atas

Jenuh dengan Beton, Wisatawan Berburu Suasana Desa

Sabtu, 12 Jan 2019 | 09:41:17 WIB, Dilihat 324 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Jenuh dengan Beton, Wisatawan Berburu Suasana Desa Pengunjung menikmati segarnya kolam di Villa Plataran Borobudur Magelang. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Optimalkan Potensi Atlet Usia Dini


KORANBERNAS.ID -- Sektor pariwisata belakangan menjadi primadona di mana-mana. Bukan hanya obyeknya saja tetapi juga beragam unsur pendukungnya.

Kabupaten Gunungkidul misalnya yang dulu dikenal tandus dan gersang, setelah ditangani para ahli pertanian dan kehutanan menjadi wilayah ijo royo-royo utamanya di musim penghujan.

Wilayah berbukit-bukit itu menawarkan pemandangan dan nuansa indah, terutama bagi pendatang dari berbagai kota besar yang jenuh dengan kota penuh bangunan beton disertai kemacetan yang sering membawa stres.

Puluhan obyek wisata dibangun. Sebagian berupa wisata pantai dan mampu menyedot ribuan pengunjung. Bahkan pada hari-hari tertentu bisa mencapai puluhan ribu pengunjung.

Kalau dulu investor hotel, penginapan dan restoran berebut tempat strategis menawarkan lokasi yang disebut hanya sepuluh menit dari bandara, stasiun kereta, terminal bus maupun pusat kota, kini tren-nya mulai agak bergeser.

Investor menawarkan suasana berbeda. Di Patuk Gunungkidul, jauh masuk dari jalan utama arah Patuk- Wonosari tepatnya di Jalan Oro-oro, terdapat resto namanya Manglung.

Wilayah berbukit itu memang memungkinkan membuat bangunan yang manglung atau menjorok di atas jurang. Ada kolam renang di bawahnya.

Bagi pendatang asing memang agak sulit menemukannya tanpa dipandu guide atau google map. Resto tersebut dibangun sekitar dua tahun lalu. Terlihat asri agak menjorok ke dalam.

Dari tempat makan inilah pengunjung bisa menikmati indahnya pemandangan di bawah sana. Tak hanya sebagian Gunungkidul, tetapi juga Kota Yogyakarta dan Sleman.

Menikmati kursi udara di Manglung Patuk Gunungkidul. Di bawahnya ada bangunan lain berada di jurang. (arie giyarto/koranbernas.id)

Tampak di kejauhan alur menuju obyek wisata Tebing Breksi maupun arah permukiman rumah ala Eskimo yang dibangun pascagempa besar yang melanda DIY, 27 Mei 2006.

"Sabtu dan Minggu banyak tamu berdatangan. Di luar masa liburan panjang," kata seorang petugas menjawab pertanyaan koranbernas.id pekan lalu.

Di resto tersebut tersedia menu tradisional maupun internasional. Pengunjung tidak cuma domestik tetapi juga mancanegara. Harganya tidak begitu mahal untuk tempat asri dan pelayanan yang cepat dan lumayan bagus.

Prambanan dari kejauhan

Sementara itu di kawasan perbukitan Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Sleman ada hotel dan resto menawarkan view sangat menarik.

Dari tempat makan ini, apalagi turun ke utara, setiap orang bisa menyaksikan Candi Prambanan maupun masjid besar di seberangnya yang pembangunannya diprakarsai oleh Hidayat Nurwahid yang pernah menjadi Ketua MPR.

Kedua tempat ibadah itu memberikan kesan prularitas dan kerukunan antarumat beragama. Juga lanskap yang hijau, apalagi sore itu gerimis baru saja turun.

Meski untuk mencapai Abhayagiri, naman resto itu, mobil harus merayap mendaki jalanan perbukitan. Tidak hanya sempit sehingga ketika papasan harus saling berhati-hati agar tidak senggolan. Di malam hari pun jalan perdesaan itu gelap.

Berbeda dengan Manglung, tarif minuman makanan di situ lebih tinggi. Sebotol kaca air mineral tanggung harganya Rp 47.000. Harga itu sesuai dengan tempat yang lebih bagus dan pelayanan lebih prima.

Pasti, konsumennya bukan masyarakat petani setempat yang  hitungan pendapatannya dalam kisaran kelipatan puluhan ribu bahkan uang seribu rupiah menjadi sangat bermakna. Tetapi bagi wisatawan harga itu dinilai masih wajar.

"Ya bagi wisatawan masih wajar karena kantongnya sudah dipersiapkan," kata Wuryono, wiraswastawan asal Jakarta yang hari itu mengajak keluarganya ke sana.

Di resto ini tersedia wedang uwuh, aneka jus, kopi dengan aneka citarasa, makanan tradisional maupun internasional.

Meski di wilayah Prambanan yang dikenal dengan candi Hindunya, tetapi pada play ground resto terdapat stupa candi Budha seperti di Borobudur.

Ada dua ayunan dan stupa itu menjadi sasaran foto-foto. Resto Abhayagiri juga membangun sejumlah kamar hotel. Menurut petugas tingkat huniannya selalu tinggi.

Penulis dengan latar belakang Gunung Merapi dan Merbabu. (istimewa)

Plataran True

Seperti halnya Candi Prambanan di DIY, keberadaan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang Jawa Tengah sebagai salah satu dari delapan keajaiban dunia juga mengundang banyak investor mendirikan hotel, resort, home stay, rumah makan sampai warung-warung makan di tingkat akar rumput.

Salah satunya adalah Plataran True Indonesian Icon, sekitar dua kilometer dari candi, masuk jalan perdesaan tanah dengan kontur berlenggok.

Investor juga membangun sejumlah vila di tempat tersebut sehingga sangat cocok untuk kaum muda. Tetapi bagi lansia apalagi yang terganggu kesehatan kakinya memang agak susah.

Untuk mencapai vila satu dengan yang lain harus melewati jalan naik bertrap. Suasana kekunoan tercermin dari sebagian bangunan.

Lihatlah, ada pintu slarak atau kunci kayu seperti rumah-rumah zaman doeloe. Lebih berkesan heritage tapi berpadu dengan kekinian. Ada pula yang dilengkapi private swimming pool.

"Memang cocok untuk liburan. Melepaskan kepenatan bekerja dan hiruk pikuk yang melelahkan," kata Budi dan Mita, sepasang suami istri pengusaha dari Tangerang yang tengah berlibur di sana.

Suara jengkerik dan katak menambah eksotis suasana. Pohon worawari sebagai pagar hidup selain pohon kuno lainnya, seperti membangun kerinduan masa lalu bagi mereka yang pernah mengalami pohon itu ditanam di hampir semua halaman rumah. Sekarang, keberadaanya sudah tergeser oleh pohon yang lebih modern.

Apalagi dari tempat makan, di saat langit cerah tanpa kabut atau mendung, tamu bisa menyaksikan kokohnya Gunung Merapi dan Merbabu yang berjejer seakan-akan menancapkan kakinya di pusat bumi.

Kepundan Merapi yang terakhir terbentuk baru juga terlihat. Demikian pula saat Merapi mengeluarkan lava pijar sebagai peristiwa alam yang sangat menakjubkan. Ada lava merah membara muncul dari kepundan, meleleh kemudian meluncur ke bawah.

Sedang di sebelah kanan, bila hari terang pagi sampai sore bisa melihat gagahnya Candi Borobudur yang dikunjungi wisatawan tanpa henti.

Apalagi pagi hari saat sang surya masih menyapa ramah dan sore hari ketika matahari tak lagi garang "membakar" kepala, wisatawan semakin banyak. Untuk bisa tinggal di sana, wisatawan harus rela merogoh kantong cukup dalam.

Ke Magelang jangan lewatkan kupat tahu yang menjadi ikon. Murah meriah dan yummy. (arie giyarto/koranbernas.id)

Jadi penonton

Ketiga tempat itu memang sudah terbukti sebagai pelengkap obyek wisata. Dengan banyaknya kemudahan yang tersedia, wisatawan bisa memilih mana dia suka untuk bisa menikmati suasana yang berbeda dengan lingkungan kesehariannya.

Tetapi yang juga harus dipertanyakan seberapa banyak keberadaannya mampu mengangkat kehidupan warga setempat. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton.

Meski banyak sekali kebutuhan tenaga kerja tetapi harus diakui memang untuk bagian-bagian tertentu perlu tenaga-tenaga terlatih dengan kualifikasi tertentu. Lalu....? (sol)



Selasa, 08 Jan 2019, 09:41:17 WIB Oleh : Dwi Suyono 324 View
Optimalkan Potensi Atlet Usia Dini
Selasa, 08 Jan 2019, 09:41:17 WIB Oleh : Nila Jalasutra 182 View
Bebas Korupsi Jangan Sekadar Seremonial
Selasa, 08 Jan 2019, 09:41:17 WIB Oleh : Masal Gurusinga 213 View
Gedung Pengolahan Sampah Tanpa Listrik

Tuliskan Komentar