atas1

Kapan Perlu Suntik Insulin, Ini Kata Dokter

Minggu, 14 Jul 2019 | 22:31:59 WIB, Dilihat 10125 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Kapan Perlu Suntik Insulin, Ini Kata Dokter Pemeriksaan gula darah peserta #beatdiabetesdi halaman parkir Indogrosir, Minggu (14/7/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Penyakit Ini Dikenal dengan Seribu Wajah


KORANBERNAS.ID – Suntik insulin merupakan salah satu cara untuk mengobati penyakit Diabetes Melitus atau DM. Namun demikian, belum semua lapisan masyarakat memahami mengenai suntik insulin, bagaimana cara kerjanya serta kapan perlu melakukannya.

“Pemahaman masyarakat bahwa insulin hanya digunakan oleh pasien yang punya sakit DM tingkat tinggi, itu tidak benar,” ungkap dr Arif Darmawan, Dokter Residen Penyakit Dalam RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

Di sela-sela acara kampanye #BeatDiabetes di Halaman Parkir Indogrosir Yogyakarta, Minggu (14/7/2019), dia menjelaskan suntik insulin mampu mengatur kadar gula darah.

Cara kerja insulin buatan hampir sama dengan hormon insulin alami yaitu mengolah gula darah menjadi energi. Selain itu, insulin juga mencegah hati memproduksi kadar gula berlebih.

“Penyebab DM kan banyak macamnya, tetapi inti utama penyebabnya adalah karena insulin alami dalam tubuh secara kualitas tidak bagus. Maka satu-satunya obat yang paling tepat adalah suntik insulin,” kata dia.

Tetapi, lanjut dia, dokter akan memilih insulin yang tepat tergantung kondisi pasien. “Kalau memang pasien punya sakit gula disertai ginjal atau punya sakit hati, pilihan dokter yang paling tepat adalah insulin. Karena insulin merupakan obat DM yang memiliki efek samping paling kecil," lanjut Arif.

Meskipun insulin merupakan obat yang paling tepat namun satu-satunya obat yang paling baik adalah gaya hidup sehat.

“Percuma menggunakan insulin mahal harganya bahkan sampai impor dari luar negeri. Kalau gaya hidup tidak sehat ya percuma," tandasnya.

Dokter Arif Darmawan mengakui adanya hoaks atau pemahaman yang keliru seputar penyakit Diabetes Melitus. Antara lain, jika tidak ada sejarah keturunan yang mengidap DM, berarti akan aman-aman saja tidak bisa terjangkit.

Padahal DM bukan saja karena faktor keturunan tetapi berdampingan dengan faktor genetik dan faktor lingkungan. Terutama faktor pola hidup yang tidak sehat, kemudian aktivitas fisik yang rendah serta pola makan yang tidak bagus.

"Kalau memang hidupnya sehat mungkin dia hanya terkena DM, tetapi DM-nya tidak komplikasi dengan penyakit lain karena dia sudah mempunyai pola hidup yang sehat. Berbeda jika orang tidak mempunyai pola hidup yang sehat, selain terkena DM biasanya akan ada komplikasi dengan penyakit-penyakit lain," terangnya.

Arif melanjutkan, terdapat pemahaman yang salah terkait silang genetik keturunan yang terjangkit DM. Kebanyakan beranggapan apabila yang terkena DM itu ibu maka anak laki-laki yang kena. Sebaliknya jika ayah yang terkena DM maka yang akan terjangkit anak perempuannya.

"Nah, hal itu tidak benar, jadi hukum genetikanya tidak masuk ke sana. Tidak autosom dominan terhadap laki-laki atau perempuan. jadi akan menyebar begitu saja, bisa ke perempuan bisa ke laki-laki. Tapi misalnya yang terjangkit hanya ibunya maka risiko ke anak mungkin sekitar tiga persen tetapi jika kedua kedua orang tua terjangkit DM maka anaknya berisiko terjangkit lebih besar," terang Arif.

Senam sehat bersama di halaman parkir Indogrosir, Minggu (14/7/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Ajak peduli

Dalam rangka memperingati Hari Diabetes Nasional yang jatuh pada 12 Juli 2019, melalui kampanye #BeatDiabetes Tropicana Slim mengajak masyarakat Indonesia meningkatkan kepedulian mencegah dan melawan hoaks kesehatan, khususnya terkait diabetes.

Sebagai brand yang sudah lebih dari 40 tahun konsisten menginspirasi masyarakat Indonesia hidup sehat,  #BeatDiabetes Tropicana Slim merupakan wujud komitmen mengedukasi masyarakat Indonesia agar semakin cerdas memilih informasi yang benar terkait kesehatan, termasuk informasi tentang diabetes.

Lebih dari 500 orang mengikuti rangkaian kegiatan #BeatDiabetes yang didukung oleh Tokopedia, Le Minerale, Accu-Check, Indogrosir dan Persadia. Aneka kegiatan digelar termasuk kegiatan cek gula darah, senam bersama dan zumba.

Untuk melawan hoaks terkait kesehatan diperlukan kolaborasi berbagai pihak. Tropicana Slim berkolaborasi dengan rumah sakit, praktisi kesehatan, restauran dan kafe, retailer, komunitas kesehatan serta masyarakat umum.

Secara nasional, acara ini melibatkan kurang lebih 20.000 peserta dari berbagai penjuru Tanah Air dan diadakan serentak di 33 kota di Indonesia, meliputi Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Purwokerto, Jogja, Surabaya, Malang, Kediri, Medan, Padang, Pematangsiantar, Palembang, Bandar Lampung, Jambi, Bengkulu, Pangkal Pinang, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya, Makassar, Manado, Palu, Bone, Gorontalo, Denpasar, Mataram, Ambon hingga Jayapura.

Brand Manager Tropicana Slim, Noviana Halim, mengatakan pesatnya perkembangan teknologi digital saat ini memungkinkan informasi tersebar begitu cepat termasuk informasi kesehatan.

Sayangnya, banyak informasi tersebut yang keliru atau biasa disebut hoaks sehingga sangat berpotensi merugikan masyarakat.

Berdasarkan laporan Kementerian Kominfo, hoaks kesehatan menempati peringkat dua terbanyak setelah politik. Data Dewan Pers Indonesia, 95 persen informasi kesehatan yang tersebar di WhatsApp merupakan hoaks.

“Melalui kampanye #BeatDiabetes, Tropicana Slim mengajak masyarakat semakin berhati-hati dengan informasi kesehatan yang tersebar, termasuk hoaks tentang diabetes,” papar Noviana.

Pihaknya juga mengadakan kegiatan senam sehat bersama, untuk mengajak masyarakat beraktivitas fisik sebagai salah satu upaya hidup sehat dan mencegah diabetes.

Sedangkan pemeriksaan gula darah kepada para peserta sebagai bentuk deteksi dini diabetes. Peeriksa gula darah secara dini dan rutin penting dilakukan mengingat penyakit diabetes tidak memiliki gejala pada tahap awal.

Harapannya, para diabetesi dapat memperoleh penanganan sedini mungkin untuk menghindari timbulnya komplikasi.

“Masyarakat Indonesia masih berpersepsi makanan sehat itu pasti kalah nikmat dibanding makanan tidak sehat. Persepsi ini keliru. Melalui acara #BeatDiabetes, kami menghadirkan festival makanan minuman dengan berbagai sajian makanan minuman bebas atau rendah gula dan tetap nikmat, sehingga dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi diabetesi,” kata dia.

Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. “Konsumsi gula harus dibatasi namun rasa manis tetap dapat dinikmati dengan  pemanis rendah kalori seperti produk kami,” kata Noviana. (sol)



Minggu, 14 Jul 2019, 22:31:59 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 531 View
Penyakit Ini Dikenal dengan Seribu Wajah
Minggu, 14 Jul 2019, 22:31:59 WIB Oleh : B Maharani 1641 View
Hoaks Diabetes Berseliweran dan Menyesatkan
Minggu, 14 Jul 2019, 22:31:59 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 530 View
Teater Alam Garap Karya Pemenang Pulitzer

Tuliskan Komentar