atas1

Ibarat Mal, Tiap Jengkal Malioboro Harus Bersih

Minggu, 07 Jul 2019 | 19:41:23 WIB, Dilihat 755 Kali - Oleh warjono

SHARE


Ibarat Mal, Tiap Jengkal Malioboro Harus Bersih Pedagang dan relawan melakukan aksi bersih-bersih Malioboro, Minggu (7/7/2019). (surya mega/koranbernas.id)

Baca Juga : Jarang Ada Hiburan Malam di Desa Ini


KORANBERNAS.ID -- Bagi para pedagang di Malioboro, kawasan ibarat mal panjang. Menjaga kebersihan Malioboro mesti meniru pengelolaan kebersihan di sebuah mal, yakni dengan menjaga setiap jengkal areanya agar selalu bersih.

Inilah inti dari konsep Total Care Kebersihan Malioboro saat diuji coba, Minggu (7/7/2019), di sepanjang kawasan Malioboro atau Jalan Marga Mulya Yogyakarta.

Para pedagang bersama belasan relawan melakukan aksi bersih-bersih di setiap jengkal Malioboro sekaligus melakukan kampanye serta sosialisasi kebersihan kepada pengunjung Malioboro.

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo Putro,  menjelaskan konsep tersebut merupakan sebutan untuk pelayanan prima kebersihan di sepanjang Jalan Malioboro-Ahmad Yani atau Marga Mulya.

Uji coba konsep ini merupakan bagian dari tahapan panjang yang telah dilalui sejak lama. Total Care dilakukan dalam rangka mendukung wajah baru Malioboro yang indah tanpa memindah.

Di sela-sela aksi, Sujarwo mengakui, berbicara Malioboro, ada keluhan besar yang dari waktu ke waktu muncul. Yakni kumuh dan kotor.

Kumuh berarti terkait dengan penampilan lokasi dan cara pedagang berjualan. Sedangkan kotor dikaitkan dengan banyaknya sampah yang belum terkelola dengan baik.

“Untuk kesan kumuh, kami sudah melakukan uji coba dengan membuat desain baru tenda dan semua perangkat berjualan pedagang kaki lima. Cara berjualan serta gerobaknya pun kita desain baru dan apik. Untuk yang sekarang ini, kami uji coba konsep total care kebersihan untuk menyelesaikan persoalan kedua yakni kotor,” kata Jarwo, Minggu (7/7/2019).

Aksi ini dilakukan dengan menggandeng Paguyuban Angkringan Padma, Paguyuban Lesehan PPLM, PPMS dan Paguyuban Handayani. Dilibatkan pula relawan dan tim dari LDPM UCY serta Laznas Al Azhar.

Semuanya secara serius berusaha mencari jalan baru agar masalah itu dapat diatasi secara tuntas dan berkelanjutan.

Sebelumnya, berbagai pertemuan komunitas digelar demi mencari masukan dan rumusan awal. Mereka, bahkan telah melakukan survei untuk mengetahui timbunan sampah di Malioboro.

Survei Paguyuban Kawasan Malioboro meliputi daerah sepanjang Jalan Malioboro dan Marga Mulya.

“Selanjutnya, survei akademis timbunan sampah di sekitaran gerbang Kepatihan, sayap timur Jalan Malioboro, oleh LDPM UCY dari 12-24 Maret 2019. Nah konsep total care kebersihan Malioboro dan desain baru lesehan itu hasilnya,” ujar Sujarwo.

Jarwo menegaskan, uji coba total care kebersihan Malioboro ini, tentu bukan sekaligus untuk menyelesaikan persoalan di jalan tersebut.

Paguyuban kawasan Malioboro membagikan bunga untuk pengunjung. (surya mega/koranbernas.id)

Aksi itu merupakan implementasi dari kajian mendalam yang sudah dilakukan dengan melibatkan banyak kalangan termasuk akademis.

Melalui uji coba ini, Komunitas Malioboro ingin membuktikan sekaligus menunjukkan dengan keseriusan dan cara pandang serta pendekatan yang komprehensif, ke depan persoalan kumuh dan kotor di Malioboro bisa diatasi bersama.

“Kami menempatkan relawan di setiap jengkal Malioboro. Mereka menjaga dan memungut setiap sampah yang terlihat, sekaligus mengkapanyekan kebiasaan bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan,” jelas Jarwo.

Aksi ini dilakukan dengan sistem shift sejak pagi hingga menjelang pagi esok harinya. Sebagai bentuk kampanye simpatik, relawan juga membagi-bagikan bunga ke pengunjung Malioboro, yang disambut antusias oleh pengunjung.

“Pelayanan kebersihan mesti dilakukan terus-menerus mal panjang yang dinamai Malioboro ini beraktivitas,” kata Sujarwo.

Penanganan dilakukan secara bersamaan antara hulu dan hilir. Hulu terkait sumber yang menghasilkan sampah, dan hilir tentu saja terkait penanganan sampah yang timbul di lapangan.

Sujarwo menekankan, perpaduan fasilitasi dan persuasif-edukatif, dengan penegakan hukum secara tegas tidak boleh dilupakan. Kemudian, perlu konsisten, berkelanjutan dan sinergi antar-pemangku kebijakan.

“Dari uji coba ini akan kita evaluasi lagi. Kalau sudah baik, maka konsep ini akan kami sampaikan ke pemerintah daerah dan DPRD untuk diimplementasikan. Hitungan kami, untuk menjaga Malioboro bersih selamanya, perlu petugas kebersihan sekitar 80 orang setiap hari dari pagi hingga menjelang pagi lagi. Itu sepadan dengan jumlah petugas keamanan yang dikerahkan untuk menjaga kawasan ini. Volume itu jelas tidak sanggup dipenuhi pedagang. Harus pemerintah,” papar Sujarwo lebih lanjut.

Perwakilan dari pedagang di kawasan Malioboro sendiri, mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk ikut menyelesaikan persoalan sampah sejak dari hilir.

Sumber sampah sebisa mungkin dieliminasi dengan menggunakan perabot sekali pakai, untuk pengganti piring dan gelas. Semua menggunakan bahan sekali pakai yang ramah lingkungan.

Cara ini, sekaligus dapat mengurangi pemakaian air yang berlebihan sehingga dapat menekan limbah cair.

“Tidak cuci tangan, kami menggunakan tisu basah sebagai penggantinya,” kata Ny Toro selaku pemilik Warung Lesehan Borobudur. (SM)



Minggu, 07 Jul 2019, 19:41:23 WIB Oleh : Prasetiyo 644 View
Jarang Ada Hiburan Malam di Desa Ini
Minggu, 07 Jul 2019, 19:41:23 WIB Oleh : Arie Giyarto 583 View
Jika Jakarta Libur Sehari..
Jumat, 05 Jul 2019, 19:41:23 WIB Oleh : Nila Jalasutra 340 View
Sleman Targetkan Ribuan Kantong Darah

Tuliskan Komentar