atas

Jauh-jauh ke Korsel, Stipram Juara

Kamis, 11 Apr 2019 | 22:12:18 WIB, Dilihat 308 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Jauh-jauh ke Korsel, Stipram Juara Mahasiswa Stipram menampilkan tarian Wonderful Indonesia yang meraih 'Best Performance' dan 'Best Activity' dalam EATOF di Korsel, 14-17 Februari 2019 lalu.(istimewa)

Baca Juga : Mahasiswa Stipram Kembangkan Sirup Salak


KORANBERNAS.ID – Tak sia-sia kunjungan 20 mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukkmo (Stipram) Yogyakarta ke Korea Selatan (Korsel) pada 14-17 Februari 2019 lalu. Promosi pariwisata Indonesia yang mereka bawakan lewat tarian Wonderful Indonesia meraih 'Best Performance' dan 'Best Activity' dalam kancah internasional khususnya asia. Tarian yang menggambarkan kebhinnekaan Indonesia ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari 10 negara anggota EATOF (East Asia Inter-Regional Tourism Forum-red).
    
"Stipram menguasai panggung," terang Ketua Stipram, Suhendroyono, Rabu (19/2/2019) .

Kampus tersebut mengikuti EATOF, mewakili provinsi DIY dan Indonesia. Di Korsel masing-masing kampus mengenalkan budaya, teknologi sekaligus olahraga.

“Meski kami tidak berkesempatan masuk ke kampus-kampus, namun forum EATOF membuat kami saling kenal dengan dosen dan pengampu kampus di Korea, Bahkan sekitar maret-mei tahun ini beberapa kampus Korea akan berkunjung ke stipram.Misi kami waktu berangkat memang ingin menampilkan keberagaman dan kebhinnekaan indonesia dalam wujud tarian," jelasnya.

Hendro menjelaskan, sebagai event pariwisata, panitia penyelenggara sangat dominan mempertontonkan kekayaan negaranya. Padahal kekayaan pariwisata Korea Selatan itu ternyata cuma satu, yaitu musim dingin. Tapi mereka mampu mengemas kondisi dingin itu menjadi sebuah kekaguman pada para tamunya.
    
"Unsur pariwisata yang paling dominan kan kagum, ternyata teori saya di stipram selama ini bisa dibuktikan disana. karena menurut teori yang saya tulis dalam sebuah buku menyampaikan bahwa kunci pariwisata itu cuma satu dan sederhana yaitu, membikin orang kagum," imbuhnya.
    
Hendro mengklaim, Indonesia kurang inovatif dan produktif dalam mengembangkan dunia pariwisata karena selama ini termanjakan oleh Tuhan. Indonesia memiliki sumber daya alam maupun budaya yang luar biasa namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Mbok kita kaya orang-orang korea itu, padahal mereka cuma bisa merasakan hawa panas selama tiga bulan tapi waktu yang sedikit itu bisa dimanfaatkan dengan luar biasa produktif,” tandasnya.
    
Hendro menyimpulkan, setelah melihat apa yang dibranding Korea Selatan sebagai negara tujuan pariwisata dunia, semakin yakin bahwa Indonesia ini bisa.

“Kalau disana jualan dingin, jualan salju, belajar ski, glass ball, kita bisa jualan panas lho?, kita bisa bikin wisata matahari,”contohnya.
    
Setelah dapat contoh langsung bagaimana bagusnya Korea Selatan mengemas pariwisatanya, Hendro semakin yakin bahwa potensi wisata indonesia jauh lebih besar daripada yang dilihatnya.

"Yang negara mereka miliki hampir pasti di Indonesia juga ada, bahkan salju yang jadi andalan korea itu kita bisa buat dengan pendingin seperti di Mall-mall itu. Tapi yang negara kita miliki, di sana belum tentu ada," paparnya.
    
Dia melanjutkan, dengan konsep jualan panas itu, Indonesia bisa jualan alam. Contohnya pohon cemara yang disana tumbuh tapi meranggas karena hawa dingin.

“Kita bisa menunjukkan pohon cemara dari negara kita yang subur karena tercukupi panas matahari. Artinya apa? Indonesia ini jauh lebih kaya. Namun kita aja masih sok sok gaya bule, nek masuk hotel nanyanya ada air panasnya enggak? padahal negaranya udah panas. Gaya orang indonesia yang sok luar negeri gitu. kalo dijawab gak ada air panas, njuk gak jadi, trus bilang wah hotel murahan," paparnya.

 

EATOF Ajang Promosi Pariwisata

EATOF (East Asia Inter-Regional Tourism Forum-red) adalah asosiasi pariwisata internasional yang didirikan pada tahun 2000 oleh sembilan pemerintah daerah di seluruh Asia Timur di bawah inisiatif Provinsi Gangwon. EATOF yang merupakan satu-satunya asosiasi pariwisata di Asia Timur, telah melakukan upaya untuk memperluas cakupan pemerintah daerah dalam memperkuat basis kerja sama, agar terwujud sebagai komunitas pariwisata.
    
Lebih jauh, negara-negara anggota telah bersama-sama mencari cara untuk memperkuat kerja sama di antara mereka sendiri dengan meningkatkan dan memperkuat pertukaran informasi, dengan harapan membentuk komunitas pariwisata di Asia Timur. Saat ini, EATOF terdiri dari sepuluh pemerintah daerah dari sepuluh negara yang berbeda, dan sekretariatnya terletak di Provinsi Gangwon.
    
Di setiap Majelis Umum EATOF, tiap provinsi anggota berbagi kemajuan dan upaya kerja sama, membahas ide-ide yang dapat membantu mempromosikan proyek pariwisata Asia. EATOF juga berfokus pada penggabungan kekuatan masing-masing pemerintah daerah untuk melayani tujuan bersama dalam kebijakan pariwisata dan bentuk lain dari kerja sama yang saling menguntungkan, dan mencari cara baru untuk pengembangan lebih lanjut distrik pariwisata Asia Timur.
    
DIY merupakan satu-satunya Provinsi yang mewakili Indonesia yang menjadi anggota Forum EATOF. Selain menjadi anggota, Indonesia adalah salah satu negara yang menginisiasi terbentuknya forum internasional tersebut 18 tahun silam. Dan pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum EATOF sebnayak 2 kali, yaitu tahun 2001 dan 2015.(yve)



Kamis, 11 Apr 2019, 22:12:18 WIB Oleh : Redaktur 280 View
Mahasiswa Stipram Kembangkan Sirup Salak
Kamis, 11 Apr 2019, 22:12:18 WIB Oleh : Sari Wijaya 431 View
PPP Optimis Suara Partai Naik
Kamis, 11 Apr 2019, 22:12:18 WIB Oleh : Sari Wijaya 417 View
Linmas Harus Siap Mental Saat Amankan TPS

Tuliskan Komentar