atas

Kasus DBD Naik Tapi Korban Meninggal Turun

Jumat, 08 Feb 2019 | 00:55:24 WIB, Dilihat 174 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Kasus DBD Naik Tapi Korban Meninggal Turun Peneliti WMP Riris Andono Ahmad memperlihatkan penelitian nyamuk ber-Wolbachia di UGM, Kamis (7/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Ini Cara Atlit Ikut Lestarikan Budaya


KORANBERNAS.ID -- Di awal tahun ini, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan. Selama Januari 2019, tercatat ada 35 kasus demam berdarah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (dinkes) Kota Yogyakarta, jumlah tersebut meningkat cukup tinggi dibandingkan periode sama di tahun 2018 yang hanya terdapat 7 kasus. Namun berbeda dari sebelumnya, hingga kini belum ada korban meninggal akibat DBD.

Dinkes mencatat, puncak kasus DBD terjadi pada 2016 dengan jumlah 1.705 kasus dan 13 kematian. Jumlah ini turun di tahun 2017 dan 2018 masing-masing 414 kasus dengan 2 kematian dan 113 kasus dengan 2 kematian.

Perubahan ini terjadi karena adanya peningkatan kewaspadaan, pencegahan, serta penanggulangan DBD. Diantaranya yang dilakukan oleh World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta dengan melakukan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eleminasi Dengue (AWED) Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

AWED sejak 2016 dengan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah kecamatan di Kota Yogyakarta dan penyebaran telah selesai dilakukan pada 2017. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan teknologi Wolbachia dalam mencegah penularan DBD di Kota yogyakarta.

Dari hasil pemantauan, lebih dari 90 % nyamuk Ae. Aegypti di Kota Yogyakarta sudah ber-Wolbachia. Untuk itu WMP Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan perekrutan pasien demam yang berobat di 18 puskesmas/ puskesmas pembantu di Kota Yogyakarta dan 1 puskesmas di Kabupaten Bantul.

"Kami melakukan studi di dua wilayah yakni wilayah dengan intervensi nyamuk ber-Wolbachia dan wilayah yang tidak diintervensi nyamuk ber-Wolbachia," papar peneliti Utama World Mosquito Program (WMP), Prof. Adi Utarini di UGM, Kamis (7/2/2019).

Menurut Adi, pembagian wilayah ini dilakukan untuk mendapatkan perbandingan kasus DBD di wilayah pelepasan Wolbachia. Setiap pasien demam yang datang ke puskesmas akan ditanya kesediaannya mengikuti studi ini. Disebutkan, sejak penelitian dimulai pada 2018 lalu hingga akhir Januari 2019 ini sudah ada 3.400 pasien yang berpartisipasi menjadi responden penelitian. Namun hasil studi baru bisa diketahui pada tahun 2020 mendatang.

"Kami menyampaikan setiap perkembangan ke dinas kesehatan,” jelasnya.

Adi Utarini menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan jika mengalami demam untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Sebab fatalitas biasanya terjadi karena kurang waspada sehingga terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan.

"Saat ini puskesmas di Kota Yogyakarta telah ada perangkat tes untuk diagnosis dini DBD,” tandasnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyampaikan paparannya terkait kasus DBD Kota Yogyakarta di UGM, Kamis (7/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Ditambahkan peneliti EDP lainnya, Riris Andono Ahmad, berdasarkan pemantauan WMP Yogyakarta terhadap nyamuk di Kota Yogyakarta diketahui di awal musim penghujan ini terjadi peningkatan yang sangat nyata dari populasi Ae. Aegypti. Populasi jauh lebih tinggi di bulan yang sama di 2017 dan 2018. Namun hampir sama dengan data di 2016 saat terjadi puncak kasus DBD. Sedangkan tahun 2019 memiliki curah hujan yang tinggi dan rapat.

“Saat tahun basah banyak curah hujan sehingga ada peningkatan populasi nyamuk dan hall ini berkorelasi dengan transmisi penyakin yang akan meningkatkan kasus DBD,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta menggalakkan program pencegahan penyebaran DBD. Diantaranya kerjasama dengan UGM melalui World Mosquito Program dengan melepaskan nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah kecamatan Kota Yogyakarta.  

"Kami juga  mengeluarkan himbauan untuk terus menggalakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Langkah lain dengan menggalakan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan Sambang Kampung, dan aktivitas pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektoral," imbuhnya. (yve)



Jumat, 08 Feb 2019, 00:55:24 WIB Oleh : Sari Wijaya 148 View
Ini Cara Atlit Ikut Lestarikan Budaya
Jumat, 08 Feb 2019, 00:55:24 WIB Oleh : W Asmani 6449 View
Wajibkan Siswa Berjilbab, ORI Periksa SMPN 8
Kamis, 07 Feb 2019, 00:55:24 WIB Oleh : Sholihul Hadi 280 View
Widyaiswara Profesi yang Menarik

Tuliskan Komentar