atas1

Kepustakawanan dan Keistimewaan DIY

Senin, 06 Jan 2020 | 10:13:35 WIB, Dilihat 296 Kali
Penulis : Sarwono, MA
Redaktur

SHARE


Kepustakawanan dan Keistimewaan DIY Sarwono, MA (Foto: Dokumen Pribadi/Koran Bernas)

Baca Juga : Antologi Kepak Sayap Waktu Karya 49 Penyair Diluncurkan


PRESTASI kepustakawanan DIY cukup diakui di tingkat nasional.  Hal ini dibuktikan dengan raihan prestasi yang bisa dikatakan cukup spektakuler. Sebagai contoh kita dapat melihat 3 kategori lomba kepustakawanan, yaitu lomba pustakawan berprestasi, lomba perpustakaan desa dan lomba perpustakaan sekolah. Untuk pemilihan pustakawan berprestasi tingkat nasional, prestasi DIY cukup membanggakan dengan meraih juara 1 (satu) selama lima tahun berturut-turut. Tahun 2015 juara 1 nasional diraih Siti Indarwati dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul. Berikutnya secara berturut-turut tahun 2016 diraih oleh Agung Wibawa dari DPK Gunungkidul, tahun 2017 diraih oleh Purwani Istiana dari UGM, tahun 2018 diraih Anang Fitrianto dari Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY dan tahun 2019 diraih oleh Arda Putri dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Hal ini tidak mengherankan, karena jumlah pustakawan di DIY cukup banyak dan tersebar di berbagai instansi dan perguruan tinggi negeri maupun swasta. Lebih dari 300 orang pustakawan yang menjadi anggota Ikatan Pustakawan Indonesia DIY. DIY juga memiliki  4 orang pustakawan utama, jabatan puncak pustakawan. Dua orang dari UGM yang sekarang mengabdi di Stikes Notokusumo dan Universitas Muhammadiyah. Dua orang pustakawan utama berikutnya berasal dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY serta dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman. Keberadaan pustakawan utama membawa pengaruh positif terhadap pustakawan.

Untuk pemilihan perpustakaan desa tingkat nasional, prestasi perpustakaan desa di DIY juga cukup menonjol. Pada tahun 2016 Perpustakaan Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman yang mewakili DIY meraih prestasi terbaik dengan menempati juara 1 perpustakaan desa tingkat nasional. Tahun berikutnya yaitu tahun 2017 Perpustakaan Generasi Sukoharjo Cerdas dari Sukoharjo, Ngaglik, Sleman meraih juara 2 tingkat nasional. Perpustakaan Desa Wukirsari, Imogiri dari Bantul meraih juara 3 pada tahun 2018. Wakil dari DIY kembali berjaya menjadi juara 1 pada tahun 2019 yang diraih oleh Perpustakaan Sumber Ilmu dari desa Balecatur, Gamping, Sleman.

Kepustakawanan DIY makin berkibar dengan Raihan prestasi perpustakaan sekolah. Perpustakaan SMAN 2 Bantul meraih juara 1 pada tahun 2017, perpustakaan SMAN 1 Wonosari mempertahankan raihan DIY dengan menyabet juara 1 perpustakaan sekolah tingkat nasional tahun 2018 dan pada tahun 2019 ini SMAN 1 Jetis Bantul menduduki peringkat ke-2 nasional.  Satu prestasi lagi yang ditorehkan oleh wakil DIY belum lama ini adalah “Sepatu Jolifa” yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY. Yang dimaksud dengan Sepatu Jolifa adalah Program Sistem Perpustakaan Terpadu Jogja Library for All. Yaitu sistem yang menawarkan layanan perpustakaan secara online yang bisa diakses melalui www.jogjalib.com, maupun offline dengan mengakses layanan silang kunjung maupun silang pinjam. Program ini masuk ke 45 top pelayanan publik dan  mendapatkan penghargaan dari Kementerian PAN dan RB.

Melihat prestasi yang diraih oleh wakil-wakil DIY di tingkat nasional tersebut, sudah selayaknya Pemerintah Daerah DIY dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-DIY memberikan perhatian lebih terhadap dunia kepustrakawanan di DIY. Hal ini penting dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi kepustakawanan DIY di tingkat nasional maupun internasional.

 

Danais untuk Kepustakawanan

Seni dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa tahun terakhir ini sangat marak berkembang di masyarakat. Berbagai event kebudayaan dapat diselenggarakan dengan dana keistimewaan DIY. Perpustakaan dan pustakawan adalah dua hal yang sebenarnya sangat dekat dan bersinggungan dengan kebudayaan.  Salah satu tugas perpustakaan adalah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah. Dan pemerintah provinsi maupun kabupaten berkewajiban mengembangkannya sesuai dengan amanat UU RI Nomor 43 tahun 2007 pasal 8 butir f.

Pasal 22 ayat 2 dalam undang-undang tersebut juga menyebutkan Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya daerah masing-masing dan memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kegiatan kepustakawanan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan dana keistimewaan DIY. Tentu tidak semua kegiatan kepustakawanan dapat dibantu dana keistimewaan. Dana diprioritaskan untuk kegiatan meningkatkan kapasitas pustakawan dan peningkatan kualitas perpustakaan untuk mendukung layanan kepada masyarakat.

 

Peran organisasi profesi

Organisasi profesi pustakawan, IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia) sebagai rumah besarnya pustakawan, memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pustakawan sebagai pengelola perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pasal 34 ayat 2 Undang-undang RI Nomor 43 tahun 2007 yang menyatakan bahwa organisasi profesi berfungsi memajukan dan memberikan perlindungan profesi pustakawan. Maju tidaknya perpustakaan dan kepustakawanan salah satunya ditentukan oleh pustakawan. IPI dapat mengambil peran besar dan bekerja sama dengan pemerintah DIY, dinas perpustakaan dan kearsipan serta intansi maupun otganisasi lain.

Pemerintah pun dapat mengoptimalkan peran organisasi profesi in untuk mengembangkan perpustakaan dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan maupun kemampuan pustakawannya. ***

 

Sarwono, MA

Pustakawan UGM dan Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia DIY.



Minggu, 05 Jan 2020, 10:13:35 WIB Oleh : Arie Giyarto 212 View
Antologi Kepak Sayap Waktu Karya 49 Penyair Diluncurkan
Minggu, 05 Jan 2020, 10:13:35 WIB Oleh : Sari Wijaya 367 View
Beragam Kegiatan Tandai Satu Dekade JKM
Minggu, 05 Jan 2020, 10:13:35 WIB Oleh : W Asmani 1403 View
Kupu-Kupu Ayu Seruduk Pohon, Enam Orang Terluka

Tuliskan Komentar