atas1

Kisah Sedih Keluarga Pengikut Keraton Agung Sejagad

Selasa, 14 Jan 2020 | 16:34:58 WIB, Dilihat 18618 Kali
Penulis : W Asmani
Redaktur

SHARE


Kisah Sedih Keluarga Pengikut Keraton Agung Sejagad Para prajurit Keraton Agung Sejagad saat kirab. (istimewa)

Baca Juga : Ada Sajian Khas Tahun Baru Imlek di Eastparc Hotel Yogyakarta


KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Masyarakat Purworejo sangat terkejut dengan kemunculan Keraton Agung Sejagad (KAS) secara tiba-tiba dan memiliki pengikut sekitar 400 orang. Banyak pihak yang mempertanyakan bagaimana cara merekrut anggotanya.

Pertiwi, seorang janda warga Banyuurip Purworejo, memiliki anak perempuan yang menjadi anggota Keraton Agung Sejagad. "Awalnya anak saya nomer dua bekerja di sebuah restoran. Dia sebelumnya adalah anak yang baik, selalu memperhatikan keluarga dan memberi bantuan keuangan terhadap keluarga. Namun setelah terlibat dalam aliran baru, ia berubah tabiatnya. Ia keluar dari pekerjaannya dan justru sering meminta uang kepada saya," tuturnya.

Tak hanya anak nomor dua yang kepincut menjadi anggota KAS. Anak pertamanya akhirnya juga kena bujuk rayu dan akhirnya mengikuti jejak adiknya sebagai anggota perkumpulan yang dipimpin Toto S Hadinigrat.

 

"Kedua anak saya mengikuti aliran tersebut, dan dikarantina cukup lama di Yogyakarta," tuturnya.
 

Pertiwi tak bisa berbuat banyak ketika anak-anaknya selalu minta dikirimi uang. "Sebisa mungkin saya turuti dengan menjual apa yang ada, termasuk pohon-pohon peninggalan almarhum suami," katanya sedih.
 

Yang lebih menyedihkan bagi ibu 3 anak tersebut, anak-anaknya selama mengikuti aliran itu sudah lebih dari 3 tahun belum pernah mendapatkan penghasilan. Sekarang, kedua anaknya berada di KAS di desa Pogung Jurutengah sebagai pengikut KAS. Sementara anak perempuannya yang nomor dua sudah diperistri oleh petinggi Keraton Agung Sejagad.

Warga Banyuurip lainnya, RK, kepada koranbernas.id, Selasa (14/1/2020), mengaku sudah lama menjalin hubungan dengan kelompok Totok. "Saya dulu pernah ikut Yogya-Dec, juga pernah ikut napak tilas yang diadakan di Bandung Jawa Barat. Waktu itu memang harus membayar administrasi sejumlah rupiah," ujarnya.

Namun dirinya tidak melakukannya. Ia membawa uang hanya untuk kebutuhan akomodasi selama perjalanan Purworejo-Bandung PP, serta untuk kebutuhan makan dan minum selama dalam perjalanan. "Perjalanan tapak tilas tersebut saya lakukan pada tahun 2016, dan sekarang saya sudah tidak aktif lagi," papar RK.

Sementara itu, seorang ibu dengan dua anak yang memiliki warung di dekat lokasi KAS, mengaku harus membayar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta untuk pembuatan seragam anggota. Besar-kecil iuran tergantung jenjang jabatan.


Disinggung apakah anggota keluarganya terlibat dalam KAS, dirinya menjawab tidak. "Keluarga saya tidak ada yang tertarik dengan KAS," ujarnya.
 

Ibu ini mengaku mendapatkan berkah dari munculnya KAS, karena mendadak dia membuka warung lotek, rujak dan mi seduh, serta aneka minuman. "Saya juga menyediakan kamar mandi untuk dipakai para anggota KAS tanpa memungut uang. Alhamdulilah warung saya laris untuk memenuhi kebutuhan konsumsi anggota KAS,” ujarnya.

Dari pengamatan koranbernas.id, para pengikut KAS kebanyakan berasal dari luar kota. Sebagian besar berasal dari wilayah DIY, bahkan ada yang berasal dari Lampung. (eru)



Selasa, 14 Jan 2020, 16:34:58 WIB Oleh : Redaktur 136 View
Ada Sajian Khas Tahun Baru Imlek di Eastparc Hotel Yogyakarta
Selasa, 14 Jan 2020, 16:34:58 WIB Oleh : Nila Jalasutra 116 View
PMI Sleman Dapat Hibah Ambulans Premium
Selasa, 14 Jan 2020, 16:34:58 WIB Oleh : Nanang WH 222 View
Manajemen Meotel Kebumen Kunjungi Media

Tuliskan Komentar