atas1

Haedar Gerah, Berfoto pun Jadi Seperti Unyil

Senin, 11 Feb 2019 | 14:33:40 WIB, Dilihat 1844 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Haedar Gerah, Berfoto pun Jadi Seperti Unyil Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir dalam amanat Pra-Tanwir "Beragama yang Mencerahkan" di UMY, Senin (11/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Pembeli Tak Sabar Ingin Segera Menyantap Durian Kaligesing


KORANBERNAS.ID -- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir merasa gerah dengan konstelasi politik menjelang Pemilihan Umum (pemilu) 17 April 2019 mendatang. Banyak hal yang berubah menjadi ideologi politik masing-masing pasangan calon (paslon) pemilihan presiden dan wakil presiden.

Sebut saja jari tangan yang alih-alih menjadi simbol kegembiraan tiba-tiba di tahun politik ini berubah jadi simbol ideologi kedua kubu. Fanatisme pada politik membuat sejumlah pihak pun menjadi "buta" karena stigma yang dibangun.

"Tangan bukan lagi sebagai simbol kegembiraan namun sebagai ideologi politik. Saat ini susah kalau mau mengekpresikan diri dengan tangan karena bisa-bisa dianggap condong ke salah satu kubu kalau pakai simbol-simbol tangan. Jadinya kalau foto seperti unyil (boneka-red) yang lurus tidak bisa gerak," ungkap Haedar dalam amanat Pra-Tanwir "Beragama yang Mencerahkan" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (11/2/2019).

Menurut Haedar, fanatisme pada politik terjadi saat ini dan membuat sebagian pihak menjadi "buta" akan kegembiraan berdemokrasi. Bahkan dogma agama pun dibawa-bawa ke ranah politik. Dicontohkannya, ada salah seorang tokoh besar yang sudah sepuh (tua-red) menggunakan tangan jadi ideologi politik.

"Mungkin masa kecil dia kurang bahagia," tandasnya sembari bercanda.

Haedar memastikan, Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat (ormas) yang dipimpinnya saat ini akan terus bersikap netral dalam Pemilu nanti. Sebab sejak didirikan Kyai Ahmad Dahlan, ormas tersebut dibingkau kepribadiannya sebagai gerakan yang tidak berpolitik praktis.

"Ini bukan karya haedar atau ketua umum lainnya tapi sebagai produk organisasi yang sudah ada sejak muhammadiyah berdiri. Saya sebagai ketua umum hanya menjaga muhammadiyah sesuai koridornya. Jadi bila ada yang mempertanyakan apa yang saya lakukan, yang salah siapa ?," ungkapnya.

Sementara Rektor UMY, Gunawan Budiyanto mengungkapkan Muhammadiyah perlu meningkatkan literasi membaca. Sebab saat ini banyak yang kurang membaca dan tidak menjadikan narasi kebajikan Islam sebagai yang utama. (yve)



Senin, 11 Feb 2019, 14:33:40 WIB Oleh : Arie Giyarto 3592 View
Pembeli Tak Sabar Ingin Segera Menyantap Durian Kaligesing
Minggu, 10 Feb 2019, 14:33:40 WIB Oleh : Sari Wijaya 349 View
Anak-anak Tertarik pada Robot
Minggu, 10 Feb 2019, 14:33:40 WIB Oleh : Nanang WH 339 View
Milenial pun Wajib Utamakan Keselamatan Lalin

Tuliskan Komentar