atas1

Ini Gambaran Suhu Dingin Berdasarkan Pranata Mangsa Jawa

Sabtu, 22 Jun 2019 | 01:04:41 WIB, Dilihat 1627 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Ini Gambaran Suhu Dingin Berdasarkan Pranata Mangsa Jawa

Baca Juga : Cari Nafkah untuk Keluarga Itu Jihad


KORANBERNAS.ID – Beberapa hari terakhir warga Yogyakarta merasakan suhu yang lebih dingin dibanding hari-hari biasa. Hal serupa dirasakan mereka yang tinggal di Jawa Tengah, Jawa Timur maupun daerah-daerah lain.

Perubahan cuaca ini digambarkan dalam pranata mangsa atau tatanan musim berdasarkan penanggalan Jawa, sebagai pertanda Mangsa Bedhidhing.

Adapun tanda-tandanya tirta sat saking sasana, tiyang awis kringeten, kathah kembang dhadhap (celung).

Mangsa Bedhidhing ditandai mekarnya bunga-bunga dari pucuk dan batang pohon dhadhap, sumber-sumber air mengering dan setiap kali beraktivitas jarang keluar keringat.

Informasi dari Stasiun Klimatologi Yogyakarta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu dingin disebabkan oleh pergerakan udara dingin dan kering dari Australia ke Asia melewati wilayah Indonesia.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Etik Setyaningrum, menyampaikan berdasarkan pantuan selama lima hari terakhir suhu udara pada malam hari tercatat berkisar 18-20 derajat celcius. Sedangkan siang hari 30-31 derajat celcius.

Dia memperkirakan kondisi tersebut berlangsung sampai Agustus mendatang.

Suhu dingin memang hal yang wajar namun memancing kecenderungan untuk minum minuman panas. Jika tidak terkontrol hal itu bisa mempengaruhi kesehatan.

Masyarakat diimbau tetap minum air putih dalam jumlah yang cukup sesuai standar kesehatan guna memenuhi kebutuhan cairan tubuh supaya terhindar dari dehidrasi, sekaligus mencegah kulit dan bibir menjadi kering.

Sebenarnya, kata Etik, wilayah DIY memasuki musim kemarau sejak April 2019 dan puncaknya diperkirakan Agustus.

Krisis air bersih

Dampak musim kemarau juga mulai dirasakan sebagian masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Warga di wilayah ini setiap kemarau menghadapi masalah klasik krisis air bersih.

Merunut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, setidaknya sebagian warga di sepuluh kecamatan di antaranya Purwosari, Tepus, Ngawen, Ponjong, Semin, Patuk, Semanu dan Paliyan, mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Relawan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) Gunungkidul, Winarno, menyebutkan warga terutama yang tinggal di Gunungkidul bagian selatan yakni Kecamatan Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Panggang dan Saptosari, merasakan dampak yang lebih parah. "Kebanyakan sumur galian warga sudah mengering,” ujarnya.

Sebagai bentuk respons cepat mengatasi masalah itu, Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY saat ini menyiapkan serangkaian program untuk turut membantu masyarakat memperoleh air bersih.

“Kita siapkan program droping air bersih untuk wilayah-wilayah Gunungkidul, menggunakan truk tangki berkapasitas 5.000 liter,” ujar Bagus Suryanto, Kepala Cabang ACT (Aksi Cepat Tanggap) DIY. (sol)



Jumat, 21 Jun 2019, 01:04:41 WIB Oleh : Redaktur 243 View
Cari Nafkah untuk Keluarga Itu Jihad
Jumat, 21 Jun 2019, 01:04:41 WIB Oleh : Sari Wijaya 2057 View
Bursa Calon Bupati Bantul Makin Meriah
Jumat, 21 Jun 2019, 01:04:41 WIB Oleh : Masal Gurusinga 254 View
Toko Modern Harus Berjarak 2 Km dari Pasar Tradisional

Tuliskan Komentar