yang saat ini sudah mulai terlupakan.

"Lampor adalah pasukan dari Laut Selatan yang melakukan perjalanan menuju utara, yaitu Gunung Merapi. Dalam perjalanannya para pasukan tersebut selalu menggunakan jalur sungai yang membentang di Yogyakarta. Seperti Kali Code, Winongo maupun Bedog," terang Ruly.

Sebenarnya, kisah tentang Lampor ini adalah kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh orang tua-orang tua dulu ketika masih kecil.

Namun saat ini banyak dari anak muda di Yogyakarta tidak mengetahui kisah tentang Lampor yang sebetulnya merupakan cerita yang diketahui secara turun temurun.

"Melalui karya video mapping yang kami beri judul Lampor ini, kami ingin kembali mengisahkan cerita ini dalam karya, kami harapkan akan bisa lebih mudah untuk dicerna oleh masyarakat, terutama generasi muda,” kata Ruly.

Tak hanya itu, di dalam karya berdurasi sekitar empat menit tersebut, Ruly Cs memperlihatkan beberapa hal yang bermuatan kritik terhadap sesuatu yang terjadi pada sungai di Yogyakarta saat ini.

Misalnya saja ornamen-ornamen sampah berserakan yang mereka gambarkan di dalam karyanya. Hal inilah yang perlu diketahui masyarakat Yogyakarta, sungai bukanlah tempat membuang sampah.

"Misalnya saja kita bayangkan jika Lampor itu memang ada, saat sampah dibuang sembarangan dan bermuara di Laut Selatan, para “penghuni” Laut Selatan pasti akan marah," tambahnya.

Kenyataannya, memang sampah itu dibuang ke sungai, biota-biota di laut pun sangat terganggu keberlangsungan hidupnya.

"Kami berharap, melalui karya video mapping Lampor ini masyarakat yang tidak tahu tentang kisah ini menjadi tahu dan tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan pada sungai,” jelas Ruly.

Dalam karya Lampor ini mereka menggandeng Paksi Laras Alit untuk mendramatisasi karya tersebut dengan sajian audio yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. (sol)



Kamis, 01 Agu 2019, 14:16:25 WIB Oleh : Sholihul Hadi 371 View
Ngopi 24 Jam Nonstop Selama Seminggu di JEC
Kamis, 01 Agu 2019, 14:16:25 WIB Oleh : Sholihul Hadi 162 View
Obyek Wisata Harus Dilengkapi Jalur Evakuasi
Kamis, 01 Agu 2019, 14:16:25 WIB Oleh : Sari Wijaya 578 View
Argodadi Cup Jaring Atlet Berprestasi

Tuliskan Komentar