atas

Humor Tersembunyi Taruna Akabri

Sabtu, 08 Des 2018 | 11:21:31 WIB, Dilihat 387 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Humor Tersembunyi Taruna Akabri Bincang santai Alumni Akabri 1985 Delima Nusantara Bersatu untuk Negara, Jumat (07/12/2018) malam, di Kampayo XT Square Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Para Tokoh Blockchain Bertemu di Jogja


KORANBERNAS.ID – Seperti inilah suasana saat sejumlah tokoh dari Taruna Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) 1985 berkumpul. Humor-humor tersembunyi yang selama ini mungkin tersimpan rapi jarang mampir ke telinga publik, tiba-tiba mencuat menjadi kisah-kisah menarik sekaligus inspiratif.

Cerita-cerita lucu itu mengalir saat digelar Bincang Santai Alumni Akabri 1985 Delima Nusantara Bersatu untuk Negara yang berlangsung di Kampayo XT Square Yogyakarta, Jumat (07/12/2018) malam. Acara tersebut mengusung tema Merajut persaudaraan, mengenang kisah, penyemangat hidup.

Dipandu host KRMT Indro Kimpling Suseno, para mantan Taruna yang kini menyandang bintang dua itu tidak bisa menyembunyikan cerita masa lalunya. Mulai dari soal jodoh, hukuman, kisah-kisah lucu saat mencuri makanan maupun pernak-pernik asmara kehidupan mereka.

Malam itu, perwakilan dari empat angkatan yaitu TNI AD Delima Tidar, TNI AL Delima Moro, TNI AU Delima Maguwo serta Polri Delima Candi, bicara blak-blakan tentang masa lalunya saat menjalani pendidikan di Akmil Magelang.

Dari TNI AD Delima Tidar hadir Mayjen TNI Juwondo, Brigjen TNI Juhendi, Brigjen TNI Edison Simanjuntak, Brigjen TNI I Ketut Sugiartha, Brigjen TNI Jajah Subarjah.

Perwakilan dari TNI AL Delima Moro hadir Laksda TNI Mulyadi, Laksma TNI M Ibrahim, Laksma TNI Harhar S, Laksma TNI Bernhard SB serta Kol Aswoto S.

Dari TNI AU Delima Maguwo ada Marsda TNI Abdul Muis, Marsda TNI Dedy Permadi, Marsda TNI Gutomo, Marsma TNI Sugeng Sutrisno serta Marsma TNI Hadi Suwito.

Sedangkan Akpol Delima Candi hadir Irjen Pol Drs J Kwartanto, Brigjen Pol Drs Joko Irianto, Brigjen Pol Drs Bambang Sugeng, Brigjen Pol Drs Syamsul Hidayat serta Brigjen Pol Drs Dwi Hartono.

Alumni Akabri 1985 Delima Nusantara menyapa dengan salam khas mereka. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Usai menikmati penampilan The Oldiest Section Band serta tarian yang dibawakan IPDC UII Yogyakarta, mereka berkisah mengenai motivasinya masuk akademi militer.

Ada yang ingin menjadi pilot setelah melihat pramugari, ada yang karena dijebloskan hingga terpaksa masuk akademi itu sampai karena faktor kepepet maupun terobsesi setelah melihat topi.

Meski berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda mulai petani hingga pegawai negeri, mereka kemudian sukses meniti karier menjadi tokoh-tokoh kunci di negeri ini.

Menjawab pertanyaan Indro Kimpling bagaimana menemukan jodoh, awalnya mereka terlihat malu-malu namun setelah didesak akhirnya semua sepakat memberikan jawaban jujur.

“Ini pertanyaan serius atau lucu?”

“Jangan buka kartu.”

“Ada pertanyaan yang lain?

“Ini jawaban jujur, polos atau kepepet?

“Baiklah, Delima Nusantara dilatih untuk menyampaikan kejujuran demi berbakti untuk negara,” ungkap Mayjen TNI Juwondo.

Rekan-rekannya yang duduk di sampingnya kemudian satu kata dan kompak untuk memberikan jawaban jujur.

Satu per satu mereka mengungkap kisah cintanya hingga menemukan jodohnya masing-masing. Ada yang mulai pacaran sejak di bangku SMA, dulu istilahnya naksir dan itu pun hanya lewat surat.

Mahasiswa dari UII bersama dengan alumni Akabri 1985 Delima Nusantara, usai acara. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Lebih lucu lagi, jodoh itu ditemukan gara-gara kelinci peliharaannya lepas. Saat ditemukan, kelinci itu dielus-elus oleh seorang perempuan hingga akhirnya pemilik kelinci tertarik dengan wanita itu. Seperti buku cerita dongeng anak-anak, dari situ cinta tumbuh bersemi.

“Kalau Koprs Infanteri, kita dididik untuk mencari, dekati dan hancurkan.”

Kontan jawaban ini membuat suasana Kampayo penuh gelak tawa.

Kemudian meluncur jawaban lain yang tidak kalah lucu.

“Saya pakai witing tresna jalaran saka kulina.”

Berganti cerita, Indro Kimpling bertanya pengalaman apa yang paling berkesan.

“Apa maksudnya, tugas atau...?” jawab Marsma Abul Muis.

“Hukuman.”

Dari satu pertanyaan itu, jawaban yang meluncur sangat beragam. Mereka semua menyatakan hukuman adalah hal biasa saat menjalani pendidikan di Akmil, ibarat minum obat tiga kali sehari.

Sedangkan satu cerita yang tidak akan ada habisnya adalah soal makanan, meski tiga hari tiga malam tidak akan rampung dibahas. Ini karena makanan untuk Taruna dijatah dalam ompreng. Aturannya, makanan itu tidak boleh lebih dan harus habis.

Marsma TNI Gutomo diwawancarai media usai acara pertemuan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Yang pasti, dari semua kisah itu terdapat banyak pelajaran yang berguna untuk bangsa ini yaitu pentingnya menjaga silaturahim.

Mereka hanyalah komponen kecil dari bangunan besar bangsa Indonesia namun semangatnya tidak pernah luntur untuk menjaga solidaritas dan menjaga Indonesia.

Dalam konteks kekinian, cerita tentang pengalaman dan pengabdian para tokoh itu memuat banyak pelajaran yang bisa dipetik, di antaranya jangan pernah menunda pekerjaan, bangkitkan rasa percaya diri, angkasa itu luas tapi tidak ada tempat untuk berbuat salah.

Kepada wartawan usai acara Marsma TNI Gutomo selaku ketua panitia menjelaskan pertemuan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Reuni Akbar ke-33 Delima Nusantara.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari pertemuan tersebut salah satunya adalah menjaga nilai-nilai silaturahim yang terbukti manfaatnya sangat luar biasa. (sol)



Sabtu, 08 Des 2018, 11:21:31 WIB Oleh : Sholihul Hadi 306 View
Para Tokoh Blockchain Bertemu di Jogja
Sabtu, 08 Des 2018, 11:21:31 WIB Oleh : Arie Giyarto 354 View
Smart Phone Picu Disharmoni Keluarga
Sabtu, 08 Des 2018, 11:21:31 WIB Oleh : Sholihul Hadi 141 View
Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi

Tuliskan Komentar