atas1

Hanya Pakai Pot, Petani Kota Panen Semangka, Labu dan Tomat

Jumat, 06 Des 2019 | 07:47:51 WIB, Dilihat 13025 Kali
Penulis : Arie Giyarto
Redaktur

SHARE


Hanya Pakai Pot, Petani Kota Panen Semangka, Labu dan Tomat Semangka berbuah besar meski ditanam di pot. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Insyaf, Eks Napi Terorisme Ungkap Kisahnya di Hadapan Ibu-ibu


KORANBERNAS.ID -- Buah ini termasuk keluarga waluh atau labu. Tapi bentuknya unik. Mirip botol dengan "pinggang" seperti pin bowling. Warnanya kuning tua cenderung oranye, apalagi kalau buahnya sudah betul-betul tua.

Dikenal dengan nama labu madu atau labu botol, buah bernama latin butternut squash ini merupakan salah satu jenis tanaman yang dikembangkan Kelompok Tani “Maju Makmur”, kelompok tani tingkat pemula RT 23 RW 05 Kelurahan Prenggan Kotagede Yogyakarta.

"Kebetulan ini sudah hampir selesai panen. Jadi buahnya tinggal sedikit," kata Reni Yuli Wijaya, Sekretaris Klomtan “Maju Makmur” menjawab pertanyaan koranbernas.id di kebun kelompok tersebut, Senin (2/12/2019) sore.

Saat itu anggota berkumpul untuk kerja bakti. Setelah menjadi juara tingkat Kota Yogyakarta dan DIY, kelompok tersebut maju lomba tingkat nasional Hatinya (Halaman Indah Tertib dan Nyaman) tingkat petani pemula.

Seorang ibu memperlihatkan tomat chery yang banyak buahnya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Lapangan badminton

Kebun itu relatif sempit. Hanya menggunakan pinggiran lapangan badminton atau bulutangkis. Melalui penataan yang rapi tanaman jadi kelihatan hijau segar.

Meski hanya memakai pot serta polybag puluhan tanaman lombok rawit penuh buah di semua ujungnya. Ada semangka yang berbuah meski ditanam di dalam pot. Ada jambu mutiara, jambu air madu Deli serta jambu air Dalhari.

Ada pula anggur dalam pot maupun belimbing bintang. Termasuk bibit labu madu dengan berbagai umur yang siap untuk peremajaan.

"Baru saja Dinas Pertanian Kota Yogyakarta membeli 20 batang pohon labu madu," kata Gandung Slamet Maryanto, Ketua Klomtan "Maju Makmur".

Labu madu mudah sekali perawatannya, dalam waktu relatif pendek sudah mulai berbuah. Yang penting mendapat sinar matahari cukup dan penyiraman rutin.

Labu madu memiliki tekstur buah yang lembut. Buah ini dijual di supermarket dengan harga lumayan tinggi. Karena kandungan gizi, nutrisi dan vitaminnya, labu madu banyak diberikan pada bayi, ibu hamil dan menyusui.

Sekitar 80 hari, dengan perawatan baik, pemupukan seimbang dan pemberantasan hama putih yang sering mengganggu, labu sudah mulai berbuah.

Apalagi dengan bantuan pembuahan lewat serbuk bunga, hasilnya maksimal. Masa produksinya sekitar tiga bulan.

Buah yang sudah tua berwarna oranye mengkilat. Sebelum disimpan seyogianya labu dibersihkan dulu agar awet, bebas dari hama yang mungkin menempel.

Selain dikonsumsi, sebagian disisihkan bijinya untuk persediaan regenerasi. Karena tanaman ini merambat, maka dibuat para-para agar labu tampak indah bergelantungan.

Hasil dari kebun berupa lombok, tomat, terong, kacang panjang, sawi dan lain-lain dijual utamanya bagi anggota.

Tujuannya supaya anggota bisa merasakan hasil panen sayur sehat yang bebas residu pestisida. Baru selebihnya dijual untuk umum.

Sedang lele cendhol bantuan pemerintah yang dipelihara Gandung menggunakan dua buis beton yang ditumpuk. Hasil panen dibagi gratis ke seluruh anggota. "Tidak terlalu besar, rata-rata 1 kg isi 9 ekor," kata Gandung.

Dasar buis beton setelah disemen dibersihkan dengan daun pepaya dan direndam air dua kali. Ternyata lele banyak yang mati. Dari 350 bibit yang diterima, yang dipanen hanya 160-an ekor.

Belajar dari masa lalu, kelompok tani itu kini kembali membesarkan lele. Bibit dan pakannya murni swadaya. Gandung berharap, persentase hasil panen lebih tinggi dibanding tebaran benih.

Labu madu bergelantungan di dahannya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Rasa memiliki

Kebun Klomtan "Maju Makmur" bisa berkembang berkat kesadaran cinta lingkungan dan rasa memiliki dari anggota.

Untuk membersihkan dan menyiram tanaman dibuat jadwal harian pagi maupun sore merata di antara 27 anggota. Dari jumlah itu hanya enam bapak-bapak. Selebihnya ibu-ibu dari ibu muda sampai lansia.

Kerja bakti rutin dengan jamuan swadaya, siapa saja boleh membawa. Bahkan saat kerja bakti Senin sore itu ada anggota yang membawa durian hasil kebunnya untuk dinikmati bersama.

"Suasananya guyub rukun. Ada unsur rekreatif dan silaturahim," kata Reni.

Anggota Klomtan “Maju Makmur” Prenggan Kotagede Yogyakarta kerja bakti mengelompokkan tanaman. (arie giyarto/koranbernas.id)

Lahan pinjaman

Kebun melingkar di lapangan badminton itu pinjaman dari warga setempat yang tinggal di Surabaya.

Kelompok ini pun sudah siap seandainya lahan itu diminta kembali pemiliknya untuk digunakan.

Menurut Gandung, ada lahan milik Ny Tri yang siap bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Agar keberlangsungan kelompok tani itu terus berlanjut. Rasa memiliki dan keikhlasan itu tetap jadi kata kuncinya. (sol)



Jumat, 06 Des 2019, 07:47:51 WIB Oleh : Redaktur 265 View
Insyaf, Eks Napi Terorisme Ungkap Kisahnya di Hadapan Ibu-ibu
Kamis, 05 Des 2019, 07:47:51 WIB Oleh : Rosihan Anwar 619 View
Jogja Sah Menjadi Gudang Atlet Panahan Terbaik
Kamis, 05 Des 2019, 07:47:51 WIB Oleh : Redaktur 316 View
Ngetrail Sepuasnya di Desa Wisata Otomotif

Tuliskan Komentar