atas

JISP Perkuat Branding Jogja Kota Tari
Digelar Dua Hari Libatkan Seniman Enam Negara

Jumat, 07 Sep 2018 | 22:18:11 WIB, Dilihat 259 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


JISP Perkuat Branding Jogja Kota Tari Imam Pratanadi (kiri) didampingi Ikhbal menyampaikan keterangan dalam konferensi pers JISP 2018, Jumat (07/09/2018) di Dinas Pariwisata DIY. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Semua Berharga Mahal di Labuan Bajo


KORANBERNAS.ID – Seniman musik dan tari dari enam negara ikut ambil bagian memeriahkan gelaran Jogja International Street Performance (JISP) 2018.

Dari Jepang tampil Dinyos Dance berkolaborasi dengan Bimo Dance Theater Indonesia. Negara itu juga menurunkan Kazco Takemoto.

Kemudian ada Leine Roebana dari Belanda, Stefano Ferdelli dari Italia, Rodrigo Parejo Spanyol, Potchanan Pantham Thailand serta Angela Vela dari Meksiko.

Acara yang digelar oleh Dinas Pariwisata (Dispar) DIY bekerja sama dengan Jaran Production kali ini berlangsung dua hari, 11-12 September di seputaran Boulevard Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan sekitarnya.

Tahun ini, panitia mengusung tema #1 Jogja The Dancing City dengan tagline Jogja Jejogedan. Event berkelas dunia ini setidaknya mampu memperkuat branding Yogyakarta sebagai kota tari.

Melengkapi acara tersebut, digelar dua pertunjukan besar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Auditorium Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“JISP sudah berlangsung sejak 2010. Kami berusaha merangkul dan melibatkan seniman dari berbagai negara. Pemda DIY menyadari, suatu kota harus punya brand di benak masyarakat maupun calon wisatawan,” ungkap Imam Pratanadi, Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dispar DIY, Jumat (07/09/2018).

Dalam konferensi pers di Aula Dinas Pariwisata DIY Jalan Malioboro, dia menyampaikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY sudah menegaskan Yogyakarta adalah daerah budaya yang dilengkapi fasilitas pariwisata memadai dan berstandar internasional.

Iklim kesenian yang tumbuh pesat disertai beragam kekayaan seni yang terawat baik diharapkan mampu memperkuat branding, sehingga lebih mudah memasarkan potensi wisata DIY.

Sebagai gambaran, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung dan menginap di Yogyakarta tahun lalu tercatat 398 ribu orang. Ditargetkan tahun ini jumlah itu meningkat 12 persen.

Menurut Imam, JISP selain sebagai sarana silaturahim melalui kegiatan kesenian, juga sebagai alternatif ruang baru bagi seniman seni pertunjukan kontemporer dan tradisional untuk berkreasi.

“JISP 2018 memperjelas kerja sama menjadi bagian dari Dancing Cities Network yang berpusat di Barcelona dan sudah diikuti oleh puluhan negara di Eropa dan Amerika Latin,” paparnya.

Lebih lanjut Imam Pratanadi menjelaskan, sebagai tuan rumah Yogyakarta juga mengundang seniman dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebut saja Sanggar Seruni dan Sanggar Dayang Molek dari Bangka Barat, Nani Topeng Sanggar Purwa Kencana Cirebon, Ni Dance Purworejo, Sanggar Shaka Budaya Wonogiri, Lena Guslina Bandung, Fitri Dance Padang, Wangak Maumere NTT serta Parrisca Ngremo Senopati Pasuruan.

Sedangkan dari Yogyakarta terdapat nama-nama seperti Kiki Rahmatika, Kerincing Manis, Fetri Rachmawati, Artha Dance.

Tak ketinggalan, komunitas-komunitas seni pertunjukan pun ikut berpartisipasi di antaranya Sanggar Melanesian Papua, Natya Laksita, Mila Art Dance, Total Perkusi, Sanggar Anak Tembi, Bambini Body Movement, UKM Swagayugama dan Rampoe Aceh FIB UGM, semuanya dari Yogyakarta.

Ikhbal dari Jaran Production menambahkan, event internasional tersebut diharapkan bisa menjadi pemersatu budaya antarbangsa serta membangun komunikasi dengan mengesampingkan suku, agama, ras dan golongan.

“Kehadiran seniman dari berbagai negara ini membawa opini positif bagi DIY, menyampaikan pesan kepada dunia mengenai budaya dan pariwisata Yogyakarta,” ujarnya. (sol)



Senin, 03 Sep 2018, 22:18:11 WIB Oleh : Arie Giyarto 734 View
Semua Berharga Mahal di Labuan Bajo
Senin, 03 Sep 2018, 22:18:11 WIB Oleh : Arie Giyarto 266 View
Ratusan Pulau Tertancap di Laut, Begitu Molek

Tuliskan Komentar