atas1

Ketika Sapi Terbang Mengeratkan Perbedaan

Kamis, 17 Jan 2019 | 11:55:31 WIB, Dilihat 1272 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Ketika Sapi Terbang Mengeratkan Perbedaan Kelompok Tari De Stilte saat membawakan "Sapi Terbang" karya Jack Timmerman di Taman Budaya Yogyakarta Rabu (16/1/2019) dalam rangkaian tur mereka ke Indonesia bersama lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Hoaks Jelang Pemilu Jangan Dianggap Enteng


KORANBERNAS.ID -- De Stilte membuktikan diri sebagai kelompok tari yang memberi pendidikan yang menghibur dan menyenangkan bagi semua usia. "Sapi Terbang" karya koreografi Jack Timmerman selama 50 menit nihil dialog, namun syarat dengan makna. Bagaimana tidak, penonton bebas mengimajinasikan tiap gerak dan musik yang mengiringi pementasan "Sapi Terbang", Rabu (16/1/2019) malam.

Kaia Vercammen, Tessa Wouters dan Gianmarco Stefanelli sangat mahir membawakan gerak, ekspresi dan menyampaikan simbol kepada penonton. Hampir 1000 kursi pengunjung concert hall Taman Budaya Yogyakarta penuh, tak satupun yang beranjak hingga 57 menit tepatnya pertunjukan usai.

Aksi luwes Gianmarco dan Kaia dalam "Flying Cow" karya Jack Timmerman di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (16/1/2019) malam. (muhammad zukhronneems/koranbernas.id)

Ratusan anak-anak dari Panti Asuhan ikut gelak terbahak saat Gianmarcarco takjub dengan benda putih sebesar telur ayam. Benda yang menggelinding mengikutinya, mengeluarkan suara 'moooo' seperti sapi, tetapi juga bisa mengambang di udara.

Paduan  gesture ballet dan sirkus akrobatik sangat piawai merespon objek-objek pendukung.  Saat kedua kaki dan tangan memainkan kotak-kotak kayu merupa kandang, lalu disusun menjulang serupa gedung, kemudian dilempar dan tangkap bergantian, sangat menyenangkan, laiknya permainan luar ruang yang kini mulai ditinggalkan anak-anak.

Lalu potongan-potongan pipa paralon yang seolah-olah adalah stang sepeda menyiratkan kegembiraan lain. Bersepeda bersama, melihat kanan-kiri, bahkan patuh lalu-lintas pun disampaikan saat Gianmarco memberhentikan Kaia yang tengah asyik dengan benda yang memendarkan cahaya berwarna merah dan dan hijau seperti lampu pengatur lalu-lintas.

Tak hanya sampai disitu, konflik berebut teman dan permainan juga ditampilkan De Stilte. Pompa sepeda ditiup Gianmarco seolah Saxophone mengiringi tarian Kaia tiba-tiba terganggu Tessa yang datang dengan memukul-mukulkan potongan pipa. Hal itu justru menimbulkan ketukan suara yang justru memperindah komposisi iringan tarian mereka. Terjadilah kolaborasi indah dari pipa yang menimbulkan suara yang berbeda tadi.

Kaia Vercammen, bermain dengan sapi. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

"Sapinya mana sih? sapinya yang tadi po?" tak sedikit anak-anak yang terus bertanya-tanya kepada temannya. Tidak ada bentuk visual sapi yang bisa ditangkap anak-anak untuk mewakili judul pertunjukan malam itu. Meskipun suara 'Moooo" berulang kali terdengar. 

Hingga sebuah benda potongan pipa yang dirangkai kotak, dikombinasikan dengan stang sepeda dibagian depan ditarik masuk kepanggung oleh Tessa Wouters . Pola dari kain berwarna hitam dan putih dikaitkan menggantung ditengah benda berbentuk persegi tadi. Terbentuklah sosok sapi yang mungkin sejak tadi menjadi pertanyaan sebagian penonton.

Viktor, bocah lelaki kelas 4 Sekolah Dasar sebuah Panti Asuhan di daerah Gejayan Yogyakarta ini dengan sumringah mengungkapkap kegembiraannya menonton pertunjukan. Meski mengaku tidak begitu paham, Viktor bersama teman-temannya sangat senang dan terhibur.

Tessa Wouters saat badai angin menerpanya yang tengah asyik bermain dalam "Flying Cow" karya Jack Timmerman di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (16/1/2019) malam. (muhammad zukhronneems/koranbernas.id)

Joyce Nijssen, Manager lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis menyampaikan bahwa pertunjukan ini akan menceritakan sesuatu seperti puisi, dengan gambaran bebas menurut imajinasi masing-masing, apa yang dilihat dan dirasakan itu adalah pengalaman pribadi masing-masing.

"Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dengan apa yang kamu lihat. karena bisa saja berbeda dengan teman yang juga menonton disebelahmu. koreografer sapi terbang tidak bermaksud membuat cerita yang harus dipahami dengan cara yang sama oleh semua orang yang menontonnya. seperti melihat bentuk awan, setiap orang boleh melihat bentuk yang lain," terang Joyce sebelum pertunjukan dimulai.

Selain Jakarta dan Yogyakarta, De Stilte juga akan tampil di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/1/2019). (yve)

 


Kamis, 17 Jan 2019, 11:55:31 WIB Oleh : W Asmani 500 View
Hoaks Jelang Pemilu Jangan Dianggap Enteng
Rabu, 16 Jan 2019, 11:55:31 WIB Oleh : Prasetiyo 1157 View
Sekolah Ini Borong Juara Lomba Matematika
Rabu, 16 Jan 2019, 11:55:31 WIB Oleh : Redaktur 440 View
Budidaya Tanaman Cabai Asah Karakter Mahasiswa

Tuliskan Komentar