atas1

Kisah Bonar, Si Tuli Yang Pantang Menyerah

Senin, 02 Des 2019 | 20:07:02 WIB, Dilihat 163 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Kisah Bonar, Si Tuli Yang Pantang Menyerah Bonar Bangun Simanjuntak, pengemudi ojek online yang tuli namun tetap bekerja keras. (istimewa)

Baca Juga : PKL Malioboro Sepakat Tentukan Harga Tertinggi dan Hindari Nuthuk


KORANBERNAS.ID -- Bonar Bangun Simanjuntak mungkin tidak sempurna. Salah seorang pengemudi ojek online ini memiliki keterbatasan pendengaran atau tuli. Namun semangatnya untuk bekerja keras demi keluarga patut diacungi jempol. Meski tuli, Bonar mampu bekerja dan beribadah untuk menafkahi istri untuk menunjang masa depan anak perempuannya.

Di Hari Disabilitas Internasional yang jatuh 3 Desember 2019 ini, kisah Bonar bisa jadi inspirasi bagi kita. Tanpa malu, Bonar mengaku selalu mengirim pesan kepada penumpangnya tentang kondisinya yang tuli. Dia mengaku menerima segala tanggapan. Dan sejauh ini, dia tidak pernah merasa dirugikan. Bonar adalah teman tuli pertama di Bandung yang menjadi mitra GrabBike. Dia bergabung bersama Grab sejak April 2017.

Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Bonar tidak pernah merasa ruang geraknya dibatasi. Dia bahkan ingin mendobrak perspektif bahwa teman tuli berbeda dengan mereka yang tidak tuli. Salah satu buktinya adalah keterlibatan dia menjadi mitra GrabBike, dimana ia terus produktif dan bisa berkarya.

“Saya tidak merasa minder. Saya berani. Saya merasa percaya diri dan merasa kuat juga,” ujar lelaki berusia 30 tahun itu menggunakan bahasa isyarat.

Niat teguh Bonar untuk bekerja bagi orang-orang yang dicintainya tak pernah luntur. Dia bekerja mulai pukul 4 subuh hingga 10 malam. Hal itu dilakukannya setiap hari. Keluarganya pun senang karena dia diberikan kesempatan untuk menafkahi mereka. Selain itu, hal itu dilakukan untuk menunjang masa depan anaknya yang baru berusia 5 tahun. Bonar bercita-cita bisa terus membiayai pendidikan putrinya hingga jenjang paling tinggi. Maka, dia bertekad untuk menabung dan mengasuransikan hasil jerih payahnya sejak dini.

“Hasil kerja ini untuk keluarga, menabung, asuransi untuk masa depan anak saya. Saya ingin anak saya kuliah. Jadi, saya menabung dari sekarang," jelasnya.

Selain itu, sebagai teman tuli, Bonar tidak pernah merasa berbeda dengan mitra GrabBike lainnya. Bonar mengaku, mereka sama-sama sedang bekerja untuk tujuan masing-masing.

“Kalau misalnya saingan dengan orang dengar ya tidak apa-apa saingan saja. Kadang biasanya ada yang mengejek, ah tapi tidak apa-apa, mungkin mereka bercanda. Saya juga merasa harus giat bekerja, saya harus bisa mandiri, jadi saya narik terus,” paparnya.

Di sisi lain, banyak juga yang memujinya. Dia pun menjadi inspirasi banyak orang di sekitarnya.

“Mereka bilang, ‘Wah, kamu orang tuli tapi tetap giat narik penumpang ya. Hebat. Mereka terlihat kagum,” kata Bonar.

Perjalanan Bonar untuk bisa bekerja dan berkarya tidaklah semulus yang dibayangkan. Dia harus menunggu beberapa waktu karena berbagai kendala. Awalnya dia ditolak empat kali waktu melamar di beberapa tempat.

"Tapi saya sabar dulu. Kemudian saya terpikir untuk menjadi mitra pengemudi transportasi online dan bikin foto dengan tulisan di kertas. Saya minta agar bisa bekerja di Grab. Akhirnya  foto saya viral, tahun 2017 kalau tidak salah. Saya juga kaget. Orang-orang banyak berkomentar. Akhirnya, Bos Grab dari Jakarta telepon saya. Dia bilang, ‘Ayo kamu lamar, Insyaallah kamu diterima.’ Ketika buka Whatsapp, Alhamdulillah saya diterima, seneng banget. Akhirnya saya diterima,” tutur Bonar.

Dia mengaku senang ketika mendengar kabar itu. Setelah lama menganggur, akhirnya dia bisa bekerja lagi. Seiring berjalannya waktu, teman tuli lainnya pun mengikuti jejak Bonar. Mereka mendapatkan kesempatan yang sama menjadi mitra GrabBike. Ada lebih dari 20 teman Tuli yang sudah menjadi mitra GrabBike di Bandung. Tidak jarang mereka berkumpul dan saling mentraktir.

“Kadang-kadang sering ketemu. Kadang sudah tahu bahwa kita sama-sama teman tuli, kemudian ngobrol dengan bahasa isyarat tentunya. Terus makan bareng, saling traktir-traktiran. Kadang-kadang ada perbedaan komunikasi, saya komunikasinya bisa sedikit bicara dan isyarat, tapi yang lain beda, tapi tidak apa-apa, pelan-pelan saja,” katanya.

Bonar merasa senang karena semakin banyak teman tuli yang mendapatkan kesempatan kerja di Grab.
Di sisi lain, sebagai teman tuli, dia merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan customer. Dia sudah terbiasa menggunakan fitur berkirim pesan untuk memberitahukan bahwa dirinya tuli sejak awal.

“Biasanya customer pada ramah ke saya ketika tahu saya tuli. Kerja di Grab juga mudah. Ketika sudah sampai di tempat menjemput, saya chat customer, terus saya konfirmasi. Setelah itu saya kasih helm dan jalan seperti biasa. Kalau mau jalan pintas, mereka bisa tepuk pundak saya, misalnya kalau mau ke kanan tepuk pundak kanan dan sebaliknya,” ujarnya.

Meski dihadapkan dengan berbagai kendala dan kekurangan, Bonar selalu menganggap hal itu mudah dan bisa diatasi. Bonar tak pernah memanfaatkan kekurangannya untuk lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain.

Selain itu, Bonar mengaku selalu menghormati penumpang dan mengutamakan keselamatan selama berkendara. Karena itu, dia tidak pernah mengalami insiden kecelakaan karena ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan penumpang. Sejauh itu pula, Bonar merasa senang bekerja sebagai mitra layanan roda dua tersebut. Dia pun berharap semakin banyak orang yang belajar tentang tuli.

“Sehingga tahu tuli itu seperti apa. Jadi semuanya saling mengetahui dan bekerja sama. Saya juga ingin bilang kepada orang-orang, kita harus tahu bahwa tuli dan dengar itu sama-sama berjuang, bekerja,” tandasnya.

Untuk memperluas misi Grab untuk memastikan setiap orang dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital, terlepas dari kondisi mereka, Grab memperkenalkan program ‘Mendobrak Sunyi’ bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) pada September lalu, dengan menawarkan kesempatan bagi teman Tuli menjadi mitra pengemudi Grab.

Grab ingin memberikan kesempatan bagi teman Tuli dan orang dengan keterbatasan pendengaran untuk dapat berpartisipasi lebih baik dalam ekonomi digital melalui ekosistem Grab. Ada banyak pembaharuan dari sistem teknologi Grab seperti fitur bantuan khusus, materi pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor.(*/yve)



Senin, 02 Des 2019, 20:07:02 WIB Oleh : warjono 2086 View
PKL Malioboro Sepakat Tentukan Harga Tertinggi dan Hindari Nuthuk
Senin, 02 Des 2019, 20:07:02 WIB Oleh : W Asmani 759 View
Aktivis Anti-Korupsi Terlibat Dugaan Korupsi Bansos Kemenpora
Senin, 02 Des 2019, 20:07:02 WIB Oleh : Nila Jalasutra 126 View
Ada 25 Desa di Sleman Nikmati Fasilitas Pamsimas

Tuliskan Komentar