atas

Dongeng Tumpeng Raksasa ala GKR Hemas

Jumat, 23 Nov 2018 | 20:47:48 WIB, Dilihat 492 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Dongeng Tumpeng Raksasa ala GKR Hemas GKR Hemas membacakan dongeng Tumpeng Raksasa di depan anak-anak pada acara Awicarita Festival 2018 di Hutan Pinussari Mangunan Imogiri Bantul, Minggu (11/11/2018). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Steamboat Sehat di Grand Ambarrukmo Yogyakarta


KORANBERNAS.ID -- Ratusan anak-anak Sekolah Dasar (SD) duduk rapi menjuntaikan kaki di balok-balok batang pohon pinus yang tersusun menyerupai kursi, puluhan lainnya berkumpul lesehan mendekat di bibir panggung. Rumput basah dan tanah kuning yang lengket menebal di alas kaki tidak menyurutkan langkah mereka untuk datang sejak pukul 08:00. Ada yang datang berkelompok, didampingi orang tua bahkan kakek-nenek mereka.

Tanah yang curam di sisi barat hutan Pinussari ini sepertinya sengaja dipilih untuk tempat membangun panggung, layaknya Amphitheater megah di ruang pertunjukan tengah kota. Panggung terbuka seluas sepuluh meter berdiri di antara pohon pinus yang menjulang berlatar belakang pemandangan alami lekuk bukit Mangunan yang masih asri dan sejuk di mata.

"Sugeng enjang, selamat pagi anak-anak dan cucu-cucuku tersayang, sudah capek? Sudah lapar?" GKR Hemas menyapa anak-anak yang siap mendengarkannya membacakan dongeng.

"Sudaaaaah..." Pekik anak-anak serentak menyambut pertanyaan permaisuri Raja Keraton Yogyakarta tersebut.

Sembari tersenyum GKR Hemas melanjutkan perkataannya, "Ini Ibu-ibu, anak-anak sudah lapar... Karena sudah lapar, saya akan mendongeng tentang tumpeng raksasa."

Konon di sebuah desa, GKR Hemas memulai mendongeng, hiduplah seorang pembuat tumpeng ternama bernama Bu Tini. Tumpeng Bu Tini ini sangatlah enak hingga tersohor sampai ke telinga Pak Lurah, pemimpin desa setempat.

Suatu saat Pak Lurah meminta Bu Tini membuat tumpeng untuk acara syukuran desa. Tak tanggung-tanggung Pak Lurah meminta dibuatkan tumpeng raksasa setinggi dua meter. Mendengar permintaan tersebut Bu Tini menolak, karena merasa tidak sanggup memenuhi keinginannya.

“Tumpeng setinggi dua meter dikerjakan sendiri dalam waktu singkat tentu bukan kemampuanku,” gumam Bu Tini dalam hati.

"Ibu jangan menolak permintaan, jangan khawatir, orang desa akan membantu Ibu membuat tumpeng," kata Pak Lurah.

Akhirnya dengan bergotong-royong warga bahu-membahu membantu Bu Tini membuat tumpeng raksasa.

Hemas menekankan, inti dari apa yang dia sampaikan merupakan contoh saling berkerja sama, membantu dan memberikan manfaat bagi orang lain. Menurutnya, baik laki-laki maupun perempuan sudah seharusnya saling menolong. Tidak lagi dibeda-bedakan.

Destya, bocah kecil kelas empat Sekolah Dasar ini mengatakan dia akan meminta tolong temannya mengangkat barang-barang berat yang dia sendiri tidak mampu melakukannya.

Farel, teman sekelas Destya ini akan membantu jika mendapatkan imbalan dari teman yang dibantunya.

Penonton berebut menjabat tangan GKR Hemas saat hadir di acara Awicarita Festival 2018 di Hutan Pinussari Mangunan  Imogiri Bantul. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Mendengar jawaban bocah-bocah yang lugu Hemas sontak berujar "Waduh, Bapak-bapak, ini anak e kepiye? Bocah-bocah ini polos semua lho?".

"Luar biasa anak-anak sekarang, semoga anak-anak Indonesia semua maju, saya juga doakan supaya anak-anak yang hadir ini bisa pemimpin suatu saat nanti," tambahnya.

Siapa yang mau jadi Presiden? Tanya Hemas. melihat tidak satu pun yang mengangkat tangan Hemas bertanya lagi, siapa yang mau menjadi dokter? "Wah ternyata anak-anak ini nggak ada yang mau jadi presiden."

Menurut dia, anak-anak perlu pendidikan yang bukan berasal dari media televisi dan internet. Pendidikan sejatinya berawal dari rumah, dari orang tua masing-masing. “Jadi sempatkanlah untuk mengajak mereka bercerita dan mendongeng untuk mereka," tandasnya.

Selain menjadi salah satu pendongeng pada puncak acara Awicarita Festival (AWFEST), kehadiran GKR Hemas di Hutan Pinussari juga diikuti pemberian santunan kepada sepuluh lansia dan sepuluh anak yatim yang tinggal di desa sekitar. Santunan ini merupakan bentuk kepedulian sosial pengelola Hutan Pinussari terhadap warga sekitar.

Ketua panitia AWFEST 2018, Ayu Purbasari, mengatakan Awicarita Festival merupakan kegiatan tahun kedua yang digagas oleh Rumah Dongeng Mentari. Tujuannya untuk berbagi kebahagiaan, mempertemukan antara anak-anak dengan para pendongeng. Awicarita berasal dari bahasa sanksekerta yang berarti penutur atau pendongeng.

Fuadi Keulayu tampil mendongeng, merespons anak-anak dan memperagakan kantong plastik seolah-olah burung dan pohon dalam hikayat yang dia bawakan. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Menurutnya, mendongeng bisa menjadi hiburan alternatif yang sangat menarik dan bermanfaat bagi anak. "Kami meyakini dongeng adalah media yang menyenangkan, dan memberikan nilai ataupun pesan kebaikan, tanpa harus menggurui," tuturnya kepada koranbernas.id beberapa waktu lalu.

Puncak acara AWFEST 2018 berupa mendengarkan dongeng di alam terbuka oleh penutur-penutur terbaik. Acara berlangsung di Panggung Hutan Pinussari Mangunan Bantul.

Selama dua tahun, Pergelaran Dongeng Jogja menarik lebih dari 1.000 orang untuk datang dan lebih dari 300 anak muda tertarik menjadi relawan setiap tahunnya.

Selain GKR Hemas penutur terbaik lainnya adalah Rona Mentari, Aktris Meyda Sefira, Penghikayat muda Aceh Fuadi Keulayu, Mochamad Ariyo Faridh Zidni (Kak Aio), Giovanna Conforto (Itali), dan Richard Dian Villar (Filipina).

Penghikayat asal Aceh Fuadi Keulayu (32), sesaat sebelum tampil di atas panggung AWFEST menceritakan sedikit pengalamannya kepada Koran Bernas. Sejak 2006 dirinya sudah menekuni dunia mendongeng dan berhikayat.

"Awalnya sih nggak sengaja, saat diminta teman mengisi sebuah acara ulang tahun. naik ke panggung bermain biola, menyenandungkan syair lagu seperti gaya penghikayat, oleh teman-teman malah disuruh nerusin," ujar Fuadi.

Di Aceh masih banyak penghikayat, namun rata-rata ditekuni oleh orang yang sudah berumur. Bahkan penghikayat merupakan tontonan kesenian yang ditanggap untuk acara pernikahan atau ulang tahun.

Meski pernah tinggal menuntut ilmu di rumah Penghikayat ternama Pm Toh, Fuadi sendiri mengaku belum mampu benar-benar menjadi Penghikayat seperti para tetua di tanah kelahirannya.

"Hikayat di Aceh dibawakan dengan durasi yang sangat lama, bisa tujuh hari tujuh malam baru selesai. Cerita turun temurun dari tradisi Melayu, melenceng sedikit dari pakemnya penonton bubar," paparnya.

Fuadi menambahkan selain rima a-b a-b, membawakan Hikayat harus konsisten seperti pantun, cara menyenandungkannya pun harus dengan suara merdu.

“Saya memilih mengkombinasikan hikayat dengan dongeng populer saat ini, dengan demikian saya ingin hikayat lebih membumi di kalangan anak-anak muda," tuturnya.

Dia mengaku tidak pernah melakukan persiapan khusus untuk setiap tampilannya. Fuadi lebih nyaman dengan spontan merespon seting panggung dan penonton pada setiap tampilannya. (sol)

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 28, November 2018.



Jumat, 23 Nov 2018, 20:47:48 WIB Oleh : Sholihul Hadi 117 View
Steamboat Sehat di Grand Ambarrukmo Yogyakarta
Jumat, 23 Nov 2018, 20:47:48 WIB Oleh : Sholihul Hadi 86 View
Ora Perlu Kondang Sing Penting Tumandang..
Jumat, 23 Nov 2018, 20:47:48 WIB Oleh : Sholihul Hadi 177 View
Google Merenovasi Laman Jogja Belajar

Tuliskan Komentar