TNI-stipram

Ironis, Lumbung Padi Sulit Peroleh Air Irigasi

Kamis, 11 Okt 2018 | 16:08:18 WIB, Dilihat 97 Kali - Oleh Masal Gurusinga

SHARE


Ironis, Lumbung Padi Sulit Peroleh Air Irigasi Amin Santoso mengalirkan air dari sumur panthek dan membersihkan rumput di sawah yang dia garap. (masal gurusinga/koranbernas.id)

Baca Juga : Petani Jual Rp 4.600 Sampai Pengecer Rp 11 Ribu


KORANBERNAS.ID -- Wilayah Kecamatan Delanggu terkenal sebagai lumbung padi di Kabupaten Klaten dan penyangga pangan di Provinsi Jawa Tengah.

Wwilayah tersebut merupakan sentra pertanian yang terkenal dengan berasnya. Ironisnya, meski terkenal dengan julukan itu namun beberapa tahun terakhir kondisinya memprihatinkan.

Muncul pertanyaan mengapa itu bisa terjadi? Karena beberapa faktor penyebab di antaranya serangan hama, kondisi irigasi, penyusutan lahan dan lain sebagainya.

Di wilayah Desa Kepanjen, misalnya, permasalahan utama yang dihadapi petani yakni air dan rumput. Menurut beberapa petani,  kehadiran pabrik air mineral di Desa Wangen Kecamatan Polanharjo sebagai salah satu penyebab munculnya masalah air.

"Dulu sebelum pabrik ada, tidak pernah ada masalah air di sini. Begitu juga dengan hadirnya perumahan di selatan desa dan tidak berfungsinya saluran irigasi. Lha, sekarang saluran dipakai buat tempat pembuangan sampah," kata seorang petani Desa Kepanjen, Aman Santosa, ditemui di sawahnya, Kamis (11/10/2018).

Karena adanya permasalahan irigasi itulah, kata dia, dirinya dan petani lain memilih membuat sumur pathok (sumur panthek) sendiri di sawah masing-masing. Apabila sewaktu-waktu butuh air tinggal mengalirkan dengan mesin pompa air.

Berbeda jika mengandalkan saluran irigasi yang belum tentu bisa kebagian air. Sebab air yang disalurkan dari Umbul Cokro Kecamatan Tulung hanya dibatasi dari pukul 06:00 hingga 12:00. Artinya, air belum sampai mengalir di Desa Kepanjen sudah habis waktunya.

Sedangkan untuk membuat sumur pathok saat ini perlu biaya Rp 2 juta dengan kedalaman 8 meter. Padahal untuk mengaliri lahan 2.000 meter dengan mesin pompa air butuh waktu 8 jam.

"Kalau punya pompa air sendiri tidak ada masalah karena tinggal beli bahan bakar saja. Lha, bagi yang tidak punya tentu sewa punya orang lain," jelas Aman.

Selain irigasi, masalah lain yang dihadapi petani yakni rumput. Saat ini kondisi rumput di sawah tingginya hampir sama dengan tanaman padi. Itu bisa terjadi karena penanganan rumput tidak efektif.

"Harusnya rumput dicabut tetapi kenyataannya banyak petani nyemprot pakai obat. Padahal harga obatnya satu botol kecil Rp 55 ribu. Dan hasilnya tidak efektif karena faktanya tidak lama rumput tumbuh lagi," jelasnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur Desa Kepanjen, Harjono, ditemui di tempat terpisah mengatakan masalah irigasi sudah dicarikan solusi dengan membuat sumur panthek.

"Ketersediaan air sudah diupayakan petani dan gapoktan semaksimal mungkin. Meski tidak bisa mencukupi 100 persen namun paling tidak separuhnya sudah tersedia lewat sumur panthek. Gapoktan juga punya mesin pompa air yang bisa digunakan anggota," kata Harjono kepada koranbernas.id.

Dia merasa bersyukur, petani anggota Gapoktan Tani Makmur kompak menjalankan program tanam serentak untuk memutus mata rantai peredaran hama. (sol)



Rabu, 10 Okt 2018, 16:08:18 WIB Oleh : Masal Gurusinga 3641 View
Petani Jual Rp 4.600 Sampai Pengecer Rp 11 Ribu
Selasa, 09 Okt 2018, 16:08:18 WIB Oleh : Masal Gurusinga 1479 View
Miris, Banyak Usaha Penggilingan Padi Tutup
Kamis, 12 Jul 2018, 16:08:18 WIB Oleh : Masal Gurusinga 149 View
Siswa Bawa Materai dari Rumah

Tuliskan Komentar