atas1

Ingin Berwisata di Jogja? Harus Paham Mitigasi Bencana

Jumat, 26 Apr 2019 | 14:24:35 WIB, Dilihat 390 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Ingin Berwisata di Jogja? Harus Paham Mitigasi Bencana Pengajar Manajemen Pariwisata Universitas Kent, Inggris, Mark Hampton (kiri) dan Ketua Program Doktor Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, Prof Wiendu Nuryanti menyampaikan paparannya disela Internasional Workshop Resilience and Coastal Tourism in South East Asia (Rescoast 19) di UC UGM, Kamis (25/4/2019).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Aset Desa Bantul Raib


KORANBERNAS.ID -- Indonesia, termasuk Yogyakarta kaya akan beragam wisata alam dan pantai. Namun seringkali tidak banyak pemerintah daerah yang memahami karakter kawasan wisata. Padahal negara ini rentan terjadi berbagai bencana alam.

"Pariwisata jangan hanya mengejar angka dan profit, tapi juga memikirkan dampak yang ditimbulkan dari bencana," papar

Pengajar Manajemen Pariwisata Universitas Kent, Inggris, Mark Hampton disela Internasional Workshop Resilience and Coastal Tourism in South East Asia (Rescoast 19) di UC UGM, Kamis (25/4/2019).

Menurut Hampton, sudah seharusnya dibuat perencanaan yang komprehensif terkait pariwisata berbasis mitigasi bencana. Diantaranya dengan mengembangkan tourism academy atau institusi pelatihan bagi pemangku kebijakan dalam bidang pariwisata.

"Pemangku kebijakan harus memahami karakteristik pariwisata wilayahnya untuk mengantisipasi jumlah korban akibat bencana," tandasnya.

Sementara Ketua Program Doktor Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, Prof Wiendu Nuryanti mengungkapkan, Indonesia termasuk juga DIY yang kaya wisata alam namun rawan potensi rawan bencana. Sebab negara ini berada di jalur cincin api dan patahan sesar Eurasia dan Indo-Australia. Kondisi ini berpotensi menimbulkan aktivitas tektonik/gempa, tsunami, dan erupsi gunung api.

Namun belum banyak pemerintah daerah yang menerapkan pariwisata berbasis mitigasi bencana. Bahkan infrastruktur mitigasi bencana yang ada pun belum dimanfaatkan secara maksimal dan belum sepenuhnya jalan.

"Bangunan evakuasi sementara belum digunakan sebagai fungsi lain padahal bila terletak dikawasan pantai, pemandangan dari lantai atasnya akan sangat indah untuk dijadikan aset wisata," tandasnya.

Wiendu menambahkan, Indonesia belum memiliki institusi pelatihan bagi pemangku kebijakan untuk memetakan potensi bencana yang akan ditimbulkan di sekitar lokasi wisata. Padahal bila para pemegang kebijakan tidak menguasai persoalan bencana ini, lanjutnya, akibatnya bisa fatal.

"Diharapkan melalui workshop yang diikuti beberapa negara kawasan Asia Pasifik dapat direkomendasikan berbagai kebijakan kepada pembuat kebijakan agar bisa dijadikan dasar untuk pengelolaan pariwisata khususnya kawasan pesisir," imbuhnya.(yve)



Jumat, 26 Apr 2019, 14:24:35 WIB Oleh : Sari Wijaya 969 View
Aset Desa Bantul Raib
Kamis, 25 Apr 2019, 14:24:35 WIB Oleh : Sari Wijaya 1975 View
Suara PKB Melonjak, Pastikan 6 Kursi DPRD
Kamis, 25 Apr 2019, 14:24:35 WIB Oleh : Arie Giyarto 573 View
Gadis-gadis Remaja Peserta Karnaval Budaya Tampil Atraktif

Tuliskan Komentar