atas

Kematian Ibu Melahirkan Sangat Tinggi, Ini Sebabnya
Penolakan terhadap LGBT Sebatas Demo, Saatnya Lakukan Perlawanan

Rabu, 14 Nov 2018 | 14:28:39 WIB, Dilihat 617 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Kematian Ibu Melahirkan Sangat Tinggi, Ini Sebabnya Dr Ir Dwi Sulistyawardhani MSc, salah seorang narasumber talkshow di RSPAU dr S Hardjolukito. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Ini Pesan Mantan Sekda Sleman, Kuncinya Profesionalitas


KORANBERNAS.ID -- Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Pusat Dr Ir Dwi Sulistyawardhani MSc menegaskan, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih sangat tinggi dan itu sangat memprihatinkan.

Di antara penyebabnya adalah karena kehamilan dianggap sesuatu yang biasa bagi kaum wanita sehingga semua dibiarkan berjalan begitu saja.

"Padahal kita tidak tahu, bisa terjadi kelainan dalam kehamilan seorang wanita," kata Bu Dhani, begitu dia akrab disapa, saat menjadi narasumber talkshow bertajuk Keluarga Pilar Utama dalam Mewujudkan Keluarga Berkualitas, Selasa (13/11/2018),  di RSPAU dr S Hardjolukito Yogyakarta.

Secara pribadi, Dhani pernah mengalami ketidakpahaman mengenai kondisi kehamilan, pada saat dia hamil di usia 38 tahun. Setelah konsultasi dengan dokter, proses persalinannya pun dilakukan sesuai kebutuhan.

Tingginya angka kematian ibu melahirkan antara lain disebabkan terlalu sering melahirkan, terlalu rapat jaraknya, terlalu muda sehingga organ reproduksinya belum siap.

Atau sebaliknya terlalu tua melahirkan. Juga karena terlambat mendapatkan penanganan bidan maupun dokter.

Angka menunjukkan seorang di antara remaja yang seharusnya masih sekolah ternyata sudah menikah muda dengan segala risikonya.

Dia menilai  DIY sudah memiliki fasilitas dan tempat-rempat pelayanan kesehatan yang bagus. Berbeda dengan di Indonesia Timur yang wilayahnya sulit dijangkau dan fasilitas pelayanan kesehatannya sangat terbatas.

Ketersediaan tenaga pelayanannya pun masih sangat minim. "Itulah mengapa mama-mama di Papua takut hamil karena takut mati saat melahirkan. Kalau saya mati siapa mengurus anak saya," katanya menirukan.

Mereka secara sembunyi-sembunyi mengikuti KB agar tidak mati saat melahirkan.  Sebaliknya kaum pria Papua tidak suka istrinya KB lantaran banyak anak berarti kekuatan untuk sukunya.

Dia berharap agar kehamilan harus dijaga sejak janin berada dalam kandungan.  Ibu hamil harus mendapatkan gizi yang cukup dan melakukan pemeriksaan rutin di tempat pelayanan kesehatan. Tujuannya supaya bayi maupun ibunya selamat saat melahirkan.

Fenomena LGBT

Masalah lain yang sangat perlu memperoleh perhatian adalah LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Fenomena ini telah mendunia dan diam-diam sudah masuk Indonesia.

Sayangnya masalah yang berkaitan erat dengan pembentukan kualitas generasi muda disertai berbagai risiko fisik maupun moral itu kurang diperhatikan. Artinya, sudah saatnya semua pihak melakukan perlawanan.

Penolakannya masih sebatas demo-demo. Jajaran BKKBN mengajak semua lapisan masyarakat mewaspadai gejala-gejala fenomena LGBT, terutama pada tingkat keluarga-keluarga, agar remaja terhindar dari fenomena buruk itu.

Hal ini sangat penting karena keluarga merupakan benteng terkuat mencegah angka kematian ibu melahirkan maupun merasuknya LGBT yang diam-diam meracuni generasi muda kita.

"Kenalilah gejala-gejalanya sehingga langkah-langkah  pencegahan bisa menyelamatkan generasi mendatang," katanya.

Selain Deputi KBKR, talkshow semakin hangat dengan tampilnya Dr dr Eugenius Phyowal Ganap SpOG (K).  Talkshow diikuti 150 peserta dari berbagai mitra kerja pendukung suksesnya program KB. (sol)



Rabu, 14 Nov 2018, 14:28:39 WIB Oleh : Nila Jalasutra 114 View
Ini Pesan Mantan Sekda Sleman, Kuncinya Profesionalitas
Selasa, 13 Nov 2018, 14:28:39 WIB Oleh : Nanang WH 310 View
Tembang The Black Superman Merambah Desa
Selasa, 13 Nov 2018, 14:28:39 WIB Oleh : Masal Gurusinga 103 View
Sulitnya Awasi Pembelian Solar Bersubsidi

Tuliskan Komentar