atas

Korban Trauma, Ini Dia Kronologi Penembakan di Selandia Baru

Senin, 18 Mar 2019 | 14:33:57 WIB, Dilihat 402 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Korban Trauma, Ini Dia Kronologi Penembakan di Selandia Baru Dosen UAD, Irfan Yunianto, korban selamat tragedi teror di Selandia Baru melakukan teleconference dengan pihak kampus, Senin (18/3/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Pangdam IV/Diponegoro Tegaskan TNI Netral


KORANBERNAS.ID -- Dosen Pendidikan Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Irfan Yunianto yang menjadi salah seorang korban selamat aksi teroris di Masjid Al Noor di Christchurch, Wellington, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019) lalu akhirnya angkat bicara. Mahasiswa S3 di University of Otago tersebut mengaku masih trauma atas kejadian penembakan beruntun dari empat orang tersangka.

Dalam teleconference bersama Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum dan sejumlah dosen di kampus setempat, Senin (18/3/2019), Irfan menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya. Aksi teror tersebut bermula saat dia dan jamaah lain datang ke Masjid Al Noor sekitar pukul 13.40 waktu setempat untuk salat Jumat dengan mengendarai sepeda.

Mahasiswa yang kuliah di Otago sejak dua tahun terakhir itu masuk ke ruang salat kecil setelah melihat ruang salat besar yang sepi karena hujan sejak pagi hari. Selama kurang lebih lima menit mendengarkan kotbah Jumat, tiba-tiba Irfan mendengar dua kali suara tembakan.

"Saya awalnya mengira mungkin suara ban mobil pecah, tapi kemudian terjadi rentetan gun fire (pistol-red) terus menerus. Karena panik saya yang berada di depan emergency exit door (pintu keluar darurat-red) akhirnya lari keluar menuju ke bagian belakang masjid di parkiran mobil," ungkapnya.

Irfan yang mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu mencoba memanjat pagar yang tingginya 2 meter untuk keluar dari masjid. Namun karena banyak mobil terparkir, akhirnya dia memanjat mobil dan lari keluar pagar.

Sekitar 50 meter, Irfan masuk ke salah satu rumah untuk menyelamatkan diri karena rentetan tembakan masih saja terdengar. Namun ternyata disitu sudah ada dua korban penembakan yang bersembunyi. Satu orang tertembak di bagian punggung dan satu orang lainnya terluka kakinya.

"Setelah saya ada sekitar empat belas orang lain yang ikut masuk bersembunyi di rumah itu karena rentetan tembakan masih terus terdengar hingga lima sampai enam menit. Disitu saya mencoba menghubungi teman-teman kampus agar jangan mendekati kawasan itu atau masuk ke masjid karena ada tembakan," jelasnya.

Irfan kemudian juga menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mengabari kejadian tersebut. Di tempat persembunyian, salah seorang warga memperlihatkan rekaman video live (langsung-red) dari pelaku teror lewat telepon seluler (ponsel).

Meski terpaksa, mereka tetap melihat aksi biadab tersebut untuk memastikan kondisi kerabat dan teman-teman yang ada di masjid. Ditengah ketakutan, mereka harus menunggu selama lima jam sampai polisi datang sekitar pukul 18.30 waktu setempat.

Akibat kejadian tersebut, Irfan merasa sangat terguncang. Namun dia bersyukur keluarga, kolega dan pihak kampus memberikan dukungan padanya. Bahkan masyarakat sekitar pun ikut memberikan dukungannya pada para korban.

"Kami saling menguatkan satu sama lain. Support dari kampus dan teman juga membantu mengatasi trauma," tandasnya.

Anissa Nur Hasanah, puteri dari Dosen Pendidikan Biologi UAD melakukan teleconference dengan pihak kampus UAD, Senin (18/3/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Secara terpisah, Anissa Nur Hasanah, puteri dari Dosen Pendidikan Biologi, Salamah saat kejadian juga berada di Selandia Baru. Namun Anissa berada di Auckland sehingga jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Mahasiswi Master of Transportation di Faculty of Engineering tersebut mengaku kaget saat mendapatkan berita penembakan. Dia yang menunggu di cofee shop dekat kampus melihat teman-temannya yang salat Jumat tiba-tiba didatangi polisi. Jumatan tiga sesi yang baru sekali dilakukan di masjid dekat kampus tiba-tiba dihentikan untuk sesi selanjutnya karena dikhawatirkan terjadi ancaman serupa.

"Polisi datang dan menutup masjid untuk mengantisipasi aksi teror serupa. Polisi juga sempat mengamankan satu barang yang dicurigai namun ternyata bukan apa-apa," jelasnya.

Anissa yang baru sebulan di Selandia Baru itu mengaku tidak percaya pelakunya dari negara tersebut. Sebab selama disana, warga setempat sangat ramah dan menghormati warga muslim.

Saat ini polisi masih intens menjaga kawasan masjid dekat kampus. Namun umat muslim sudah bisa melakukan kewajibannya untuk salat di masjid setempat.

"Masjid yang besar masih ditutup namun banyak karangan bunga dari warga," jelasnya.

Sementara Kasiyarno mengungkapkan keprihatinannya akan aksi teror tersebut. Dia menyayangkan perbuatan pelaku di Selandia Baru yang terkenal sebagai negara yang aman dan terjaga kebersihannya.

"Ini aksi biadab di negara yang beradab. Namun kami bersyukur pelakunya sudah ditangkap dan mudah-mudahan mendapatkan pengadilan yang adil," tandasnya.

Irfan, lanjut Rektor baru menghubungi pihak kampus pada Minggu (17/3/2019) karena keterbatasan komunikasi. Dosen tersebut juga membantu pihak terkait untuk mengatasi dampak dari kejadian teror.

"Meski ada kejadian ini kami akan terus melakukan kerjasama dengan selandia baru," imbuhnya.(yve)



Senin, 18 Mar 2019, 14:33:57 WIB Oleh : Redaktur 1042 View
Pangdam IV/Diponegoro Tegaskan TNI Netral
Senin, 18 Mar 2019, 14:33:57 WIB Oleh : Sari Wijaya 490 View
Dua Orang Dinyatakan Hilang, Ribuan Mengungsi
Senin, 18 Mar 2019, 14:33:57 WIB Oleh : Sholihul Hadi 385 View
BPBD DIY Catat Dua Korban Meninggal Akibat Banjir Bantul

Tuliskan Komentar