atas1

Ini Kata Sultan Soal Mitos Berobat ke Luar Negeri

Minggu, 30 Jun 2019 | 20:53:07 WIB, Dilihat 344 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Ini Kata Sultan Soal Mitos Berobat ke Luar Negeri Sri Sultan HB X bersama jajaran staf RS Panti Rapih melepas merpati menandai peresmian Gedung Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta, Sabtu (29/6/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Polisi Turun Tangan Tenangkan Pengidap Gangguan Jiwa


KORANBERNAS.ID – Selama ini sebagian warga negara Indonesia memilih berobat ke luar negeri karena dianggap lebih maju. Padahal rumah sakit di Indonesia memiliki peralatan medis maupun dokter yang tidak kalah maju.

“Kurangnya komunikasi adalah salah satu penyebab masyarakat Indonesia lebih percaya rumah sakit di Malaysia atau Singapura,” ungkap Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY, pada acara peresmian Gedung Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta, Sabtu Sabtu (29/6/2019).

Akhirnya, kata Sultan  HB X, persepsi yang terbentuk adalah mitos pengobatan di luar negeri lebih baik.

Dengan fasilitas yang dimiliki rerata rumah sakit di DIY, seharusnya teknologi bukan lagi menjadi alasan masyarakat untuk berobat ke luar negeri.

"Kini rumah sakit kita sudah memiliki peralatan yang mumpuni, demikian pula secara struktural kemampuan dokter Indonesia sudah tidak bisa diragukan," terang Sultan.

Saat pembukaan dan pemberkatan di Auditorium Gedung Borromeus lantai enam rumah sakit setempat, Sultan mengingatkan pentingnya peningkatan kerja tim para dokter dalam semua komunitas dokter paramedis dan penunjang medis.

Sri Sultan HBX didampingi GKR Hemas dan Uskup Agung Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko berbincang-bincang dengan tenaga kesehatan pada acara peresmian Gedung Borromeus RS Panti Rapih Yogyakarta, Sabtu Sabtu (29/6/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Dibangun sejak 2017, Gedung Borromeus RS Panti Rapih kini resmi beroperasi. Gedung enam lantai itu memiliki fasilitas lengkap dan saling terintegrasi.

Peresmian gedung Borromeus ini menjadi penanda perubahan yang selalu dilakukan oleh RS Panti Rapih secara terus-menerus.

Menurut Sultan, peresmian yang bertepatan dengan usia RS Panti Rapih ke-90 adalah usia yang berada jauh di atas rata-rata usia harapan hidup masyarakat DIY.

Hal ini membawa konsekuensi pengalaman selama 90 tahun justru menuntut RS Panti Rapih semakin meningkatkan pelayanan.

Kenyataan ini menjadi tantangan masyarakat kedokteran. Terlebih lagi bagi RS Panti Rapih sebagai rumah sakit terakreditasi bintang lima.

Menyinggung pelayanan BPJS, Sultan menerangkan sangat perlu meningkatkan akses pelayanan kesehatan dengan fasilitas BPJS. Setiap rumah sakit peserta harus mengadaptasi sistem manajemen dengan standar pelayanan yang sama bagi setiap pasien berbagai kelas.

Selain itu keterbatasan jumlah dan distribusi dokter spesialis untuk pelayanan gawat darurat juga merupakan tantangan dunia kesehatan.

Jumlahnya terasa tidak mencukupi, walaupun gawat darurat telah berkembang sebagai disiplin ilmu khusus, namun di Indonesia ilmu kedokteran gawat darurat masih dilakukan dengan disiplin ilmu secara parsial.

"Kurangnya dokter spesialis emergency membuat pelayanan tidak optimal, padahal ketepatan dan kecepatan pelayanan pada jam-jam awal sangat menentukan kesembuhan penderita, penanggulangan satu jam pertama yang optimal dapat menyelamatkan 85 persen dari kematian pasien," ungkap Sultan.

Menurut dia, pelayanan 24 jam bagi pasien sangat penting. Praktik pelayanan gawat darurat oleh dokter spesialis perlu standby 24 jam pula. “Bukan hanya dokter umum fresh graduate yang pengalamannya belum seberapa," tandas Sultan. (sol)



Minggu, 30 Jun 2019, 20:53:07 WIB Oleh : Nanang WH 984 View
Polisi Turun Tangan Tenangkan Pengidap Gangguan Jiwa
Minggu, 30 Jun 2019, 20:53:07 WIB Oleh : Sholihul Hadi 251 View
Bahaya Sebut Oposisi Itu Makar
Minggu, 30 Jun 2019, 20:53:07 WIB Oleh : Masal Gurusinga 228 View
Ini Penyebab Air Sumur Pamsimas Tak Layak Konsumsi

Tuliskan Komentar