ini-alasan-ugm-terjun-ke-dusun-wisata-sukunanSalah satu kegiatan LPPM UGM bekerja sama dengan Magister Tannas UGM di Dusun Sukunan. (istimewa)


sholihul

Ini Alasan UGM Terjun ke Dusun Wisata Sukunan

SHARE

KORANBERNAS.ID – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM UGM) bekerja sama dengan Magister Ketahanan Nasional (Tannas) UGM melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Dusun Sukunan Desa Banyuraden Kecamatan Gamping Sleman.

PKM yang berlangsung tiga hari, Jumat-Minggu (2-4/8/2019), itu bertajuk Workshop Kebangsaan, Kepemudaan, Kepemimpinan, Lingkungan Hidup dan Desa Wisata. Adapun temanya Pemuda Kuat Lingkungan Sehat.


Baca Lainnya :

LPPM dan Tannas UGM sengaja memilih terjun ke Dusun Sukunan sebagai tempat pengabdian dengan alasan predikatnya sebagai Kampung Wisata.

Ketua Rukun Warga (RW) 19, Narto, menyebut meski Dusun Sukunan mengikrarkan diri sebagai Kampung Wisata pada 2006, konsep dan formulanya sudah ada sejak dua tahun sebelumnya.


Baca Lainnya :

“Baru pada 2009 Dusun Sukunan diresmikan sebagai Kampung Wisata berbasis Lingkungan oleh Bupati Sleman,” ujarnya, Selasa (6/8/2019).

Berbagai kegiatan dan inovasi dalam bidang lingkungan di dusun tersebut sudah terbilang maju. Sejak 2004, Sukunan menerapkan pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

“Sampah yang sebelumnya dibuang sembarangan, kami pilah lalu dijual agar menghasilkan uang. Pendapatan masuk kas RW untuk keperluan pembangunan desa,” ujar Dr Iswanto, penggerak lingkungan Dusun Sukunan sekaligus dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Dusun Sukunan juga menerapkan pengomposan, biopori, biopot (biopori dalam pot), pengelolaan biogas, sampai bank sampah. “Kami juga ada usaha kerajinan sampah plastic, sudah ekspor ke Australia,” lanjut Iswanto.

Meski sudah terbilang maju, masih ada kendala dihadapi Dusun Sukunan terkait dengan keterlibatan pemuda. Cukup sulit melibatkan pemuda dalam kegiatan berbasis lingkungan.

“Edukasi kepada masyarakat, terutama pemuda menjadi pekerjaan rumah kami. Saya senang Sukunan dipilih sebagai tempat pengabdian sehingga kami tahu jika ada yang perlu diperbaiki,” tambahnya.

Ketua Prodi Ketahanan Nasional UGM Prof Dr Armaidy Armawi MSi kagum dengan Dusun Sukunan yang sudah cukup maju. “Kami ke sini artinya harus ada yang bisa kita pelajari. Dusun Sukunan merupakan kampung modern yang secara fisik sudah baik. Tetapi mungkin ada yang lain yang bisa dilihat dan diperbaiki,” kata Prof Armaidy.

Menurut dia, seharusnya mahasiswa lebih banyak belajar dari Dusun Sukunan selama PKM. “Mahasiswa bisa belajar tentang kehidupan sehingga mereka bisa memproyeksi hidupnya di masa depan,” lanjutnya.

Ketua Panitia PKM, Adkha Bukhori, melihat kemajuan Dusun Sukunan seharusnya mahasiswa tidak hanya mengajari namun juga belajar bagaimana mengelola Dusun Sukunan sehingga bisa menjadi Kampung Wisata sampai sekarang.

PKM selama tiga hari tersebut diisi berbagai kegiatan berbasis lingkungan seperti workshop oleh Prof Dr Armaidy Armawi M Si dengan tema Ketahanan Lingkungan: Indonesia Darurat Sampah dan Dr Sri Rum Giyarsih MSi selaku dosen sekaligus Ketua Prodi S2 dan S3 Kependudukan UGM.

Muhammad Pranasik Faihaan selaku Wakil Ketua Taruna DIY mengangkat tema organisasi dan kepemudaan serta sharing session dari Doto Yogantoro yang berbagi inspirasi bagaimana Dusun Pentingsari dan kampung wisata lainnya di Sleman mampu meraih segudang prestasi membanggakan.

PKM juga diisi kegiatan pembuatan tempat sampah, plang penunjuk jalan, donasi dan penanaman tanaman, diskusi film bersama remaja dan anak-anak serta senam bersama ibu-ibu dusun setempat.

Kegiatan PKM memperoleh apresiasi dari masyarakat dusun itu. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan lagi di kampungnya.

“Acara ini sangat luar biasa. Kami sangat senang karena bisa menambah wawasan buat kami,” ungkap Endah, salah seorang peserta kegiatan. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini