atas1

Kemenangan dan Kekalahan

Kamis, 20 Jun 2019 | 16:41:12 WIB, Dilihat 408 Kali - Oleh Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

SHARE


Kemenangan dan Kekalahan Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, SH, MSi.

Baca Juga : Pemkab Ingatkan Bahaya Menyembelih Hewan yang Mati Mendadak


MEMAKNAI kemenangan dan kekalahan itu penting, walaupun tidak mudah. Tepat atau tidaknya, luas atau sempitnya pemaknaan, akan menentukan rona kehidupan bersama dan arah perjalanan bahtera negara berlabuh. Kebetulan, pada penghujung bulan Juni 2019 ini ada tiga momentum kemenangan dan kekalahan, yakni: Liga Champions, Pemilu serentak, dan ibadah ramadhan. Ketiganya amat menarik dipelajari demi pendewasaan diri dalam kehidupan bersama.

Pertama, perhelatan sepak bola antarklub Eropa paling bergengsi yaitu Liga Champions baru saja berakhir. Liverpool keluar sebagai pemenang setelah mampu mengalahkan Tottenham Hotspur di babak final dengan skor 2-0 (Minggu, 2 Juni 2019). Kemenangan diraih melalui perjuangan berat dan spektakuler. Kekalahan yang diderita dengan skor 0-3 dari Barcelona di leg pertama, ternyata dapat dibalik menjadi kemenangan 4-0 di leg kedua. Sungguh luar biasa. Prediksi pendukung Barcelona ternyata meleset. Ada kekuatan lain bergayut, sehingga keajaiban terjadi. Kemenangan di babak perempat final itu justru terasa lebih mengesankan daripada kemenangan di babak final. Liverpool juara. Pantas mereka dan pendukungnya bergembira-ria. Selebrasi kemenangan dirayakan dalam koridor sportivitas, tanpa menyinggung perasaan lawan yang dikalahkan. Inilah kemenangan dan kekalahan dalam ranah sportivitas.

Kedua, di bulan ini, suhu politik masih hangat. Semua komponen bangsa dihinggapi perasaan dig, dig, dug. Pemilu serentak belum selesai secara total dan tuntas. Proses penentuan siapa pemenang Pilpres masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi. Prediksi sudah banyak. Kemungkinan terjadi pembalikan keadaan (walaupun ada), tetapi sangat kecil. Pihak yang merasa sudah menang, belum tenang. Apalagi pihak yang merasa kalah, masih berjuang dengan sisa-sisa kekuatannya. Pada saat yang tepat, kemenangan resmi akan diumumkan oleh institusi berwenang. Akankah kemenangan dirayakan dengan selebrasi? Pasti. Persoalannya, selebrasi macam apa yang dipandang tepat sehingga kemenangan diapresiasi semua pihak? Kemenangan dan kekalahan dalam Pilpres adalah bersifat politis.

Ketiga, di bulan Mei-Juni 2019 ini pula, umat Islam menjalani ibadah puasa ramadhan. Intisari puasa adalah pengendalian diri. Nafsu, sebagai motor penggerak perilaku, perlu dikendalikan. Nafsu yang cenderung melampaui batas, direm dan dikelola secara proporsional, agar tetap eksis, fungsional, dan maksimal dalam mendukung aktivitas-aktivitas. Makan, minum, dan hubungan seksual suami-isteri bukannya dilarang, melainkan dikendalikan. Hanya dihalalkan untuk waktu yang ditentukan. Direntang lebih jauh, aktivitas-aktivitas lainnya, juga perlu dikendalikan agar senantiasa berada di jalan kebenaran, kemuliaan, demi kesejahteraan lahir-batin, dunia-akhirat. Ketika puasa berhasil, maka diperolehlah kemenangan. Itulah kemenangan besar, yakni kemenangan dalam ranah spiritual-religius.

Sudah sejak lama, manusia berburu kemenangan. Bukan barang baru, kalau ternyata kekalahan menimpanya. Kompetisi merupakan wahana untuk meraih kemenangan secara sah. Agar supaya kompetisi berjalan fair dan kemenangan diterima sebagai buah perjuangan, maka diperlukan moralitas dan aturan main. Semua pihak perlu paham dan komitmen untuk taat pada moralitas dan atauran main. Atas dasar kesadaran demikian, maka kemenangan akan terasa manis, dan kekalahan pun tetap terlihat indah. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.

Roda kehidupan terus berputar. Itulah kehendak Ilahi, sunatullah, hukum alam. Daripadanya diharapkan manusia dapat semakin dewasa memaknai setiap kejadian. Tidak selamanya Liverpool juara. Tidak selamanya kubu tertentu menang dalam Pilpres. Tidak selamanya pula manusia kalah melawan hawa nafsu. Kemenangan ataupun kekalahan sesungguhnya merupakan energi pembangkit,  motivator dan generator untuk meraih kehidupan lebih baik. Kompetisi di bidang apapun, perlu sportivitas, idealitas, dan wawasan spiritual-religius. Sikap pragmatis dan wawasan sempit (keduniawian saja), perlu dibuang jauh-jauh. Mesti diinsyafi, bahwa hidup dan kehidupan bukannya sekadar lima tahunan, melainkan proses panjang, dan akan bermuara pada pertanggungjawaban di hadapan Ilahi Robi.

Orang bijak, orang beradab, orang bertaqwa, orang ber-Pancasila, terindikasikan sebagai orang yang terus berjuang memaknai kemenangan ataupun kekalahan dengan tabah, sabar dan syukur. Tidaklah pantas kemenangan disikapi dengan lupa diri, sombong, takabur. Tidak pantas pula kekalahan disikapi dengan rintihan, depresi, apalagi anarkhi. Liga Champions, Pilpres, dan puasa ramadhan masih ada lagi. Semoga kita semakin dewasa mensikapinya. Salam Pancasila. **

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, SH, M.Si.

Guru besar ilmu hukum UGM



Kamis, 20 Jun 2019, 16:41:12 WIB Oleh : Nila Jalasutra 255 View
Pemkab Ingatkan Bahaya Menyembelih Hewan yang Mati Mendadak
Kamis, 20 Jun 2019, 16:41:12 WIB Oleh : Nila Jalasutra 344 View
Tumbuhan Minat Baca Melalui Lomba Esai
Kamis, 20 Jun 2019, 16:41:12 WIB Oleh : Nila Jalasutra 228 View
Pemkab Siapkan Langkah Lindungi HKI Pelaku Industri

Tuliskan Komentar