empati-termudah-adalah-senyumAgus Sudrajat, Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta menggelar sarasehan bersama teman-teman difabel Yogyakarta, Selasa (10/12/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


ronnee

Empati Termudah adalah Senyum

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Menerapkan kawasan semi pedestrian di Malioboro yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih terus berlangsung. Secara periodik setiap 35 hari sekali peningkatan penerapan kawasan semi pedestarian ini terus diselenggarakan.

Selasa Wage masih menjadi favorit masyarakat untuk datang di kawasan Malioboro, tidak hanya pengunjung yang datang dari luar daerah tetapi juga pengunjung lokal yang berada di sekitaran Malioboro. Pentas-pentas kesenian dari berbagai komunitas baik tradisional hingga musik akustik menghiasi kawasan Malioboro secara bergantian dari pukul 15:00 hingga tengah malam.

Tidak ingin melewatkan kebahagiaan yang dirayakan bersama oleh masyarakat Yogyakarta di kawasan Malioboro, komunitas difabel Yogyakarta juga tak ketinggalan ikut merayakan Selasa Wage.

Triyono selaku Litbang Persatuan Penyandang Disabilitas DPD Yogyakarta sangat yakin bahwa merasakan kebahagiaan yang sama dengan masyarakat adalah sebuah terapi yang sangat manjur bagi teman difabel. Menurutnya dengan perasaan bahagia yang dilihat dari rerata pengunjung Malioboro akan menular kepada siapa pun yang melihat.

"Tak perlu muluk-muluk kok jika ingin berempati dengan teman difabel, cukup dengan saling senyum, atau mungkin menyapa, itu sudah cukup membuat teman-teman (difabel) ini diterima," ujarnya saat menggelar Sarasehan dan Do'a Bersama di kawasan Nol kilometer, Selasa (10/12/2019).

Masih dalam rangkaian peringatan hari disabilitas internasional yang jatuh pada 3 Desember 2019 lalu dan berbagai komunitas difabel Yogyakarta ingin memberi edukasi kepada masyarakat luas khususnya pengunjung Selasa Wage kawasan Malioboro. Bahwa tidak ada bedanya apa yang dirasakan oleh teman-teman difabel dan masyarakat yang able pada umumnya.

"Selain kemampuan, kita sama dalam banyak hal, merasakan kebersamaan dan kebahagiaan yang sama di kawasan Malioboro dan sama-sama tidak membayar atas oksigen yang dihirup," imbuh Triyono.

Menurutnya edukasi seperti ini sangat penting dan efektif dilakukan, bukan dengan seminar-seminar yang biasa dilakukan di tempat khusus, di tempat tertutup, semewah apapun fasilitasnya tapi jika yang diundang kebanyakan adalah teman-teman difabel tentunya tidak ada gunanya.

"Yang butuh sosialisi itu kan sebenarnya masyarakat yang able, bukan justru teman-teman disabilitas. hal ini sama dengan sosialisasi berlalu-lintas di jalan. sosialisasi untuk masyarakat umum, pengguna jalan, bukan untuk polisinya. sejatinya peraturan daerah ataupun undang-undang disablitas itu ditujukan kepada masyarakat umum bukan kepada teman-teman difabel sebagai marjinal," lanjutnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta, Agus Sudrajat menanggapi pentingnya gerakan seperti ini, menurutnya ini merupakan media informasi untuk masyarakat guna menyampaikan bahwa ada bagian dari kita, yaitu saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Saudara kita yang mempunyai hak yang sama dengan masyarakat lain.

"Hal ini sesuai dengan program pemerintah kota Yogyakarta yaitu segala pembangunan itu diarahkan untuk mengarus utamakan lima afirmasi, yang salah satunya adalah untuk teman-teman disabilitas," imbuhnya.

Saya sangat sepakat teman-teman mengambil bagian dalam aktivitas masyarakat di Jalan Malioboro khususnya di gedung agung, supaya tahu persis bahwa ada bagian saudara kita yang mempunyai hak yang sama, berperan sama serta mengambil bagian di kota Yogyakarta.

"Sehingga akan muncul Yogyakarta sebagai kota yang ramah, sebagai kota inklusi yang mendukung teman disabilitas. sekaligus mewujudkan kota Yogyakarta sebagai kota layak huni dan nyaman untuk semua warganya," tandasnya. (yve)


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini