atas

Emosional Tandanya Kurang Ngopi
Menag Lukman Hakim Saifuddin Lontarkan Guyonan ala Santri

Kamis, 11 Okt 2018 | 00:03:31 WIB, Dilihat 320 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Emosional Tandanya Kurang Ngopi Menag Lukman Hakim Saifuddin tampil pada acara Malam Budaya di Kandang Menjangan Krapyak Yogyakarta, Rabu (10/10/2018). (istimewa)

Baca Juga : Taman Kaliurang Didesain untuk Meningkatkan Interaksi Sosial


KORANBERNAS.ID – Mengenakan busana putih lengan panjang dipadu pecis hitam, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, tampil pada acara Malam Budaya di Kandang Menjangan Krapyak Yogyakarta, Rabu (10/10/2018) pukul 20:30.

Penampilan dia kali ini merupakan bagian dari perhelatan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2018 yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dalam rangka Road to Hari Santri Nasional 2018.

Dengan gaya santai membaca coretan ringan, menteri yang satu ini berkelakar, melontarkan guyonan yang menyentil sejumlah hal mulai dari sosok santri, budaya radikal hingga fenomena santri abal-abal.

Menag menyebut, santri itu bisa digambarkan ibarat secangkir kopi. “Santri yang emosional itu tandanya kurang ngopi, santri gampang dibohongi berarti ngopinya kurang pahit,” ujarnya disambut tawa pengunjung yang memadati lokasi acara.

Sedangkan santri kuper itu artinya ngopinya kurang jauh. “Santri ngeyel dan suka menyalahkan orang lain artinya belum pernah menyeduh kopi. Santri yang mementingkan diri sendiri artinya suka ngopi gratisan,” katanya.

Memang, lanjut dia, bicara Indonesia maka tidak bisa lepas dari kaum santri. Bukan saja karena eksistensinya yang sudah jauh sebelum republik ini berdiri dan semangat kebangsaannya sudah teruji, lebih dari itu santri adalah pengawal keluhuran budaya negeri ini.

“Agama dan kebudayaan merupakan dua elemen yang dapat berakulturasi secara harmonis, membentuk sebuah warna baru yang cantik bagi Indonesia,” tambahnya.

Dia menilia, kesalehan santri bukan pada tanda-tanda fisik dan pakaiannya, tetapi tercermin dari kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dirinya.

"Pesantren itu tempat paling kredibel dalam meneruskan ajaran Rasulullah SAW, sepanjang nyantrinya tuntas. Pemahaman agama yang belum tuntas akan menghasilkan simpulan salah, dan ini fatal dalam pemahaman agama," katanya.

Dalam kesempatan itu Menag meminta santri menjaga keindahan Indonesia yang tak ternilai harganya.

Dia kemudian mengutip ungkapan Mahmud Syaltut, pemikir muslim Mesir abad ke-20 yang pernah di Indonesia tahun 1961. Menurut Mahmud, Nusantara adalah sepotong surga yang diturunkan ke bumi.

Indonesia tidak cuma memiliki keindahan dan sumberdaya alam, tetapi juga keragaman budaya. Semuanya itu patut disyukuri, tetapi yang paling harus disyukuri adalah keberhasilan mengikatkan diri dalam rajutan bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

"Ciri khas santri indonesia itu moderat, tak gampang ngambek, membiasakan dialog dalam keberagaman, dan bertenggang rasa" kata Menag seraya menambahkan ulama nusantara memberi nilai tambah pada budaya etnik yang beradu dengan spirit relijuisitas.

Sementara budayawan Sosiawan Leak melalui puisinya menyebut santri adalah pejuang, meski dalamnya penuh kenaifan. "Ada santri nakal yang suka mencuri buah tetangga, mengintai ayam, menyandra sandal tamu, meng-gosob alat mandi, dan garuk-garuk di sekujur badan" teriaknya. Tetapi saat menjadi politisi, pejabat, dan selebriti, ia merupakan pejuang bangsa.

Sedangkan Helvy Tiana Rosa menceritakan kisah Nyai Hj Hairiyah, wanita ulama asli Indonesia yang membangun pesantren dan madrasah di Mekkah.

"Pesantren adalah gerbang kedamaian, pilar kearifan, dan benteng pertahanan terahir negeri kita," ungkapnya dalam bait puisi.

Pada Malam Budaya kali ini tampil sederet tokoh. Sebut saja Romahurmuzy, Inayah Wahid, Gus Hilmy, Abidah El Khaliqie, Candra Malik dan Habiburrahman El-Shirazy.

Di lapangan Ali Maksum Krapyak, berlangsung Festival Serban & Pegon Kiai. Dipamerkan beraneka benda bersejarah yang biasa dipakai oleh orang-orang pesantren maupun kitab-kitab kuno beraksara pegon. (sol)



Rabu, 10 Okt 2018, 00:03:31 WIB Oleh : Surya Mega 265 View
Taman Kaliurang Didesain untuk Meningkatkan Interaksi Sosial
Selasa, 09 Okt 2018, 00:03:31 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 1735 View
Ketika Boneka Siap Berpesta
Selasa, 09 Okt 2018, 00:03:31 WIB Oleh : Arie Giyarto 398 View
Dari Istana Bertemu di Taman Budaya

Tuliskan Komentar