atas1

Ingin Manasik Haji Sekaligus Berwisata, Ini Tempatnya

Sabtu, 16 Nov 2019 | 09:36:00 WIB, Dilihat 271 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Ingin Manasik Haji Sekaligus Berwisata, Ini Tempatnya Murid-murid TK menikmati makan siang usai mengikuti praktik manasik haji. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Gaza Digempur, Ini Respons ACT


KORANBERNAS.ID -- Dahulu kala, manasik haji sebagai bekal jamaah calon haji (JCH)  awalnya hanya  berupa teori di kelas. Sejalan dengan semakin banyaknya JCH, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) memberikan teori dan praktik supaya memudahkan mereka saat berada di tanah suci.

Lokasi manasik bermunculan. Di antaranya Asrama Haji Donohudan Boyolali maupun Parangkusumo Bantul yang panas dan tanahnya berpasir menyerupai tanah suci.

Semua itu dilengkapi perangkat berupa replika Kabah, Masjidil Haram, tempat sa’i, lokasi yang dianggap sebagai Arafah, Mina, tempat lempar jumrah dan lain-lain properti yang bisa menggambarkan bagaimana kelak melaksanakan rangkaian ibadah di tanah suci.

Tidak hanya KBIH, sekolah-sekolah pun mulai membekali pengetahuan berhaji, bahkan mulai TK, SD, SMP sampai SMA.

Di Yogyakarta  murid-murid TK sering manasik di halaman Balaikota, Lapangan Sidokabul, Minggiran, Mancasan yang berdekatan dengan sekolah. Pengadaan propertinya lumayan merepotkan.

Paspor masuk Firdaus Fatima Zahra seharga Rp 40.000 per orang. (arie giyarto/koranbernas.id)

Timur Tengah

Sejak sekitar dua tahun silam, calon jamaah tak perlu repot mencari tempat praktik manasik haji setelah ada Firdaus Fatimah Zahra.

Lokasinya di Gunungpati Semarang Jawa Tengah. Bangunannya permanen di dalam satu lokasi dengan arsitektur Timur Tengah.

Meski tidak bisa menggantikan aslinya tetapi paling tidak tergambar nuansanya. Peralatannya pun lengkap.

Manasik diawali seolah-olah jamaah mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah kemudian menuju Mekkah untuk tawaf dan melaksanakan rangkaian rukun, wajib dan sunah haji.

"Anda harus mengurus "paspor" Firdaus untuk bisa masuk tempat ini," kata Afif, seorang pemandu jamaah umrah dan haji.

Dengan doa-doa lengkap, Afif memandu mulai dari tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Musdalifah, lempar jumrah, mabit di Mina dan kembali ke Mekkah untuk tawaf ifadah. Juga tahalul.

Menjelang sa'i jamaah minum "air zamzam" berupa air mineral kemasan gelas plastik. Selesai tawaf di lokasi terbuka yang langsung dipayungi matahari, minuman itu betul-betul menyegarkan tenggorokan.

Apalagi diminum di lintasan sa'i antara bukit Marwa dan Shafa yang teduh. "Nanti usai sa'i kita akan minum "air zamzam" dalam dua pilihan. Hangat dan dingin," kata dia.

Air hangat itu baru saja diambil dari sumur. “Air yang dingin sudah lama ditimba,” kata Afif menghibur jamaah dan disambut tawa.

Afif pemandu di Firdaus Fatima Zahra Semarang menjelaskan kepada peserta praktik manasik haji. (arie giyarto/koranbernas.id)

Banjir pengunjung

Sejak berdiri dan terbuka untuk umum, Firdaus Fatima Zahra dibanjiri pengunjung. Memasang tagline sebagai tempat praktik manasik, pendidikan dan wisata religi, pengunjung tak hanya datang dari Semarang tetapi juga kota-kota lain di Jateng maupun DIY.

Pada akhir pekan hari Sabtu dan Minggu rata-rata sekitar 6.000 sampai 8.000 pengunjung. Bagaimana menangani hanya dengan empat orang pemandu? "Banyak rombongan yang sudah membawa pemandu sendiri. Kalau tidak, rombongan kecil akan digabung,” kata Afif kepada koranbernas.id.

Kamis (7/11/2019) silam banyak rombongan datang ke Firdaus. Menilik plat nomor kendaraan, mereka datang dari berbagai daerah. Di antaranya dari TK Sofia Ceria Ungaran Timur dan TK Kalirejo Ambarawa.

Anak-anak kecil mungil itu tampil ceria mengenakan ihram putih menjalani praktik manasik. Usai acara, mereka dibawa gurunya ke tempat teduh di kawasan parkir sambil menikmati makan siang yang sudah disiapkan gurunya.

"Capek nggak praktik manasik?" tanya koranbernas.id pada seorang murid TK yang menyantap makan siangnya di atas tikar.

Sambil mendongak dia berkata, "Capek karena panas." Ganasnya sinar matahari masih menyisakan warna kemerahan di wajah Taufik.

Ada lagi rombongan besar dari SMP Negeri 2 Yogyakarta serta ibu-ibu Paguyuban Lansia Mandiri 08 Sorosutan. Rombongan datang diangkut bus maupun mobil pribadi yang membawa keluarga. Semua siap dengan pakaian ihram putih.

Masuk ke tempat manasik itu setiap orang harus membayar "paspor" seharga Rp 40.000. Jika hari Minggu ada 8.000 pengunjung, berapa besar pemasukannya?

Bisa jadi ada unsur bisnisnya tetapi sebanding dengan biaya perawatan dan pemeliharaan bangunan di kompleks sebesar itu agar tetap bersih sampai atap-atapnya.

Belum lagi untuk bayar gaji karyawan yang cukup banyak. Selain pengalaman, pengunjung memperoleh banyak ilmu di sana. (ato)



Sabtu, 16 Nov 2019, 09:36:00 WIB Oleh : Sholihul Hadi 208 View
Gaza Digempur, Ini Respons ACT
Jumat, 15 Nov 2019, 09:36:00 WIB Oleh : Masal Gurusinga 547 View
Dua Pejabat Baru Tak Hadir Saat Dilantik
Jumat, 15 Nov 2019, 09:36:00 WIB Oleh : Sholihul Hadi 192 View
Calon Anggota Komisi Informasi DIY Diuji Terbuka

Tuliskan Komentar