atas

Hapus Stigma Nuklir Identik Bom
STTN-BATAN Luluskan 101 Mahasiswa, 45 Raih Predikat Cumlaude

Selasa, 04 Sep 2018 | 20:13:16 WIB, Dilihat 234 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Hapus Stigma Nuklir Identik Bom Prof Dr Ir Djarot Sulistio Wisnubroto (kiri) didampingi Edi Giri Rachman Putra Ph D (tengah) menyampaikan keterangan pers usai Wisuda Sarjana Sains Terapan STTN-BATAN, Selasa (04/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Mahasiswa Pikirkan Kemiskinan, Ini Caranya


KORANBERNAS.ID – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus berupaya menghapus stigma tentang nuklir yang masih identik dengan bom atau PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).

“Salah satu tugas BATAN adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi nuklir. Jangan terjebak nuklir itu hanya bom atau PLTN,” ujar Prof Dr Ir Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala BATAN Yogyakarta.

Kepada wartawan usai Wisuda Sarjana Sains Terapan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Badan Tenaga Nuklir Nasional Yogyakarta, Selasa (04/09/2018) di kampus Babarsari Sleman, dia menyampaikan lulusan sekolah tinggi kedinasan itu 80 persen bekerja pada berbagai sektor industri, termasuk rumah sakit.

STTN-BATAN setiap tahun mewisuda 90 sampai 100 lulusan. Saat ini pun kebutuhan SDM bidang teknologi nuklir peluangnya sangat banyak, terbuka dan berkembang luas.

Pada wisuda kali ini, STTN-Batan meluluskan 101 mahasiswa. Yang mengejutkan, 45 orang meraih cumlaude atau lulus dengan pujian. Ini prestasi luar biasa dan bisa dibilang langka sekaligus menjadi tradisi di sekolah tinggi itu.

Ketua STTN-BATAN Yogyakarta Edi Giri Rachman Putra Ph D menambahkan, ke depan iptek nuklir dan ruang angkasa serta teknologi informasi akan menjadi kebutuhan.

Menjawab tantangan tersebut, para lulusan STTN-BATAN tidak hanya memperoleh ijazah tetapi juga sertifikasi yang berstandar internasional.

Dalam kesempatan itu, wisudawan dan wisudawati menerima Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi (SIB PPR), secara simbolis diserahkan oleh Kepala Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir).

SIB PPR ini diperoleh melalui proses yang panjang mulai dari pemeriksaan kesehatan, laborotorium hingga harus lulus Kursus Petugas Proteksi Radiasi di STTN dengan materi ujian yang sangat berat. Selain itu, pedoman kelulusan pun cukup ketat.

“SIB ini dapat disejajarkan dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang menunjukkan keahlian khusus lulusan STTN. Inilah yang membedakan lulusan STTN dengan perguruan tinggi lainnya, sehingga memiliki kompetensi secara global dan laku jual,” papar Edi.

Baik Djarot Sulistio maupun Edi Giri menyatakan sertifikasi  tambahan yang diterima oleh para wisudawan STTN-BATAN sekaligus untuk menjawab menjawab kekhawatiran masyarakat mengenia kesiapan Indonesia memasuki era nuklir.

PLTN Kalimantan

Momentum wisuda tahun 2018 ini terasa sangat istimewa karena merupakan pioner atau angkatan pertama lulusan dari program beasiswa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar), berjumlah 24 dari 26 mahasiswa.

Dari 24 wisudawan tersebut, 13 di antaranya mendapat predikat cumlaude.

Djarot Sulistio Wisnubroto berharap begitu lulus mereka kembali ke daerah asal mengingat masyarakat dan pemerintah di provinsi tersebut memiliki kemauan kuat membangun PLTN.

BATAN sudah memproyeksikan lokasi PLTN berada Kalbar dengan pertimbangan setidaknya relatif lebih aman dari gempa bumi, dibandingkan apabila berada di pulau Jawa, Sumtra, Bali atau Nusa Tenggara Barat.

Apalagi, Kalimantan Barat juga mempunyai tambang uranium. Setidak-setidaknya keberadaan tambang tersebut menjadi modalnya. Rencana pendirikan PLTN di Kalbar dimulai 2014, sedangkan proses selanjutnya masih menunggu presiden.

“Keberadaan wisudawan dari Kalimantan Barat ini potensi yang luar biasa, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, kelak jika dibangun PLTN,” tambah Edi Giri.

Ke depan dia berharap kerja sama seperti itu juga bisa dilakukan oleh pemerintah daerah lainnya. Adapun tahun akademik 2018, STTN-BATAN Yogyakarta menerima mahasiswa baru reguler sebanyak 98 orang berasal dari 29 provinsi di Indonesia. (sol)



Selasa, 04 Sep 2018, 20:13:16 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 241 View
Mahasiswa Pikirkan Kemiskinan, Ini Caranya
Selasa, 04 Sep 2018, 20:13:16 WIB Oleh : Sari Wijaya 261 View
Tangkap Kepiting Kecil, Nelayan Jadi Tersangka
Senin, 03 Sep 2018, 20:13:16 WIB Oleh : Nila Jalasutra 343 View
Purwomartani Jadi Desa Tangguh Bencana

Tuliskan Komentar