atas

Emas di Langit Papua

Minggu, 02 Des 2018 | 00:51:20 WIB, Dilihat 143 Kali - Oleh V. Kirjito, Pr. , Rohaniwan, Pemerhati Budaya Air Hujan.

SHARE


Emas di Langit Papua IONIZER - Praktik pembuatan ionizer air hujan ukuran besar. (FOTO: V KIRJITO/KORAN BERNAS)

Baca Juga : Bima Mengawali IBL Lewat Kemenangan Manis


PUKUL tujuh pagi ketika pesawat Garuda mendarat di bandara Nabire, Papua. Runway bandara tampak basah, bekas guyuran hujan. Ada genangan air di sana-sini. Hati saya berdebar. Inilah pertama kali kaki saya menginjak bumi Papua. Dr Frederick Kosasih, sahabat saya dari Denpasar, membantu mengangkat bagasi saya.

“Romo Kirjito, hujan turun sekitar pukul lima tadi. Mengucapkan selamat datang atas kedatangan Romo pecinta hujan,” kata Romo Yan Dou Pr setengah berteriak saat menjemput kedatangan saya. Romo Rektor Seminari Tahun Rohani St. Paulus itu, menyambut kami dengan hangat, ditemani Sr. Dionisia AK.

“Sudah sepuluh hari ini hujan tidak turun di Nabire. Hawanya panas,” kata suster Dionisia yang sudah empat tahun bertugas di Nabire. Suster ini terbukti lolos dari virus nyamuk malaria Papua, meski sudah 4 tahun di sana. 

“Kalau badan sehat, darah alkali, virus malaria tidak tembus,” timpal Dr. Frederick, dokter muda ganteng yang tekun eksperimen mencari literatur riset-riset air luar negeri itu. Belakangan ia mendalami “Water, Cel an Life” tulisan Dr. Gerald Polack, Amerika dan eksperimen air “EZ” (Extra Zone) alkali dan sinar infrared. 

Labora Hujan 

Romo Yan Dou Pr mengenal saya sebagai pegiat budaya air hujan melalui media massa yang dibacanya. Itu sebabnya, Rektor Semiari itu mengundang saya untuk mengisi program “bulan probasi” bagi para frater. Romo Yan Dou Pr kemudian memberi label kegiatan tersebut sebagai “Labora Hujan TOR (Tahun Orientasi Rohani) Seminari St. Paulus Regio Papua”.

“Dari dua belas frater saya, hampir tiap bulan ada saja yang sakit. Saya bonceng sepeda motor ke dokter Pingki di kota Nabire, atau ke rumah sakit, sekitar 15 km dari seminari,” kata Romo Yan Dou Pr.

“Saya yakin Tuhan mengutus dua malaekat, Romo Kirjito dan Dr. Frederick, bagi kami di seminari, tempat pendidikan calon-calon imam regio Papua ini,“ sambung rektor muda yang cerdas itu sembari tertawa. 

Di mata Romo Yan Dou Pr, saya dan dokter Frederick diangap sebagai “utusan Tuhan” yang sudah berpengalaman meneliti air hujan menjadi air minum sehat. Berangkat dari kepercayaan itulah, Pater Yan Dou Pr membuat program sebulan penuh meneliti dan memproses air hujan bagi para fraternya.

Cairan Tubuh

Materi pokok pelatihan adalah air dan darah. “Jika darah sehat, tubuhnya juga sehat,” demikian Dr. Frederick memberi kuliah. “Darah yang sehat bersifat encer, lancar beredar ke seluruh miliaran sel dan syaraf tubuh sampai ke otak. Mengandung oksigen dan nutrisi yang optimal. Membutuhkan sinar infrared guna melancarkan peredaran darah,” katanya mengutip riset Dr. Gerald Polack, “Water, Cel dan Life.” 

Selain minum air hujan diionisasi sendiri, juga eksperimen berjemur pagi hari setelah sarapan. 

Penelitian eksperimental saya empat tahun terkahir ini, menemukan asumsi bahwa bahan baku darah yang utama dan paling banyak adalah air. Pertanyaannya, darah yang bagus itu  membutuhkan air seperti apa? Jawabannya, mari kita cari dengan penerlitian eksperimental air minum, khususnya air hujan. 

Kita perlu melakukan sendiri survey kualitas cairan tubuh atau darah kita masing-masing. Dengan dukungan Dr. Frederick, saya membuat metode survey cairan tubuh. Intinya meneliti kualitas kotoran tubuh. Ada dua belas item yang memandu tiap orang meneliti kotoran tubuh masing-masing. Jika hasilnya di bawah 60 persen, itu buruk, kotor. Antara 60 – 70 persen itu sedang atau cukup. Di atas 70 – 80 persen, itu baik. Jika sampai 90 % lebih, itu bagus sekali.

Apakah kualitas cairan tubuh mengindikasikan tingkat kesehatan kita? Kita coba bereksperimen.

IONIZER - Peserta pelatihan sedang menyiapkan tabung ionizer. (FOTO: V KIRJITO/KORAN BERNAS)IONIZER -- Peserta sedang menyiapkan tabung ionizer. (Foto: V. Kirjito/Koran Bernas).

Terasa Halus

Hasil survey awal, kualitas cairan tubuh para frater berkisar 55 sd 70 prosen. Mereka diminta sharing pengalaman kesehatan selama ini. Ternyata banyak keluhan. Umumnya, sulit konsentrasi saat kuliah berat atau membaca buku yang bermutu. Sebentar membaca, cepat lelah dan ngantuk, bahkan sulit mengerti isinya. Bangun pagi, masih tersisa rasa lungkrah, tidak semangat, ingin menambah tidur, malas untuk mandi. Lebih-lebih jika sehari sebelumnya berolah raga sepak bola, voley atau ke kerja fisik “ecology day” seharian. Pusing, batuk dan pilek hampir selalu dialami semua frater.

Kegiatan berikutnya praktik membuat ionizer sendiri. Macam-macam air diteliti dengan metode elektrolisa. Targetnya menghasilkan kualitas air yang mendekati darah sehat, PH 7.25- 7.35. Hanya butuh waktu 12 hingga 24 jam, air dengan PH di atas 8 sudah dihasilkan oleh mereka. 

Dengan antusias mereka mencoba minum. “Wah…terasa halus, sejuk,” komentrar spontan seorang frater. “Terasa mengalir cepat lewat tenggorokan,” timpal lainnya. Ada lagi yang mengatakan di lambung dan perut nyaman. Minum tiga gelas tidak merasa kembung. 

Semuanya senang meminum air hujan. Ada yang minum 8 gelas, ada yang 10 gelas dalam sehari. Maklum, daerah panas, suhu rata-rata 30-35 Celsius, tentu mudah haus. 

Meningkat signifikan

Survey minggu ke tiga, rata-rata kualitas cairan tubuh mereka 75 hingga 85 %. Bahkan ada yang 95 %. Ketika mereka diajak berbagi, muncul hal-hal berikut ini:

  • Urin, keringat, feses BAB, sangat berkurang baunya. Urin menjadi jernih dan lancar, lebih sering kencing. BAB lebih lancar tiap hari. Mulut tidak lagi menimbulkan bau. Problem bau badan (BB) mulai dijauhkan dari wewangian.
  • Bangun pagi terasa sangat fresh. Tidak lagi malas bangun. Segera mandi dan aktivitas pagi, meditasi, misa kudus, bacaan rohani, tanpa ngantuk lagi.
  • Daya tangkap dan konsentrasi diuji dengan dua cara. Pater Yan memberi kuliah berat, spiritualitas imam diosesan selama hampir 90 menit, dari pukul 15.00 hingga 16.30. “Hanya satu yang masih kelihatan ngantuk. Yang lain tampak lebih konsetrasi,” ungkap Pater Yan. Romo Cipto SJ, menguji dengan meditasi sadhana, pagi hari, pukul 06.00 – 07.00. Romo menyampaikan kata-kata pemandu yang harus dilakukan para frater sambil duduk tanpa bergeser. “Biasanya, 15 sampai 20 menit awal, kepala para frater mulai menunduk kiri kanan, alias ngantuk. Kali ini, sekitar 70% tidak ngantuk sampai selesai,” ungkap Romo Cip antusias.  “Ketika saya tanyakan apa saja yang saya katakan, para frater masih bisa mengulang dengan baik. Berarti mereka konsentrasi dengan sadar. Bagus…bagus,” kata Romo Cipto.

Emas di Langit

“Terbukti empirik, bahwa air hujan sangat bernilai,” kata Pater Yan. Berkat sentuhan sains eksperimental yang dilakukan sendiri, sebagaimana dipelajari para frater selama satu bulan ini. “Bukti empirik saya temukan. Bahwa kualitas air minum sangat berpengaruh pada kualitas darah,” lanjutnya.

Lalu, saya menjelaskan dengan sebuah perumpamaan. Ibarat kendaran bermotor, bahan bakar premium berbeda reaksi akselerasi dengan pertamax plus. Pertamax plus tidak menunggu, langsung terasa lebih agresif reaksi di putaran mesin dan tenaga. Demikian pula darah yang berkualitas secara biologis, langsung direspon oleh seluruh organ tubuh, terutama syaraf otak dan syaraf sensor-sensor tubuh. Demikian juga efek positifnya cepat dirasakan.

“Sekarang kami gembira dan bersyukur. Air Hujan itu air suci dari atas, dari Tuhan. Jika diolah secara inovatif, saintifik, terukur, akan meningkatkan kesehatan secara signifikan,” demikian kesimpulan Pater Yan.

Saya menimpali, kesehatan sangat berharga, melebihi nilai emas Freeport. Masyarakat Papua harus belajar menuai emas di langit sendiri untuk kekayaan dan kualitas kesehatan maupun kecerdasan masing-masing. Ini tugas dan panggilan mulia kalian para Frater. Generasi Muda Pasca Papua, begitu kata Romo Mangunwijaya dalam bukunya “Pasca Indonesia Pasca Einstein,” Kanisius, 1999. Proficiat Papua!

V. Kirjito,

Pemerhati budaya air hujan

Kontak: [email protected]

 

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 30 November 2018.

 

 

 

 



Sabtu, 01 Des 2018, 00:51:20 WIB Oleh : Rosihan Anwar 64 View
Bima Mengawali IBL Lewat Kemenangan Manis
Sabtu, 01 Des 2018, 00:51:20 WIB Oleh : Rosihan Anwar 59 View
Ini Cara KPU Sukseskan Pemilu
Sabtu, 01 Des 2018, 00:51:20 WIB Oleh : Nila Jalasutra 54 View
Guru pun Harus Belajar Pendidikan Karakter

Tuliskan Komentar