atas1

Jogja Tak Butuh Undang-undang Permusikan

Minggu, 03 Mar 2019 | 23:03:16 WIB, Dilihat 1186 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Jogja Tak Butuh Undang-undang Permusikan Diar Sahudi bersama musisi Yogyakarta tampil dalam aksi panggung rakyat menolak RUU-P, di kawasan Tugu Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019). (dok. Aliansi Masyarakat Musik Jogja)

Baca Juga : Purbalingga Penampil Terbaik se-Barlingmascakeb


KORANBERNAS.ID -- Rancangan Undang-undang Permusikan (RUU-P) tak henti-hentinya ditentang. Hampir seluruh musisi nasional baik yang sudah punya panggung hingga yang belum mendapatkan ruang berekspresi nan pantas.

Semua dipersatukan oleh penolakan terhadap RUU-P, terutama pasal pengekangan terhadap kebebasan berekspresi pasal 4 ayat 1, pasal 5 dan pasal 50. Hampir semua sepakat, bahwa kebebasan berekspresi adalah mutlak, sesuai amanat UUD 45 pasal 28 dan UU Pemajuan Kebudayaan pasal 3.

RUU Permusikan yang masuk dalam prolegnas prioritas 2019 DPR RI menjadi polemik. Mulai dari naskah akademik hingga 80 persen pasal yang bermasalah, termasuk pasal karet yang rentan mengkriminalisasi seniman.

Erlina Rahmawati, koordinator Aliansi Masyarakat Musik Jogja menyatakan bahwa definisi musik yang tidak berkonten sara, tidak berkonten pornografi atau bahkan tidak berkonten provokasi itu kan area abu-abu.

"Kita sebagai musisi mungkin hanya bermaksud curhat, eh ternyata hukum punya pendapat lain, dan akhirnya bisa siapa saja melaporkan, jadi kalau gak senang dengan seseorang itu bisa langsung dilaporkan," paparnya disela panggung rakyat di kawasan Tugu Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019).

Meski tidak secara ekplisit melarang musisi melakukan pertunjukan, lanjut Erlina bunyi pasal yang mengharuskan melangsungkan pertunjukan melewati promotor yang berbadan hukum kemudian didistribusikan harus lewat distributor berbadan hukum itu merupakan pembatasan.

"Jadi kalau ada yang genjrang-genjreng wis ora iso, kudu lewat promotor. trus kalau kita mau melakukan fundrising atau membagikan karya musik ke teman-teman yo raiso," ujarnya.

Panggung rakyat yang digelar hingga tengah malam ini pertama kali diadakan. Ada lebih dari 20 musisi solo dan grup yang ikut terlibat. Antara lain Kepal SPI, Nada Bicara, Komunitas Beatles Jogja, Deugalih, Indonesia Reggae Community, Rupagangga, Paguyuban Angklung Yogyakarta, Dendang Kampungan, Sisir Tanah, Komunitas Jazz Etawa Jogja, hingga Sirkus Barock.

"Meski akhirnya banyak teman-teman musisi yang juga ingin ikut sabagai penampil, pada japri pingin ikut manggung, ya... datang aja, itu sudah merupakan support buat gerakan ini. toh nanti bisa nge-jam bareng. Kami akan terus merangkul semua masyarakat musik Jogja," lanjut Erlina yang juga vokalis Nada Bicara ini

Erlina mengatakan akan terus ada panggung-panggung seperti yang mereka gelar. Aksi itu diharapkan menjadi corong masyarakat musik ke DPR sampai RUU-P ini batal.

Aliansi Masyarakat Musik Jogja juga menyesali saling-lempar tanggungjawab yang terlihat di linimasa akhir-akhir ini, antara Anang Hermasyah dan Komisi X DPR. Anang mengaku tidak mengusulkan RUU-P ini dan sepakat untuk batal, tapi semua mekanismenya balik ke DPR. Sebaliknya DPR mengatakan ini sebenarnya usulan KAMI, jadi belum bisa memastikan bisa dibatalkan atau tidak.

RUU Permusikan sarat akan kepentingan industri dan industrialisasi musik. RUU Permusikan tidak berpihak pada musik non arus utama seperti musik ritual agama/adat, musik hobi, musik untuk kohesi sosial, musisi disabilitas dan otodidak.

"Selain itu RUU Permusikan mengancam demokrasi bermusik dan apresiasi musik. musik tidak akan bisa dibuatkan Undang-Undang, definisi musik sendiri tidak dapat dibakukan, akan selalu diperdebatkan.Dalam arti musik itu sebagai entitas yang tidak bisa didefinisikan, akan selalu berkembang dan bergerak. parahnya mereka (DPR) bangga bahwa undang-undang permusikan ini adalah yang pertama ada di dunia, negara-negara lain belum ada. lha wong negara itu nggak butuh undang-undang permusikan kok" pungkas Erlina.

Penandatanganan spanduk Jogja Ora Butuh RUU Permusikan di kawasan Tugu Yogyakarta, Sabtu (2/3/2019). (dok. Aliansi Masyarakat Musik Jogja)

Sementara itu salah satu musisi yang ikut tampil dalam panggung rakyat, Diar Sahudi kepada koranbernas.id menginginkan gerakan seperti ini dilakukan terus-menerus dan lebih besar. Kalau bisa setingkat nasional gitu, biar gaungnya lebih terdengar.

"Nggak peduli ini musisi terkenal atau cuma hobi kayak aku pada akhirnya nanti akan kerasa semua efekya. sebenarnya kalau ini menjadi satu barisan ini lebih keren lagi, jadi lebih bunyi, kalau ini bisa jadi skala nasional," paparnya.

"Kalau nggak ada yang menggerakkan terlihat memang ada yang cuek, sebenarnya cueknya itu karena nggak ada yang menggerakkan aja, nah kalau ada wadah seperti ini, ada yang menggerakkan menurut aku keren banget, kemudian mereka yang melakukan penolakan akan lebih bersuara, lebih terdengar diluar bukan hanya kalangan musisi," imbuhnya.

Diar Sahudi, Musisi yang merilis album pertamanya bulan Oktober 2018 lalu ini sangat menyayangkan ada kutipan RUU-P yang sudah dipaksakan masuk dalam Bimbingan Teknis (BIMTEK) Dinas Pariwisata DIY. Bimtek yang sejatinya hanya mengatur standar kelola tempat-tempat yang mengadakan pertunjukan musik, disitu disebutkan regulasi tentang sertifikasi musisi yang akan tampil.

"Disebutkan sekali karena butirnya persis sama dengan yang ada di rancangan undang-undang permusikan yang sebenarnya kita tentang, kalau ini sosialisasi, sosialisasi buat apa, wong undang-undangnya aja belum ada," pungkasnya.

Aksi panggung rakyat ini tak hanya merupakan konser mini musisi Yogyakarta, selain seruan untuk menolak RUU-P dalam aksi ini ditandatangani juga spanduk petisi penolakan RUU Permusikan, dan Deklarasi Bersama Aliansi Masyarakat Musik Jogja Ora Butuh RUU Permusikan.(yve)



Minggu, 03 Mar 2019, 23:03:16 WIB Oleh : Prasetiyo 493 View
Purbalingga Penampil Terbaik se-Barlingmascakeb
Minggu, 03 Mar 2019, 23:03:16 WIB Oleh : Nanang WH 813 View
Ini Dia Wisata Baru Kebumen
Minggu, 03 Mar 2019, 23:03:16 WIB Oleh : Prasetiyo 2037 View
SKTM Tak Jadi Syarat, Terdekat dan Tercepat Diutamakan

Tuliskan Komentar