kesan-pertama-malioboro-macetJalan Malioboro Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul

Kesan Pertama Malioboro Macet


SHARE

KORANBERNAS.ID – Selama ini, wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Malioboro selalu disuguhi kesan pertama yang terasa kurang mengenakkan: macet.

Citra negatif ini sebenarnya bisa dihindari apabila Jalan Malioboro secara berkelanjutan dibebaskan dari kendaraan bermotor.


Baca Lainnya :

Merespons hal itu, anggota Komisi C DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengusulkan ke eksekutif agar penutupan Malioboro tidak hanya diberlakukan sebulan sekali melainkan sepekan dua kali.

“Uji coba penutupan Malioboro semestinya ditambah sepekan dua kali, hari Sabtu dan Minggu,” ujarnya kepada wartawan di DPRD DIY, Rabu (24/7/2019).


Baca Lainnya :

Menurut dia, berdasarkan uji coba yang sudah berjalan dua kali setiap Selasa Wage, wisatawan merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berkunjung ke Yogyakarta terlebih tatkala menikmati suasana kawasan pusat pariwisata dan pusat perbelanjaan tersebut.

Sebagai salah satu ikon pariwisata Yogyakarta, Jalan Malioboro tidak pernah sepi wisatawan. “Hari-hari itu ramai wisatawan dan kesan pertama yang didapatkan dari Malioboro adalah macet,” ungkapnya.

Seandainya pada hari Sabtu dan Minggu serta hari libur Malioboro dijadikan full pedesterian, Huda yakin akan semakin menarik wisatawan datang ke Yogyakarta.

“Becak kayuh dan pedagang bisa bertambah penghasilannya,” kata dia.

Kebijakan tersebut perlu diikuti aturan bus besar tidak boleh masuk Kota Yogyakarta.

“Kalau perlu bus Trans Jogja sebagian difungsikan menjadi shuttle. Bus besar disediakan parkir di pinggir kota dan disiapkan shuttle,” ucap dia.

Dengan demikian tercipta kawasan-kawasan baru yang berkembang di pinggiran kota. Secara teknis, hal ini perlu dikoordinasikan antara Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY.

Dengan begitu, kesan macetnya Yogyakarta  berkurang signifikan.

“Saya usulkan ke pimpinan Komisi C DPRD DIY untuk mengadakan rapat mengundang Walikota Yogyakarta dan jajarannya terkait hal ini,” tambah anggota dewan dari Fraksi PKS ini.

Dirinya sangat menghargai pelaksanaan uji coba penutupan Malioboro setiap Selasa Wage. Oleh karena itu jadwal penutupan diusulkan perlu ditambah pada hari libur, Sabtu serta Minggu.

“Jika baik, hal ini bisa diteruskan dan jadikan Malioboro sebagai kawasan pedesterian untuk seterusnya. Kita koordinasikan dengan Polisi dan Pemda DIY agar bisa menganggarkan untuk operasional terkait pengalihan arus,” terangnya.

Yang pasti, diupayakan bus-bus besar tidak boleh masuk wilayah Kota Yogyakarta.

Sebagai gantinya, fungsikan Trans Jogja sebagai shuttle. Kawasan Parkir Abu Bakar Ali bisa berfungsi maksimal, dipakai untuk parkir mobil.

Seperti diketahui, uji coba kedua semi pedestrian Jalan Malioboro yang dilaksanakan Selasa Wage (23/7/2019) memperoleh respons positif dari banyak kalangan.

Wisatawan dari berbagai daerah merasakan kenyamanan saat menikmati jalan paling populer itu.

Dimulai pukul 07:00 sampai 21:00 seluruh kendaraan bermotor dilarang melintas kecuali Trans Jogja maupun kendaraan khusus untuk keperluan patroli atau layanan masyarakat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo kepada wartawan menyatakan adanya usulan menutup Malioboro pada hari Sabtu dan Minggu merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan.

Setidaknya berdasarkan hasil evaluasi, wisatawan maupun masyarakat memang merasakan manfaatnya. Wisatawan bisa dengan leluasa menikmati suasana Malioboro.

“Setelah uji coba tiga sampai empat kami pada setiap Selasa Wage kami akan mencoba melakukan uji coba pada hari Sabtu dan Minggu," ujarnya. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini