Minggu, 13 Jun 2021,


keraton-yogyakarta-bagikan-ribuan-rengginang-awet-tersimpan-bertahuntahunAbdi dalem Keraton Yogyakarta usai menerima rengginang. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Keraton Yogyakarta Bagikan Ribuan Rengginang, Awet Tersimpan Bertahun-tahun

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Perayaan Idul Fitri bagi umat muslim adalah momen menjalin silaturahmi dan berbagi kebahagiaan kepada semua. Begitu pun Keraton Yogyakarta. Setiap kali Idul Fitri ini raja keraton membagikan hasil bumi kepada masyarakat yang dibentuk menjadi tujuh gunungan.


Pada saat sebelum pandemi, tradisi berusia ratusan tahun ini selalu ditunggu-tunggu masyarakat Yogyakarta dan wisatawan dari berbagai daerah. Tujuh buah gunungan diarak dari Pagelaran Keraton Yogyakarta menuju halaman Masjid Agung (Masjid Gedhe) Kauman.

  • Siswa SMAN 10 Yogyakarta Pameran di TBY
  • Delapan Kecamatan di Jogja Ini Ramah Difabel

  • Di masjid ini, Kiai Penghulu dan para ulama Keraton beserta para abdi dalem memanjatkan doa-doa, selanjutnya dibagikan ke masyarakat dan sebagian dibawa menuju Kepatihan dan Puro Pakualaman.

    Setahun lebih pandemi, Keraton Yogyakarta pun meniadakan beberapa tradisi yang selalu menjadi tontonan masyarakat ini. Termasuk Hajad Dalem Garebeg Syawal dan Hajad Dalem Ngabekten yang biasanya dilaksanakan usai salat Id. Ini merupakan upaya antisipasi penyebaran Covid-19.


    Tanpa mengurangi esensi memperingati Idul Fitri 1442 Hijriah, Kamis (13/5/2021), Keraton Yogyakarta membagikan tiga ribu lebih rengginang kepada abdi dalem serta dikirim ke Kepatihan dan Puro Pakualaman.


    Rengginang berbahan ketan berwarna ini dibuat menyerupai bunga dengan tangkai bilah-bilah bambu. Rengginang ini merupakan simbolisasi sedekah hasil bumi yang melimpah dari Keraton Yogyakarta kepada masyarakat.


    Prosesi tanpa arak-arakan gunungan ini dipimpin oleh putri sulung Raja Keraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi. Dalam prosesi kali ini hadir pula putri Sultan lainnya seperti GKR Condrokirono, GKR Maduretno dan GKR Hayu.

    Rengginang yang biasa dirangkai bersama sayur, buah dan hasil bumi lainnya diwujudkan dalam bentuk gunungan. Kali ini rengginang dirangkai lebih sederhana yaitu ditancapkan di batang pisang yang dilengkapi berbagai uba rampe lainnya.

    "Karena pandemi, hanya abdi dalem keraton yang menerima rengginang. Untuk di masjid (Gedhe Kauman) ditiadakan agar tidak ada kerumunan, karena biasanya gunungan di masjid digarebeg rakyat," ungkap Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhahadiningrat, Wakil Penghageng Tepas Tandha Yekti, di sela-sela prosesi.

    Hal ini juga sebagai bentuk konsistensi keraton dalam melestarikan budaya di berbagai situasi, termasuk saat pandemi dengan segala protokol kesehatan yang menyertainya.

    Awet

    Menurut Gusti Yudha, Rengginang dirangkai seperti bunga dengan bahan utama dari ketan. Ketan yang bersifat lengket mengandung makna garebeg dan gunungan dapat membuat rakyat dan raja dapat saling erat terikat.

    "Rengginang ini sudah dibuat beberapa hari agar awet dan kering, juga agar tidak jamuran dan rusak sehingga bisa disimpan bertahun-tahun," jelasnya.

    Meski tidak ada prosesi gunungan garebeg seperti tahun-tahun sebelum pandemi, lanjut Gusti Yudha, upacara kali ini tidak menghilangkan esensi hajad dalem. Sebab yang terpenting doa kiai, abdi dalem dan lainnya.

    "Sebelum upacara, kiai mendoakan kepada Allah SWT agar diberikan kesejahteraan, keamanan dan tetap guyub rukun, semua bisa berjalan dengan baik," ujarnya. (*)



    SHARE


    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini