atas

Ketika Boneka Siap Berpesta

Selasa, 09 Okt 2018 | 23:05:06 WIB, Dilihat 1735 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Ketika Boneka Siap Berpesta Ria Paper Moon menyampaikan paparannya terkait Pesta Boneka di Tujuan Cafe, Selasa (8/10/2018). (muhammad zukhronnee/koranbernas.id)

Baca Juga : Dari Istana Bertemu di Taman Budaya


KORANBERNAS.ID -- Festival Teater Boneka Berskala Internasional, Pesta Boneka kembali digelar tahun ini. Bertajuk "The Journey”, pesta boneka tahun ini mengajak semua orang untuk merayakan makna atas sebuah perjalanan, pengalaman, dan penghargaan atas keragaman budaya dan kultur yang ditemui.

Festival akan berlangsung di IFI (Institute Francais Indonesia, dulu LIP-red) Yogyakarta dan lava Poetry Resto,12-13 Oktober 2018 dan Desa Kepek Bantul, 14 Oktober 2018. Pesta Boneka adalah hajatan dua tahunan yang diinisiasi Maria Tri Sulistyani yang dikenal dengan nama Ria Paper Moon. Ria merupakan pencipta, pemilik, direktur sekaligus artis di Pappermoon Puppet Theatre. Sudah enam kali ini diadakan, pesta boneka menjadi ruang untuk bertemu dan berinteraksi, tidak hanya bagi para seniman teater boneka asai Indonesia namun juga berbagai penjuru dunia.

Ria di Tujuan Cafe, Selasa (8/10/2018) mengatakan pemilihan lokasi yang sengaja berbeda-beda dalam festival itu dimaksudkan untuk memberikan tantangan bagi para seniman saling berinteraksi, mengeksplorasi seluas-luasnya dan menghasilkan karya baru.

"Tahun ini merupakan kali pertama pesta boneka membuka pendaftaran bagi peserta. Proses kurasi kami lakukan mulai dari profil seniman hingga proses kekaryaannya, dan yang paling penting keinginan seniman itu sendiri untuk berbagi," paparnya.

Menurut Ria, melalui berbagai proses itu, pada akhirnya sebanyak 29 grup/seniman multidisiplin dari 17 negara, seperti Indonesia, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Australia, Polandia dan Perancis akan hadir dan mempresentasikan proses kreatif mereka dalam 31 sesi pertunjukan selama tiga hari pelaksanaan festival.

Miyuki Kataoka seniman Tari asal Jepang yang baru dua bulan tinggal di Jogja, mengaku secara khusus datang untuk mempersiapkan pertunjukannya pada pesta boneka kali ini. Miyuki merasa senang bisa ikut terlibat dalam festival.

"Saat masih di Jepang saya harus sering melakukan video call dengan Oscar (Oscar Artunes, seniman musik asal Yogyakarta-red), memperlihatkan apa yang saya kerjakan dan bagaimana memadukannya dengan karya Oscar yang berada di Indonesia. Pernah komunikasi kami terhambat beberapa hari, karena saya harus bepergian ke daerah yang ternyata sinyal kurang bagus untuk telepon video,” kata Miyuki.

Sementara Oscar mengungkapkan, ide kolaborasinya bersama Miyuki muncul justru saat pembicaraan intens di video call, apa yang Miyuki sedang kerjakan dan karya apa yang sedang dia lakukan.

“Hotaru adalah karya kolaborasi kami, Hotaru atau kunang-kunang adalah penggambaran dari keceriaan dan harapan bagi kami. Karena pertemuan ini juga kami jadi tahu ternyata kunang-kunang di Jepang lebih besar ukurannya dari yang ada di Indonesia," jelasnya.

Oscar menjelaskan, dia menyiapkan boneka-boneka yang sudah distilisasi dari alat-alat musik atau disesuaikan tanpa mengubah identitas, Boneka-boneka tersebut terbuat dari wayang kulit, dari kulit asli dan dipahat oleh perajin wayang.

"Harapan saya penonton juga akan mengenal detail wayang kulit meski dalam bentuk yang lebih moderen, terutama penonton dari luar negeri," ungkapnya.

Lain lagi dengan Rangga, Co-director dan Puppeter dari Flyng Balloon Puppet. Dia mendapatkan kesempatan pertamanya berkolaborasi dengan seniman luar negeri, Gwen Knoxx. Dengan seniman multitalented asal Melbourne ini, Flyng Ballon Puppet akan mementaskan "Lembudana-lembudini". Mitologi rakyat daerah Brebes ini akan ditampilkan lebih kekinian dalam karya kolaborasi mereka.

“Gwen itu seniman senior yang sangat disiplin dan tertata, Saat kami ingin mengangkat sisi mitos dari cerita lembudana-lembudini ini dia langsung menolak dan tertawa. Mungkin karena budaya negara yang berbeda membuat Gwen tidak bisa serta merta menerima cerita-cerita mitos seperti ini, harus ada alasan yang kuat untuk membuat Gwen mengerti,” imbuhnya.

Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan, panitia nantinya tidak dipungut biaya, tetapi cukup dengan memberikan donasi berupa buku cerita anak (non-religi) pada saat pesta boneka berlangsung. Buku- buku tersebut akan disumbangkan buat korban bencana alam di Lombok dan Palu.

Selain pertunjukan, 17 sesi lokakarya sudah digelar sejak September hingga 14 Oktober 2018. Melengkapi menu Pesta Boneka #6, puncak acara akan digelar di Desa Kepek Bantul pada 14 Oktober 2018. Diawali dengan belanja di pasar tradisional, nantinya tiap grup seniman akan memasak makanan favoritnya untuk disantap bersama warga dan seluruh pengunjung sebelum pertunjukan berlangsung. (yve)



Selasa, 09 Okt 2018, 23:05:06 WIB Oleh : Arie Giyarto 398 View
Dari Istana Bertemu di Taman Budaya
Selasa, 09 Okt 2018, 23:05:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 383 View
Aksi Panggung Gitaris Rock Berkerudung
Senin, 08 Okt 2018, 23:05:06 WIB Oleh : Sari Wijaya 1892 View
Waspadai, Terorisme Menyasar Kaum Muda

Tuliskan Komentar